GORONTALO,Garudapost.id – Gelaran akbar Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan Andalan XVII Tahun 2026 telah resmi berakhir. Sorotan kamera nasional memang sudah berpaling, namun di tengah masyarakat Gorontalo, masih tersisa satu pertanyaan besar yang bergema: siapa sebenarnya yang paling berjuang dan membuat acara ini sukses? 26.06.2026
Realitas pasca-acara menunjukkan fenomena unik. Banyak pihak merasa diri sebagai pahlawan tunggal keberhasilan ini. Muncul klaim bahwa tanpa pengaturan si A, acara pasti berantakan; ada yang menyebut ide brilian berasal dari si B; hingga pernyataan lantang bahwa tanpa pencarian dana oleh si C, PENAS tidak akan terlaksana. Ruang publik, mulai dari pemberitaan media, status media sosial, hingga obrolan di warung kopi, dipenuhi dengan nama-nama yang saling berebut pengakuan. Seolah-olah, keberhasilan raksasa ini hanya bisa terjadi karena jasa satu orang semata.
Namun, jika kita membuka mata dan hati dengan jernih, fakta sesungguhnya berbicara lain. Kesuksesan PENAS XVII bukan lahir dari satu nama, satu jabatan, atau klaim individu tertentu. Keberhasilan ini adalah buah dari keringat ribuan tangan yang bekerja dalam senyap. Petugas kebersihan yang memungut sampah di Limboto hingga larut malam, tenaga medis yang siaga tanpa kenal lelah, aparat TNI dan Polri yang mengatur lalu lintas, petani dan nelayan yang menghadirkan hasil bumi terbaik, warga yang rela membuka pintu rumah bagi tamu, serta seluruh anak Gorontalo yang mengorbankan waktu dan tenaga demi harumnya nama daerah; merekalah pahlawan sejati yang tak selalu terlihat.
Meski demikian, kejujuran menuntut kita mengakui adanya tiang utama yang menopang semua kerja kolektif tersebut. Mengutip ungkapan yang pernah beredar luas, “Dari TI Prof sampai semua, karena TI PAPA.” Para akademisi, pemikir, dan ahli memang memberikan arah serta landasan ilmiah. Namun, sosok yang memikul beban terberat, menyatukan perbedaan, menenangkan dinamika, dan berani mempertaruhkan reputasi demi tegaknya Gorontalo di puncak acara nasional adalah TI PAPA. Tanpa keteguhan hati dan kepemimpinan beliau, segala klaim jasa pihak lain hanyalah wacana kosong yang tidak pernah mewujud menjadi kenyataan.
Oleh karena itu, marilah berhenti saling mengambil panggung dan berebut gelar “paling berjasa”. Sukses PENAS adalah milik bersama, milik seluruh anak Serambi Madinah. Namun, jika ditanya siapa yang paling pantas berdiri di barisan terdepan menerima penghormatan tertinggi, jawabannya jelas: semua pihak memang bergerak dan bekerja keras, tetapi keteraturan, arahan, dan pencapaian puncak kesuksesan ini ada karena kehadiran dan kepemimpinan TI PAPA.
Biarkan saja mereka yang masih saling mengklaim “kalau bukan dia…”. Kita yang memahami kebenaran sejarah cukup diam dan mensyukuri. Semua keindahan dan kemegahan ini tercipta karena beliau yang memimpin dan mengawal hingga tuntas. Sejarah telah mencatat: Gorontalo sukses, terima kasih kepada semua pihak, dan utamanya, terima kasih TI PAPA.
Narasumber : Abdul Wahab G. Kuna S.Pd,i

















