Empat Hari di Gereja GIDI Misia, Mahasiswa Yahukimo Bongkar Posko dan Kembali ke Kontrakan

Jumat, 9 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

garudapost.id MANOKWARI, PAPUA BARAT Setelah empat hari bertahan di lingkungan Gereja GIDI Misia, Amban, Manokwari, mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo pada Rabu (7/10/2026) secara resmi membongkar posko dan kembali ke tempat kontrakan mereka.

Pembongkaran posko menjadi penanda berakhirnya masa pengungsian sementara sejak mahasiswa meninggalkan tempat tinggal pada Sabtu (3/10/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Korwil Yahukimo, Ima Siep, menjelaskan bahwa mahasiswa meninggalkan kontrakan karena persoalan pembayaran sewa yang disebut belum diselesaikan selama sekitar satu tahun tiga bulan.

“Kami sejak tanggal tiga kemarin dikeluarkan karena kontrakan belum dibayar selama satu tahun tiga bulan. Bapak gembala sudah menerima kami tinggal selama empat hari,” kata Ima dalam penyampaian sebelum pembongkaran posko.

Selama berada di gereja, mahasiswa bertahan dengan kondisi fasilitas yang terbatas. Mereka tidak memiliki tempat tidur dan perlengkapan yang memadai seperti ketika tinggal di kontrakan.

Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung tanpa dukungan. Sejumlah pihak datang memberikan bantuan berupa uang, bahan makanan dan kebutuhan lainnya untuk membantu mahasiswa selama berada di lokasi.

Bantuan Rp200 Juta dan Rp100 Juta Membuka Jalan Pulang

Ima menyampaikan bahwa mahasiswa dapat kembali ke kontrakan setelah memperoleh bantuan dari sejumlah pihak.

Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol yang memberikan bantuan sebesar Rp200 juta untuk membantu pembayaran kontrakan.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan yang memberikan bantuan Rp100 juta beserta bahan makanan kepada mahasiswa Yahukimo.

“Terima kasih kepada Bapak Wakil Gubernur, orang tua kami, Bapak Ones, yang membantu kami dengan jumlah uang Rp200 juta untuk pembayaran kontrakan. Kami juga berterima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat, Bapak Dominggus Mandacan, yang membantu kami dengan jumlah Rp100 juta dan sembako,” ujar Ima.

Dengan adanya bantuan tersebut, mahasiswa menyatakan akan kembali ke kontrakan dan melanjutkan aktivitas pendidikan mereka.

Bagi mahasiswa, kepulangan tersebut bukan sekadar berpindah tempat. Setelah empat hari hidup dalam kondisi tidak pasti, mereka kembali memiliki ruang untuk menjalani aktivitas perkuliahan dan kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Pembina Yahukimo, Nonik Pahabol, yang juga menjadi bagian dari pelayanan di gereja, menceritakan kondisi mahasiswa ketika pertama kali datang.

Menurut Nonik, pihak gereja sebenarnya menghadapi keterbatasan karena tidak memiliki persiapan tempat tidur, kasur maupun perlengkapan yang cukup untuk menampung mahasiswa.

Namun, melihat mahasiswa datang dalam kondisi membutuhkan tempat berlindung, pihak gereja akhirnya menerima mereka.

“Awalnya saya berpikir ketika mereka datang ke gereja, saya juga sangat berat untuk menerima karena tidak ada tempat tidur, kasur maupun perlengkapan. Tetapi saya menerima mereka dengan penuh sukacita dan doa,” ujar Nonik.

Selama empat hari, mahasiswa bertahan dalam kondisi seadanya. Mereka harus menghadapi dingin dan nyamuk pada malam hari, tetapi tetap bertahan bersama hingga persoalan tempat tinggal mulai menemukan jalan keluar.

Bagi Nonik, penerimaan mahasiswa tersebut merupakan bagian dari pelayanan kemanusiaan.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol dan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan yang telah memberikan bantuan.

Nonik turut mengapresiasi pihak-pihak lain yang membantu mahasiswa selama berada di lingkungan gereja, termasuk Lazarus Sendok sebagai pemilik rumah yang disebut hadir dalam proses tersebut serta pihak lainnya yang memberikan bantuan.

Gereja Menjadi Tempat Bertahan Saat Mahasiswa Kehilangan Tempat Tinggal

Selama empat hari, lingkungan Gereja GIDI Misia menjadi tempat mahasiswa bertahan setelah mereka meninggalkan kontrakan.

Bagi mahasiswa, gereja bukan hanya menjadi tempat untuk berteduh, tetapi juga menjadi ruang aman ketika mereka tidak lagi memiliki kepastian tempat tinggal.

