Sedekah Bumi Dermasuci: Merawat Syukur, Memperkokoh Guyub Ruh, dan Menjaga Harmoni Alam di Kaki Gunung Slamet

Selasa, 14 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tegal Jateng  || garudapost. Id

DERMASUCI, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal – Aroma dupa dan kemenyan bercampur dengan semilir angin pegunungan menyambut siapa pun yang memasuki halaman kantor pemerintahan Desa Dermasuci pada Minggu (12/7/2026). Sejak pukul 06.30 WIB, halaman seluas sekitar 500 meter persegi itu sudah dipadati oleh ratusan warga dari enam dusun. Mereka datang membawa nasi tumpeng, jajan pasar, dan aneka hasil bumi—bukan untuk diperjualbelikan, melainkan untuk dipersembahkan dalam ritual tahunan yang dikenal dengan nama Sedekah Bumi.

Di tengah gempuran modernisasi dan arus urbanisasi yang menggerus banyak tradisi pedesaan, Dermasuci justru berdiri teguh mempertahankan warisan leluhur ini. Bagi mereka, Sedekah Bumi bukanlah seremoni usang, melainkan nafas spiritual yang mengingatkan bahwa manusia, tanah, dan Tuhan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akar Sejarah: Dari Paceklik Menuju Kemakmuran

Menurut penuturan Mbah Kasto (82), sesepuh desa yang masih segar ingatannya, tradisi ini lahir dari kesulitan. “Dulu, sekitar tahun 1975, musim kemarau panjang melanda. Sawah kami retak-retak, padi gagal panen hampir tiga musim berturut-turut. Para petani lalu berkumpul di gubuk sawah, berdoa bersama, dan bernazar: jika tanah kembali subur, kami akan mengadakan selamatan besar setiap tahun,” kenangnya dengan suara lirih namun mantap.

Nazar itu mereka tepati. Setahun kemudian, hujan turun dengan teratur dan panen melimpah. Sejak saat itu, setiap bulan Muharam atau Sura (penanggalan Jawa), warga Dermasuci secara turun-temurun menyelenggarakan Sedekah Bumi. Kini, meski irigasi telah memadai dan teknologi pertanian semakin maju, esensi ritual itu tetap dipertahankan: rasa syukur tidak boleh mengenal kata usang.

Rangkaian Prosesi: Dari Kirab hingga Kenduri Raksasa

Kegiatan diawali dengan Kirab Budaya yang melewati jalur utama desa sepanjang 2,5 kilometer. Rombongan dikepalai oleh empat orang pembawa umbul-umbul dan gunungan raksasa setinggi hampir 2 meter. Gunungan itu terbuat dari rangkaian janur kuning yang diisi beragam hasil perkebunan dan pertanian: padi, jagung, singkong, ubi jalar, cabai, bawang, hingga pisang raja. Konon, bentuk meruncingnya gunungan adalah simbol doa yang menuju langit.

Di belakang gunungan, puluhan ibu-ibu mengenakan kebaya dan jarik batik Pangkahan—motif khas yang hanya ditemukan di wilayah ini—sambil memikul besek berisi nasi liwet dan lauk-pauk di atas kepala. Anak-anak sekolah dasar turut memeriahkan dengan kostum tokoh pewayangan dan tarian tradisional, menambah semarak kirab yang disambut sorak-sorai warga di sepanjang jalan.

Setelah kirab berakhir sekitar pukul 10.00 WIB, seluruh hasil bumi dikumpulkan di panggung utama. Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh Tokoh Agama Desa, Kiai Haji Ahmad Misbah, didampingi tiga orang modin kampung. Dalam doa yang khusyuk, mereka memohon agar desa dijauhkan dari bencana alam—khususnya longsor dan angin puting beliung yang kerap melanda lereng Gunung Slamet—serta diberikan kemudahan dalam segala usaha, tidak hanya pertanian tetapi juga perdagangan dan kerajinan rumahan yang mulai berkembang.

