
garudapost.id MANOKWARI, PAPUA BARAT Kepala Kerukunan Keluarga Besar Pegunungan Tengah (K2BPT) Provinsi Papua Barat, Apner Itlay, menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan, M.Si., atas kepedulian dan bantuan yang diberikan kepada mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo yang sedang menghadapi persoalan tempat tinggal di Kota Studi Manokwari.
Apner mengatakan bantuan Gubernur Papua Barat berupa Rp100 juta dan 50 paket bahan makanan (bama) merupakan bentuk perhatian yang sangat berarti bagi mahasiswa Yahukimo yang sebelumnya sempat meninggalkan tempat kontrakan dan bertahan sementara di lingkungan Gereja GIDI Misia, Amban.
Menurut Apner, kehadiran Gubernur di tengah mahasiswa menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi generasi muda Papua mendapat perhatian dari pemerintah.
Ia menilai bantuan tersebut bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar mahasiswa, tetapi juga memberikan dukungan moral kepada mereka yang sedang berada dalam kondisi sulit.
“Atas nama Kerukunan Keluarga Besar Pegunungan Tengah Provinsi Papua Barat, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, yang telah memberikan perhatian kepada mahasiswa Yahukimo,” ujar Apner.
Apner juga menyampaikan apresiasi atas bantuan bahan makanan yang diberikan kepada mahasiswa. Bantuan tersebut dinilai membantu memenuhi kebutuhan konsumsi mahasiswa selama berada dalam kondisi sementara.
Menurutnya, mahasiswa merupakan generasi yang sedang mempersiapkan diri melalui pendidikan sehingga persoalan tempat tinggal jangan sampai mengganggu proses perkuliahan.
Karena itu, Apner berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada bantuan darurat. Ia mendorong agar ke depan terdapat solusi yang lebih permanen bagi mahasiswa Pegunungan Tengah yang menempuh pendidikan di Manokwari.
Salah satu yang perlu dibicarakan, kata dia, adalah penyediaan tanah untuk pembangunan asrama mahasiswa Yahukimo.
“Harapan kami ke depan ada solusi permanen. Mahasiswa membutuhkan tempat tinggal yang layak agar mereka bisa fokus kuliah dan menyelesaikan pendidikan,” katanya.
Apner menilai pembangunan asrama bukan sekadar menyediakan bangunan untuk tempat tidur mahasiswa. Asrama dapat menjadi tempat pembinaan, ruang belajar bersama dan wadah untuk memperkuat kebersamaan mahasiswa asal Pegunungan Tengah.
Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah membantu mahasiswa Yahukimo selama menghadapi persoalan tempat tinggal, termasuk pemerintah dan masyarakat yang memberikan dukungan selama mahasiswa berada di lingkungan Gereja GIDI Misia.
Menurut Apner, persoalan yang terjadi menjadi pelajaran bahwa kebutuhan hunian mahasiswa di kota studi perlu dipikirkan secara berkelanjutan.
Ia berharap perhatian yang telah diberikan Gubernur Papua Barat dapat menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas dalam mendukung mahasiswa Pegunungan Tengah di Manokwari.
“Terima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat atas kepedulian dan bantuannya. Kami berharap perhatian seperti ini terus menjadi kekuatan bagi anak-anak kami untuk tetap berjuang menyelesaikan pendidikan,” tutup Apner.
Penulis: Domlok


















