Garudapost.id-Jakarta/Badan Karantina Indonesia (Barantin) resmi membuka Indonesia Quarantine Expo (IQExpo) 2026, pameran perdana yang menghadirkan pelaku UMKM potensial ekspor dari 38 provinsi di Indonesia yang berlangsung 23 – 24 Oktober 2026.
Mengusung tema Protecting Indonesia, Connecting The World, IQExpo diarahkan menjadi ruang promosi komoditas unggulan sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan berbagai pihak untuk memperluas peluang pasar.
Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding mengatakan, peran karantina tidak lagi hanya berkaitan dengan pengawasan hama dan penyakit di pintu masuk dan keluar wilayah.
Barantin juga mendorong pelaku usaha agar memahami persyaratan karantina, ketertelusuran produk, serta ketentuan yang ditetapkan negara tujuan ekspor.
“Barantin hadir bukan untuk mempersulit, melainkan membentangkan ‘karpet merah’ bagi pelaku UMKM yang ingin menembus pasar ekspor,” ujar Karding saat membuka pameran (23/10).
Menurut dia, pendampingan diperlukan agar pelaku usaha tidak berhenti pada kemampuan memproduksi barang, tetapi juga memahami persyaratan teknis sebelum memasuki pasar internasional.
“Kami memastikan produk Bapak dan Ibu memenuhi syarat kelayakan, keamanan, dan mutu dari negara tujuan melalui pendampingan dan pembinaan,” katanya.
IQExpo 2026 menghadirkan UMKM potensial ekspor dari seluruh provinsi dengan berbagai komoditas unggulan daerah.
Selain menjadi ruang promosi, pameran tersebut juga diisi dengan gelar wicara interaktif, edukasi kepada masyarakat, serta berbagai perlombaan.
Karding mengatakan, salah satu tantangan yang kerap dihadapi pelaku usaha adalah kurangnya informasi mengenai persyaratan ekspor di negara tujuan.
Karena itu, Barantin telah menyediakan Klinik Ekspor Karantina di seluruh provinsi.
Melalui layanan tersebut, calon eksportir dapat memperoleh konsultasi dan bimbingan teknis mengenai persyaratan karantina sebelum produk diberangkatkan.
“Jangan sampai pengusaha sudah memiliki produk, tetapi tidak tahu persyaratan untuk masuk ke negara tujuan. Di situlah karantina hadir memberikan pendampingan,” ujar Karding.
Pendampingan terhadap UMKM juga diperkuat melalui kerja sama Barantin dengan Kementerian UMKM. Pada September 2026, kedua lembaga menandatangani nota kesepahaman untuk mendukung Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor menuju pasar global.
Barantin juga berencana memperluas kolaborasi dengan Kementerian Desa agar pendampingan ekspor dapat menjangkau pelaku usaha hingga wilayah perdesaan.
Menurut Karding, perluasan pasar ekspor membutuhkan kesiapan pelaku usaha sejak dari proses produksi hingga pemenuhan persyaratan negara tujuan.
Karena itu, UMKM didorong untuk berkonsultasi sejak awal agar kendala teknis dapat diidentifikasi sebelum proses ekspor dilakukan.
“Mari kita bergerak bersama, penuhi standar mutu produk, dan siap berdampak bagi Indonesia,” ujar Karding.
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Maman Abdurrahman yang juga hadir dalam kegiatan tersebut juga menyampaikan bahwa bagi UMKM, pemahaman terhadap prosedur dan persyaratan karantina dapat membantu mengurangi hambatan dalam proses perdagangan serta meningkatkan kesiapan produk untuk memasuki pasar ekspor.
Ia juga melihat teehadap peluang sinergi antara SAPA UMKM milik Kementerian UMKM dan BEST TRUST, sistem layanan karantina digital Barantin agar informasi dan layanan karantina lebih mudah diakses oleh pelaku UMKM. Memurut maman, sinergi ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kesiapan produk UMKM dalam memenuhi ketentuan ekspor sekaligus memperluas akses ke pasar global.
Selain itu, Karding juga menyampaikan bahwa guna mengoptimalkan ekspor dan pelindungan terhadap sumber daya hayati, Barantin juha aktif melibatkan masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya hayati melalui momentum 149 Tahun Karantina Indonesia. Upaya perlindungan dan edukasi ini diwujudkan lewat pemeriksaan kesehatan gratis terhadap 2.821 ekor hewan, pemberian 2.254 dosis vaksin rabies, serta edukasi di 16 kampus dan 5 sekolah yang diikuti lebih dari 4.000 peserta.
Pada kesempatan sebelumnya, Barantin juga telah memfasilitasi UMKM dalam gelaran Trade Expo Indonesia 2026 pada 14-18 Oktober lalu. UMKM di stan Barantin berhasil menjangkau lebih dari 60 pembeli baru dari berbagai negara, dengan estimasi nilai transaksi lebih dari Rp94 miliar. Capaian ini menunjukkan adanya peluang pasar. Capaian dan peluang tersebut juga diharapkan dapat berlanjut dalam ajang IQExpo.
Melalui IQExpo 2026, Barantin berharap semakin banyak pelaku usaha daerah memahami proses ekspor sekaligus mampu memanfaatkan peluang pasar internasional.
Ajang tersebut juga menjadi bagian dari upaya Barantin memperluas perannya, dari perlindungan sumber daya hayati melalui sistem karantina hingga fasilitasi perdagangan bagi komoditas Indonesia yang akan memasuki pasar global.
Pada kesempatan tersebut, Karding menyerukan pada seluruh pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pembiayaan, hingga asosiasi, diajak untuk memperkuat jejaring dan mendorong para pengusaha UMKM agar memanfaatkan berbagai sarana kemitraan.
Hasil dari IQExpo ditindaklanjuti secara konkret, salah satunya melalui penandatanganan “Deklarasi Perkarantinaan dan Pengembangan UMKM Ekspor” bersama Menteri UMKM dan perwakilan dari 38 provinsi. Komitmen nyata ini bertujuan memperkuat sistem perkarantinaan, meningkatkan daya saing, serta memperluas akses pasar ekspor agar semakin banyak UMKM Indonesia yang naik kelas di pasar global. Ia juga terus mendorong kolaborasi antar instansi pemerintah pusat, daerah, pelaku UMKM dan instansi pembiayaan.
“Kolaborasi itu tidak hanya penting, tapi fardu ain. Bersatu dalam satu ekosistem akan sangat bagus, agar UMKM naik kelas, kami jaga dan kita mudahkan,” pungkas Karding.


















