WAMENA, Garudapost.id—Perjalanan panjang dan penuh perjuangan mengantarkan Del Hilapok meraih gelar Sarjana Sosial (S.Sos) setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Arastamar Wamena.
Del Hilapok diwisuda pada Sabtu (26/9/2026). Di balik pencapaian tersebut, tersimpan kisah perjuangan panjang yang dimulai sejak dirinya menyelesaikan pendidikan di SMK Yasores Wamena pada 2018.
Setelah lulus SMK, Del sebenarnya memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, keterbatasan ekonomi membuat rencana tersebut belum dapat diwujudkan.
Ia kemudian memilih bekerja sebagai operator sensor untuk mengumpulkan biaya agar odapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Setelah lulus SMK Yasores Wamena tahun 2018, saya ingin melanjutkan kuliah. Namun, karena tidak memiliki biaya, saya memilih bekerja sebagai operator sensor,” tutur Del.
Selain bekerja sebagai operator, Del juga menjalani pekerjaan membelah kayu. Penghasilan yang diperoleh sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk membiayai pendaftaran dan kebutuhan kuliah.
Setelah akhirnya dapat melanjutkan pendidikan, perjuangan Del tidak berhenti. Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, ia tetap menyisihkan waktu saat libur untuk bekerja membelah kayu.
“Kalau sedang libur kuliah, saya sisihkan waktu untuk membelah kayu. Dari hasil itu saya kumpulkan untuk membantu membiayai kuliah,” katanya.
Perlahan, Del kemudian membangun sebuah kios kecil di kampung. Dari usaha tersebut, ia mendapatkan tambahan pemasukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan sekaligus membantu membiayai kebutuhan adik-adiknya.
“Setelah itu saya membuat kios kecil di kampung. Dari sedikit pemasukan yang ada, saya gunakan untuk membiayai kuliah dan juga membantu adik-adik saya,” ujarnya.
Di tengah perjuangannya menyelesaikan pendidikan, Del juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Ia bergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jayawijaya.
Menurutnya, pengalaman berorganisasi menjadi bagian penting dalam proses pembentukan dirinya selama menjalani pendidikan.
Di penghujung masa perkuliahan, Del kembali menghadapi tantangan. Ia dipercaya oleh rekan-rekannya di PMKRI Cabang Jayawijaya sebagai Sekretaris Panitia Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) dan Masa Bimbingan (MABIM).
Pada saat yang bersamaan, ia juga sedang mempersiapkan proses wisuda. Bahkan, proses yudisium yang menjadi salah satu tahapan akademiknya berlangsung bertepatan dengan rangkaian persiapan kegiatan organisasi.
Namun, tantangan yang dihadapinya kemudian menjadi lebih berat. Sehari setelah pembukaan kegiatan MPAB dan MABIM, Del harus menerima kabar duka karena orang tuanya telah meninggal dunia.
Situasi tersebut menjadi salah satu fase paling berat dalam perjalanan hidupnya. Di tengah pencapaian akademik dan tanggung jawab organisasi, ia harus menghadapi kehilangan orang yang sangat berarti dalam kehidupannya.
Meski demikian, Del memilih menjadikan pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses pendewasaan diri.
“Saya berkomitmen bahwa semakin banyak tantangan yang saya hadapi, saya harus semakin dewasa dan kuat untuk ke depannya. Saya belajar dari semua pengalaman tersebut,” ungkapnya.
Kini, gelar S.Sos yang diraihnya menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak menghentikan langkahnya untuk memperoleh pendidikan tinggi.
Perjalanan Del dari seorang lulusan SMK yang bekerja membelah kayu, membangun usaha kecil, membantu keluarga, aktif berorganisasi, hingga akhirnya menyandang gelar sarjana menjadi bagian dari kisah perjuangan seorang anak muda Papua Pegunungan dalam mengejar pendidikan.
Bagi Del, keberhasilan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi pelajaran bahwa perjuangan, ketekunan, dan keberanian menghadapi tantangan dapat menjadi jalan untuk terus melangkah maju.(*)
Penulis : Julianus surabut
Editor : Admin
Sumber Berita: https//:Garudapost.id

