Karena itu, sebelum meninggalkan lokasi, mahasiswa menyampaikan terima kasih kepada gembala, majelis dan seluruh jemaat Gereja GIDI Misia yang telah menerima mereka.

Ucapan tersebut menjadi bagian dari pembongkaran posko yang dilakukan pada 7 Oktober.

Posko yang sebelumnya menjadi tempat berkumpul dan bertahan mahasiswa kemudian dibongkar setelah mereka memperoleh kesempatan untuk kembali ke kontrakan.

Kepulangan Bukan Berarti Persoalan Selesai

Meski mahasiswa telah kembali ke kontrakan, persoalan yang mereka alami belum sepenuhnya selesai.

Dalam penyampaian sebelum pembongkaran posko, mahasiswa mengakui bahwa komunikasi dengan pemerintah terkait persoalan mereka masih menjadi perhatian.

“Kemudian untuk jalur komunikasi kami dengan pemerintah sampai saat ini belum ada. Kami berharap dalam waktu dekat bisa ada respons,” demikian disampaikan dalam pertemuan tersebut.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan telah membantu menyelesaikan kebutuhan mendesak, tetapi mahasiswa masih mengharapkan adanya komunikasi dan perhatian pemerintah yang lebih berkelanjutan.

Sebab, persoalan kontrakan yang terjadi kali ini memperlihatkan kerentanan mahasiswa yang menempuh pendidikan jauh dari Kabupaten Yahukimo.

Dorongan Asrama Permanen

Pengalaman empat hari di gereja juga kembali memperkuat kebutuhan akan solusi hunian jangka panjang bagi mahasiswa Yahukimo di Manokwari.

Sebelumnya, muncul dorongan agar pemerintah menyediakan lahan dan membangun asrama permanen mahasiswa Yahukimo.

Keberadaan asrama permanen dinilai dapat menjadi solusi agar mahasiswa tidak terus bergantung pada kontrakan dan menghadapi risiko persoalan serupa di kemudian hari.

Asrama tersebut juga dapat dikembangkan sebagai tempat tinggal, ruang belajar, pusat pembinaan dan wadah memperkuat kebersamaan mahasiswa Yahukimo di Kota Studi Manokwari.

Kini, tenda dan posko telah dibongkar. Mahasiswa meninggalkan Gereja GIDI Misia dan kembali ke kontrakan.

Empat hari di gereja menjadi bagian penting dari perjalanan mereka—dimulai dari kehilangan tempat tinggal, bertahan dalam keterbatasan, menerima bantuan dari berbagai pihak, hingga akhirnya dapat kembali melanjutkan kehidupan sebagai mahasiswa.

Namun, di balik kepulangan itu masih tersisa pekerjaan yang lebih besar: memastikan mahasiswa Yahukimo memiliki tempat tinggal yang layak, komunikasi yang jelas dengan pemerintah, serta jaminan agar persoalan serupa tidak kembali mengganggu pendidikan mereka.

Penulis: Domlok

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Kepala K2BPT Apner Itlay Ucapkan Terima Kasih kepada Gubernur Papua Barat
DPD KP2IT Papua Barat, Pilatus Langowan Sampaikan Terima Kasih kepada Gubernur atas Bantuan untuk Mahasiswa Yahukimo
Mandacan dan Pahabol Turun Tangan, Mahasiswa Yahukimo Kembali ke Kontrakan
Gubernur Papua Barat Turun Tangan Bantu Mahasiswa Yahukimo, Pembina Minta Tanah untuk Asrama Permanen
Imunisasi Campak di Manokwari Capai 46,2 Persen, Mince Wilil Apresiasi Puskesmas Masni dan Sowi IV
Mahasiswa Yahukimo di Manokwari Dijadwalkan Kembali ke Kontrakan 7 Oktober
Mahasiswa Kehutanan UNIPA Bentuk Himaku, Perkuat Soliditas dan Kepemimpinan
 Puskesmas Mokwam Siapkan ORI Campak Rubella, Petugas Siap Jemput Bola
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:48

Kepala K2BPT Apner Itlay Ucapkan Terima Kasih kepada Gubernur Papua Barat

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:44

DPD KP2IT Papua Barat, Pilatus Langowan Sampaikan Terima Kasih kepada Gubernur atas Bantuan untuk Mahasiswa Yahukimo

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:39

Empat Hari di Gereja GIDI Misia, Mahasiswa Yahukimo Bongkar Posko dan Kembali ke Kontrakan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:33

Mandacan dan Pahabol Turun Tangan, Mahasiswa Yahukimo Kembali ke Kontrakan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:48

Gubernur Papua Barat Turun Tangan Bantu Mahasiswa Yahukimo, Pembina Minta Tanah untuk Asrama Permanen

Berita Terbaru