MANOKWARI, Garudapost.id— Persoalan tempat tinggal mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo di Kota Studi Manokwari mulai menemukan titik terang.
Setelah beberapa hari mengungsi di Gereja GIDI Misia akibat persoalan pembayaran kontrakan, mahasiswa dijadwalkan kembali menempati tempat tinggal mereka pada (7/ Oktober/ 2026).
Kepastian tersebut menyusul respons Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol, yang memberikan bantuan sebesar Rp200 juta untuk membantu penyelesaian persoalan tempat tinggal dan kebutuhan mahasiswa Yahukimo di Manokwari.
Sebelumnya, mahasiswa meninggalkan kontrakan pada 3 Oktober 2026 karena persoalan pembayaran yang disebut belum terselesaikan selama sekitar satu tahun tiga bulan. Kondisi tersebut turut berdampak pada kebutuhan listrik, makanan, serta fasilitas pendukung perkuliahan.
Ketua Koordinator Wilayah (Korwil) Mahasiswa Yahukimo di Kota Studi Manokwari, Iman Siep, menjelaskan bahwa sebelumnya kebutuhan mahasiswa, termasuk tempat tinggal dan biaya hidup, mendapat dukungan sebagaimana mestinya.
Namun, menurut Iman, pembayaran kontrakan kemudian mengalami kendala hingga berlangsung sekitar satu tahun tiga bulan.
“Selama satu tahun tiga bulan tidak dibayar sampai detik ini,” kata Iman.
Berdasarkan keterangan mahasiswa, nilai kontrakan mencapai sekitar Rp95 juta per tahun. Persoalan tersebut kemudian membuat mahasiswa harus meninggalkan tempat tinggal dan mengungsi sementara di Gereja GIDI Misia.
Meski kehilangan tempat tinggal, mahasiswa tetap berupaya menjalankan aktivitas perkuliahan.
Iman mengatakan mahasiswa harus bertahan dengan fasilitas seadanya selama berada di tempat pengungsian. Sebagian mahasiswa tidur di lantai, kursi, maupun menggunakan karpet.
“Kami tidur di kursi, di lantai, pakai karpet. Tetapi teman-teman tetap kuliah karena tujuan kami datang ke Manokwari untuk kuliah,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat mahasiswa harus membagi perhatian antara menjalankan kewajiban akademik dan memenuhi kebutuhan dasar selama berada di pengungsian.
Ketua Kontrakan Mahasiswa Yahukimo, Marzuki Nangalim, mengatakan persoalan tempat tinggal turut berdampak pada kebutuhan listrik dan fasilitas mahasiswa lainnya.
Menurut Marzuki, mahasiswa bahkan harus mengumpulkan uang secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan listrik.
“Kadang kami kumpul Rp1.000, Rp2.000 untuk bayar listrik,” katanya.
Ia menyebut jumlah mahasiswa yang berkaitan dengan kontrakan tersebut mencapai lebih dari 80 orang. Selain itu, terdapat sekitar 16 mahasiswa baru yang juga membutuhkan tempat tinggal.
Dalam kondisi tertentu, satu kamar harus ditempati sekitar lima mahasiswa. Keterbatasan ruang tersebut membuat mahasiswa kesulitan memperoleh tempat tinggal sekaligus ruang belajar yang memadai.
Sebagian mahasiswa juga disebut terpaksa mencari tempat tinggal sementara di lokasi lain, termasuk gubuk maupun asrama mahasiswa.
Selain persoalan tempat tinggal dan listrik, kebutuhan makan dan minum menjadi persoalan lain yang dihadapi mahasiswa.
Marzuki mengatakan mahasiswa berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mengumpulkan uang secara bersama-sama. Dalam kondisi tertentu, sebagian mahasiswa juga mencari pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup.
Selama berada di tempat pengungsian, sejumlah pihak turut memberikan bantuan berupa makanan dan kebutuhan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol merespons persoalan yang dihadapi mahasiswa Yahukimo di Manokwari.