Puncaknya adalah prosesi Ngapati atau kenduri besar. Panitia menyiapkan 250 kotak nasi dan 80 porsi jajanan tradisional seperti apem, klepon, getuk, dan cenil. Setelah didoakan, semua makanan tersebut dibagikan secara merata kepada setiap kepala keluarga yang hadir. Uniknya, dalam tradisi ini, tidak ada tamu undangan khusus—semua orang berhak mendapat porsi yang sama, mencerminkan filosofi sama rasa, sama rata yang menjadi fondasi gotong royong di desa tersebut.

Antusiasme Warga dan Keterlibatan Generasi Muda

Ibu Siti Rohmah (38), petani milenial yang mengelola lahan seluas 1,2 hektar, mengaku merasa sangat terhubung dengan alam melalui acara ini. “Saya lulusan SMK pertanian, saya paham soal pupuk organik dan irigasi tetes. Tapi Sedekah Bumi mengajarkan bahwa keberhasilan panen tidak hanya soal teknis, tapi juga soal berkah. Tahun ini hasil padi saya 8 ton per hektar—itu di atas rata-rata—dan saya yakin sebagiannya karena doa bersama warga,” tuturnya sambil tersenyum.

Yang menarik perhatian adalah keterlibatan aktif generasi muda. Dari 45 orang panitia, 28 di antaranya berusia 17–25 tahun. Mereka bertugas sebagai koordinator logistik, dokumentasi, hingga pengelolaan media sosial desa. Salah satu pemuda bernama Rizki Fadillah (22), mahasiswa semester akhir di Semarang, sengaja pulang kampung untuk ikut mengurus acara.

“Saya tidak mau tradisi ini hilang seperti di desa tetangga. Lewat media sosial, saya dan teman-teman membuat konten edukasi tentang makna Sedekah Bumi. Alhamdulillah, tahun ini banyak anak muda yang antusias. Bahkan ada yang bikin kaos komunitas bertuliskan ‘Dermasuci Berkah’,” ujarnya bersemangat.

Makna Filosofis dan Ekologis di Balik Ritual

Menurut Dr. Lestari Mulyani, antropolog dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang secara khusus meneliti tradisi agraris di Pantai Utara Jawa Tengah, Sedekah Bumi di Dermasuci memiliki tiga lapis makna penting.

Pertama, secara spiritual, ini adalah bentuk pengakuan bahwa kekayaan alam bukan milik manusia semata, melainkan titipan yang harus dijaga. Kedua, secara sosial, acara ini berfungsi sebagai ritual integratif yang menyatukan seluruh elemen masyarakat, tanpa memandang status ekonomi atau pendidikan. Ketiga, secara ekologis, tradisi ini mengajarkan prinsip keberlanjutan: jika manusia memberi kembali kepada alam (melalui doa dan perawatan lahan), alam akan membalas dengan kelimpahan.

“Yang menarik, dalam pantauan saya selama tiga tahun terakhir, desa-desa yang masih rutin menggelar Sedekah Bumi cenderung memiliki tingkat kerusakan lingkungan yang lebih rendah. Bukan karena ritualnya sakti, tapi karena ada kesadaran kolektif untuk menjaga alam. Ini modal sosial yang sangat kuat,” papar Dr. Lestari di sela-sela diskusi usai acara.

Dukungan Pemerintah dan Keamanan yang Kondusif

Kepala Desa Dermasuci, Bapak Slamet Riyadi, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung kelancaran acara. “Kami mengucapkan syukur, kegiatan berjalan aman dan tertib. Terima kasih kepada Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang telah mengamankan jalur kirab, serta kepada Puskesmas Kecamatan Pangkah yang menyediakan posko kesehatan gratis untuk warga lanjut usia,” ujarnya di atas panggung utama.

Ia juga mengumumkan bahwa tahun depan, pemerintah desa akan mengalokasikan anggaran khusus melalui Dana Desa untuk memperbesar skala Sedekah Bumi. “Kami ingin mengundang perwakilan desa-desa tetangga agar tradisi ini tidak hanya menjadi milik Dermasuci, tetapi juga menginspirasi seluruh Kecamatan Pangkah,” tandasnya, disambut tepuk tangan meriah.

