MANOKWARI, Garudapost.id—Pengelolaan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mulai diarahkan tidak hanya pada pemadaman, tetapi juga mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, deteksi dini, rehabilitasi, restorasi, tata kelola, serta keterlibatan masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus dalam International Webinar bertajuk “Connecting Disaster Risk Reduction and Sustainable Development through Integrated Fire Management” yang digelar secara hibrida pada Rabu, 30 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Universitas Papua (UNIPA) tersebut mempertemukan akademisi, pemerintah, peneliti, serta berbagai pemangku kepentingan dari Indonesia dan Australia.
Webinar diselenggarakan oleh Indonesian Climate Change and Forestry Experts Network (APIKI) dengan Fakultas Kehutanan UNIPA sebagai tuan rumah. Kegiatan tersebut didukung DIPI–Indonesia Science Funds dan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC UI), serta melibatkan Charles Darwin University (CDU), Australia, sebagai mitra pengetahuan internasional.
Persoalan kebakaran dalam forum tersebut ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, kesehatan masyarakat, mata pencaharian, ketahanan pangan, hingga keberlanjutan lanskap.
Salah satu pokok pembahasan adalah konsep Integrated Fire Management (IFM) atau pengelolaan kebakaran terpadu. Pendekatan ini mengintegrasikan pencegahan, kesiapsiagaan, pemadaman, rehabilitasi, restorasi ekologi, tata kelola, serta keterlibatan masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, pengelolaan kebakaran dipandang membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, ilmuwan, masyarakat, dan berbagai sektor terkait.
Dari Indonesia, forum menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc., Direktur Mitigasi Kebakaran Hutan; Novia Widyaningtyas, S.Hut., M.Sc., Expert Staff to the Minister of Forestry; Prof. Drs. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D., Executive Director DIPI; serta Prof. Dr. Elieser Y.I.V. Sirami, S.Hut., M.Sc., Dekan Fakultas Kehutanan UNIPA.
Sementara dari Australia dan mitra internasional, hadir sejumlah akademisi dan peneliti, termasuk Prof. Kamaljit K. Sangha, Prof. Dr. Jeremy Russell-Smith, dan Prof. Sam Banks dari Charles Darwin University.
Pembahasan juga melibatkan Prof. Yuli Rahmawati serta Bagus Hendraning Kobarsih, bersama sejumlah pembicara dari Papua dan wilayah Indonesia lainnya.
Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah pentingnya mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan masyarakat adat. Pengalaman Australia Utara menjadi salah satu bahan pembelajaran, khususnya terkait pengelolaan pembakaran terkendali, konservasi keanekaragaman hayati, pengurangan emisi, serta keterkaitannya dengan penghidupan masyarakat adat.
Forum yang dimoderatori Dr. Mochamad Indrawan dari RCCC UI tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan keluaran yang dapat ditindaklanjuti.
Penyelenggara menargetkan penyusunan policy brief dan synthesis paper yang mencakup sejumlah isu, antara lain pengelolaan kebakaran berbasis masyarakat, fire-smart agriculture, tata kelola kebakaran berbasis pengetahuan masyarakat adat, sistem peringatan dini, penghidupan berkelanjutan, restorasi lanskap, kerja sama kelembagaan, adaptasi perubahan iklim, pembiayaan karbon, serta pengurangan risiko bencana dalam perencanaan pembangunan daerah.
Dalam forum tersebut, Prof. Jatna Supriatna menyampaikan bahwa Integrated Fire Management membuka cara pandang terhadap kebakaran sebagai persoalan sosial-ekologis yang membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan, kelembagaan, dan penghidupan berkelanjutan.
Sementara itu, Dr. Hendri dari Universitas Papua menyampaikan bahwa tujuan akhirnya adalah membantu mengembangkan kebijakan pengelolaan kebakaran yang lebih tangguh dan responsif, sekaligus mendukung tata kelola lanskap berkelanjutan dan ketahanan iklim di Indonesia serta kawasan Indo-Pasifik.
Selain membahas pengelolaan kebakaran, forum tersebut juga diarahkan untuk memperkuat hubungan Indonesia–Australia melalui kolaborasi penelitian, pendidikan, pertukaran pengetahuan, dialog kebijakan, peningkatan kapasitas, peluang pendanaan riset, serta kegiatan lapangan.
Penyelenggara berharap hasil pembahasan tidak berhenti pada forum akademik, tetapi dapat berkembang menjadi kerja sama penelitian dan kebijakan yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat lokal dan masyarakat adat, serta mitra internasional dalam membangun ketahanan terhadap risiko kebakaran dan perubahan iklim.(*)
Penulis : Dominikus Lokobal
Editor : Julianus Sorabut
Sumber Berita: https//:Garudapost.id



















