Garudapost.id-Jakarta/Badan Karantina Indonesia (Barantin) memperkuat fasilitasi ekspor buah tropis Indonesia melalui pendampingan pelaku usaha dan diplomasi teknis dengan negara tujuan.
Upaya tersebut dilakukan agar komoditas seperti durian, manggis, salak, nanas, dan pisang mampu memenuhi persyaratan fitosanitari sekaligus mempertahankan keberterimaannya di pasar internasional.
Besarnya peluang pasar tercermin dari perdagangan buah Indonesia ke China. Berdasarkan data sertifikasi Barantin periode 2025–2026, nilai ekspor lima komoditas buah tersebut diperkirakan mencapai Rp5,94 triliun.
Durian menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp3,16 triliun, disusul manggis Rp2,63 triliun, salak Rp77,22 miliar, nanas Rp32,77 miliar, dan pisang Rp32,59 miliar.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin Dian Seri Rezeki Kusumastuti mengatakan, besarnya produksi buah tropis Indonesia belum cukup untuk menjamin keberhasilan ekspor.
“Potensi buah tropis kita luar biasa besar. Tugas kita bersama adalah memastikan pasar global mau menerimanya,” ujar Dian dalam keterangannya, Kamis (22/10).
Menurut dia, pembukaan akses pasar perlu diikuti kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi berbagai persyaratan negara tujuan.
“Keberhasilan membuka pasar harus diikuti dengan kesiapan pelaku usaha, kemampuan melacak asal-usul produk atau ketertelusuran, serta konsistensi menjaga kualitas dan kesehatan produk,” katanya.
Sebagai otoritas perlindungan tumbuhan nasional atau National Plant Protection Organization (NPPO), Barantin melakukan komunikasi dan diplomasi teknis dengan otoritas karantina negara mitra.
Proses tersebut diperlukan untuk menyepakati persyaratan teknis, membuka akses pasar baru, sekaligus menjaga kelancaran ekspor komoditas pertanian Indonesia.
Di tingkat pelaku usaha, Barantin memberikan layanan pemeriksaan, sertifikasi, serta pendampingan agar komoditas yang akan dikirim memenuhi persyaratan negara tujuan. Pendampingan juga diberikan kepada UMKM di berbagai daerah.
Selain itu, Barantin mengikuti pameran perdagangan internasional dan menggelar forum bisnis yang mempertemukan eksportir, otoritas karantina, serta calon pembeli dari luar negeri.
Salah satunya melalui forum bisnis “Accelerating Agricultural Exports: Fitosanitari Buah Tropis Global” yang digelar dalam Trade Expo Indonesia pada 14–18 Oktober 2026.
Eksportir manggis Neng Nenden Mulyaningsih mengatakan, komunikasi yang responsif dengan petugas karantina membantu pelaku usaha dalam pengurusan dokumen maupun penyelesaian kendala persyaratan ekspor.
Eksportir buah segar Daniel Muhammad Aulia juga menilai Karantina memiliki peran dalam menjelaskan secara rinci ketentuan yang ditetapkan negara tujuan.
Namun, pelaku usaha juga dituntut proaktif dalam memastikan produk yang akan dikirim konsisten memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Direktur Tindakan Karantina Tumbuhan Barantin Abdul Rahman mengatakan, tantangan ekspor tidak selesai ketika suatu komoditas berhasil memperoleh akses ke sebuah negara. Menurut dia, mempertahankan kepercayaan pasar menjadi pekerjaan berikutnya.
“Ekspor bukan cuma soal bagaimana produk kita bisa masuk ke suatu negara, tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita bisa terus bertahan di pasar tersebut,” ujar Rahman.
“Kualitas yang terjaga, ketertelusuran produk, dan konsistensi pelaku usaha adalah kunci untuk membangun kepercayaan pasar,” lanjutnya.
Pemenuhan persyaratan fitosanitari menjadi bagian penting dalam perdagangan buah segar karena negara tujuan dapat menetapkan ketentuan terkait organisme pengganggu tumbuhan, perlakuan karantina, pengemasan, ketertelusuran, hingga sertifikasi.
Karena itu, Barantin mendorong pelaku usaha berkonsultasi sejak awal sebelum melakukan ekspor agar persyaratan negara tujuan dapat dipersiapkan sejak dari kebun hingga proses pengiriman.
Dian mengatakan, penguatan ekspor buah tropis membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, asosiasi, dan eksportir.
“Dengan produk yang berkualitas, sistem karantina yang kredibel, serta diplomasi yang kuat dengan negara mitra, kami sangat optimistis buah segar tropis Indonesia akan menjangkau pasar dunia yang lebih luas,” ujar Dian.



















