MANOKWARI, GARUDAPOST.ID– Puluhan mahasiswa asal Yahukimo yang menempuh pendidikan di Manokwari menggelar diskusi bertajuk “Teknologi dan Masa Depan Sosial: Antara Manfaat dan Ancaman”pada Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 22.00 WIT tersebut diprakarsai oleh Biro Keilmuan dan Pendidikan Dalam. Diskusi diikuti oleh mahasiswa Yahukimo yang tergabung dalam kota studi Manokwari sebagai bagian dari upaya memperkuat wawasan keilmuan dan kesadaran kritis di kalangan mahasiswa.
Diskusi dibuka oleh Sadam Kobak dan selanjutnya dipandu oleh Biro Keilmuan.
Forum berlangsung secara interaktif dengan memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan pandangan terkait perkembangan teknologi serta dampaknya terhadap kehidupan sosial di masa depan.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program Lapak Baca yang telah dilaksanakan sebelumnya sebagai bagian dari penguatan budaya literasi dan pendidikan di lingkungan mahasiswa Yahukimo.
Perwakilan Biro Keilmuan, Abdan Asso, menegaskan bahwa mahasiswa perlu memahami perkembangan teknologi secara kritis agar tidak terjebak dalam arus informasi yang dangkal.
“Teknologi merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi manusia tidak dapat digantikan oleh teknologi. Karena itu mahasiswa harus mampu memahami dan mengendalikan perkembangan teknologi secara bijak,” ujarnya.
Abdan juga mengungkapkan bahwa pihaknya berencana menggelar seminar lanjutan pada pekan mendatang untuk memperdalam pembahasan mengenai teknologi dan dampaknya terhadap kehidupan sosial.
Sementara itu, salah satu senior mahasiswa, Maikel, mengingatkan peserta tentang risiko kecanduan teknologi yang dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku manusia. Ia mendorong mahasiswa untuk tetap kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang beredar di ruang digital.
Pandangan serupa disampaikan oleh mahasiswa Hukum, Yunius, yang menilai bahwa teknologi harus dimanfaatkan secara bijaksana dan tidak boleh melemahkan daya kritis generasi muda.
Menurutnya, mahasiswa harus mampu memosisikan diri sebagai subjek yang aktif dalam memanfaatkan teknologi, bukan menjadi objek yang dikendalikan oleh perkembangan teknologi itu sendiri.
Diskusi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa mahasiswa perlu memperkuat pendidikan, literasi digital, dan kesadaran ilmiah sebagai bekal menghadapi tantangan era digital yang terus berkembang.(*)

