Ones memberikan bantuan sebesar Rp200 juta untuk membantu penyelesaian kebutuhan mahasiswa, khususnya terkait persoalan tempat tinggal.
Bantuan tersebut menjadi salah satu langkah dalam proses penyelesaian sehingga mahasiswa dapat kembali menempati kontrakan.
Selain bantuan dari Ones Pahabol, mahasiswa juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak, termasuk senior, lembaga, mahasiswa, dan masyarakat.
Setelah proses penyelesaian dilakukan, pemilik kontrakan, Lasarus Indou. disebut menerima kembali mahasiswa Yahukimo untuk menempati tempat tinggal mereka.
Mahasiswa dijadwalkan kembali ke kontrakan pada 7 Oktober 2026.
Lasarus juga disebut memberikan dukungan terhadap kebutuhan mahasiswa setelah kembali ke kontrakan, termasuk membantu kebutuhan makan bersama. Dukungan tersebut antara lain berupa tiga ekor babi untuk kebutuhan konsumsi mahasiswa.
Meski persoalan kontrakan mulai menemukan jalan keluar, mahasiswa berharap pemerintah tidak berhenti pada penyelesaian sementara.
Ketua Korwil Mahasiswa Yahukimo, Iman Siep, meminta pemerintah mempertimbangkan pembangunan asrama permanen mahasiswa Yahukimo di Kota Studi Manokwari.
Menurutnya, asrama permanen diperlukan untuk memberikan kepastian tempat tinggal bagi mahasiswa Yahukimo yang datang dari berbagai wilayah untuk menempuh pendidikan di Manokwari.
Harapan serupa disampaikan Marzuki Nangalim. Menurutnya, jumlah mahasiswa Yahukimo yang terus bertambah membuat keberadaan kontrakan belum menjadi solusi jangka panjang.
“Harapan saya pemerintah bisa bangun asrama permanen,” ujarnya.
Pemilik kontrakan, Lasarus Indou, juga meminta adanya sinergi antara pemerintah di Papua Pegunungan dan Papua Barat dalam menangani kebutuhan mahasiswa.
Menurut Lasarus, mahasiswa merupakan generasi yang nantinya diharapkan kembali membangun daerah.
“Kami orang tua harus bersatu untuk mengurus adik-adik. Mereka harus tenang untuk belajar,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Ones Pahabol dan pihak lain yang telah merespons kondisi mahasiswa Yahukimo di Manokwari.
Di sisi lain, mahasiswa masih berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo, untuk memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Iman mengatakan mahasiswa membutuhkan kepastian dukungan, terutama dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal dan biaya hidup selama menempuh pendidikan di luar daerah.
Mahasiswa juga berharap setiap pertemuan dengan pemerintah tidak berhenti pada pembahasan, tetapi menghasilkan solusi yang jelas dan berkelanjutan.
Persoalan yang dialami mahasiswa Yahukimo menunjukkan bahwa kebutuhan mahasiswa di kota studi tidak hanya berkaitan dengan pembayaran kontrakan.
Tempat tinggal, listrik, makanan, fasilitas belajar, serta kepastian pembiayaan merupakan bagian yang saling berkaitan dengan keberlangsungan pendidikan mahasiswa.
Kembalinya mahasiswa ke kontrakan pada 7 Oktober 2026 menjadi solusi atas kondisi darurat yang mereka hadapi. Namun, permintaan pembangunan asrama permanen menunjukkan adanya kebutuhan terhadap solusi jangka panjang.
Bagi mahasiswa Yahukimo, tempat tinggal bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, menyelesaikan pendidikan, dan mempersiapkan diri sebelum kembali berkontribusi bagi masyarakat dan daerah asal.[*]
Penulis : Dominikus lokobal
Editor : Julianus surabut
Sumber Berita: https//Garudapost.id


