Puncak Acara dan Harapan ke Depan

Acara resmi ditutup dengan pembagian berkat dan pertunjukan Wayang Kulit semalam suntuk yang digelar di pendopo balai desa. Dalang yang didatangkan dari Pemalang, Ki Warsito Suryodipuro, membawakan lakon Bima Suci—cerita tentang pencarian jati diri dan pengendalian hawa nafsu—yang dinilai sangat relevan dengan pesan Sedekah Bumi.

Hingga larut malam, halaman balai desa masih dipenuhi warga yang duduk lesehan menikmati alunan gamelan. Deretan lampu gantung dan obor menerangi wajah-wajah yang tampak tenang, bahagia, dan penuh harap.

Sampai berita ini diturunkan, tidak ada laporan kejadian luar biasa. Seluruh prosesi berlangsung lancar, cuaca cerah, dan semangat kebersamaan terlihat nyata di setiap sudut.

Penutup: Tradisi yang Terus Berdenyut

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan dan derasnya arus informasi global, Desa Dermasuci dengan teguh membuktikan bahwa kearifan lokal bukanlah penghalang kemajuan, melainkan fondasi untuk melangkah ke depan dengan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur.

Sedekah Bumi tahun ini mungkin akan usai, tetapi semangatnya akan terus hidup dalam keseharian warga: ketika seorang petani menanam benih dengan doa, ketika seorang ibu memasak nasi untuk tetangga, atau ketika seorang anak kecil membantu orang tuanya di sawah. Itulah Dermasuci—desa kecil yang mengajarkan bahwa bersyukur adalah seni, dan berbagi adalah ibadah.

Facebook Comments Box

Penulis : M. Ali

Editor : Red jateng

Berita Terkait

Bangun Generasi Cerdas Digital, Sihumas Polres Badung Edukasi Pelajar di Masa MPLS
CASMURTI DAN SUGIARTI UNGGUL DI AJANG PILIHAN BPD DESA TANJUNG HARJA KABUPATEN TEGAL.
Kabag SDM Polres Klungkung Monitoring Pelayanan SPKT
Kapolresta Denpasar Tegaskan Tidak Ada Perampasan Telepon Genggam, Luruskan Informasi Video Viral di Polsek Kuta
Strong Point Pagi Hari, Polsek Pupuan Hadir Wujudkan Kelancaran Arus Lalu Lintas dan Kamtibmas Kondusif
Jaga Kondusifitas, Bhabinkamtibmas Desa Kerambitan Amankan Kegiatan Senam Lansia se-Kecamatan Kerambitan
Antisipasi Kriminalitas pada Obyek Vital Siang Hari, Polsek Kerambitan Optimalkan Kegiatan Patroli Harkamtibmas
Police Goes To School” Safety Riding Sat Lantas Polres Karangasem di TK Negeri Pembina Karangasem
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:04

Bangun Generasi Cerdas Digital, Sihumas Polres Badung Edukasi Pelajar di Masa MPLS

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:43

CASMURTI DAN SUGIARTI UNGGUL DI AJANG PILIHAN BPD DESA TANJUNG HARJA KABUPATEN TEGAL.

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:54

Kabag SDM Polres Klungkung Monitoring Pelayanan SPKT

Selasa, 14 Juli 2026 - 07:03

Sedekah Bumi Dermasuci: Merawat Syukur, Memperkokoh Guyub Ruh, dan Menjaga Harmoni Alam di Kaki Gunung Slamet

Senin, 13 Juli 2026 - 21:36

Kapolresta Denpasar Tegaskan Tidak Ada Perampasan Telepon Genggam, Luruskan Informasi Video Viral di Polsek Kuta

Berita Terbaru

Uncategorized

Kabag SDM Polres Klungkung Monitoring Pelayanan SPKT

Selasa, 14 Jul 2026 - 10:54