
garudapost.id MANOKWARI, PAPUA BARAT Persoalan tempat tinggal yang dialami lebih dari 100 mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo di Kota Studi Manokwari akhirnya mendapat jalan keluar. Setelah empat hari bertahan di Gereja GIDI Misia, Amban, mahasiswa kembali ke kontrakan pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Para mahasiswa meninggalkan kontrakan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, akibat persoalan pembayaran sewa. Mereka kemudian menuju Gereja GIDI Misia untuk mendapatkan tempat berteduh sementara.
Selama berada di lingkungan gereja, mahasiswa menghadapi keterbatasan tempat tidur, makanan, minuman dan kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, mereka tetap berupaya menjalankan aktivitas perkuliahan.
Persoalan tersebut kemudian mendapat perhatian dari Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol. Ia membantu menyelesaikan persoalan tunggakan kontrakan mahasiswa sebesar Rp200 juta.
Bantuan tersebut membuka jalan bagi mahasiswa untuk kembali ke tempat tinggal mereka.
Pada Rabu, 7 Oktober 2026, Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan, M.Si., juga datang langsung menemui mahasiswa Yahukimo.
Mandacan memberikan bantuan Rp100 juta dan 50 paket bahan makanan (bama) kepada mahasiswa.
Ketua mahasiswa Yahukimo, Ima Siep, menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan Gubernur Papua Barat.
«“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan yang sudah memberikan perhatian kepada kami mahasiswa Yahukimo. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama dalam kondisi yang sedang kami hadapi,” ujar Ima Siep.»
Mahasiswa juga menyampaikan terima kasih kepada Gereja GIDI Misia, pendeta, majelis dan jemaat yang telah menerima mereka selama empat hari.
Setelah persoalan kontrakan mendapat penyelesaian, mahasiswa membongkar posko sementara dan kembali ke kontrakan masing-masing.
Namun, kepulangan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan hunian mahasiswa Yahukimo di Manokwari.
Peristiwa tersebut menunjukkan perlunya solusi jangka panjang agar mahasiswa tidak kembali mengalami kondisi serupa.
Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian adalah pembangunan asrama permanen mahasiswa Yahukimo di Manokwari.
Asrama tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar, pembinaan dan pusat kegiatan mahasiswa.
Bantuan dari Ones Pahabol dan Dominggus Mandacan menjadi penyelesaian terhadap kondisi darurat yang dihadapi mahasiswa. Namun, pemerintah tetap perlu memastikan adanya sistem hunian yang lebih permanen dan terkelola dengan baik.
Peristiwa ini juga menjadi gambaran bahwa persoalan mahasiswa tidak hanya menyangkut tempat tinggal, tetapi berkaitan langsung dengan keberlangsungan pendidikan generasi muda.
Mahasiswa Yahukimo datang ke Manokwari untuk belajar dan mempersiapkan masa depan.
Karena itu, penyelesaian persoalan kontrakan harus dilanjutkan dengan kebijakan jangka panjang agar mahasiswa tidak kembali harus meninggalkan tempat tinggal dan bertahan di lingkungan gereja.
Kini mahasiswa telah kembali ke kontrakan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan persoalan yang sama tidak kembali terjadi.
Penulis: Domlok


















