2.341 Guru PPPK Paruh Waktu Di Deliserdang Tak Terima Gaji

Senin, 6 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garudapost.id | DELI SERDANG – Sebanyak 2.341 guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di Kabupaten Deli Serdang hingga kini tidak ada menerima gaji atau 0 rupiah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang.

 

Sehingga guru PPPK Paruh Waktu yang sertifikasi hanya mendapat Tunjangan Profesi Guru (TPG) bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sedangkan yang tidak sertifikasi juga hanya mendapatkan gaji lewat APBN melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Informasi dihimpun, semenjak peralihan status guru honorer mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjadi PPPK Paruh Waktu pada Senin 8 Desember 2025, belum ada menerima gaji yang ditampung atau dianggarkan di APBD Pemkab Deli Serdang.

 

Guru PPPK Paruh Waktu yang Sertifikasi tidak mendapat gaji lewat dana BOS, karena adanya aturan status guru PPPK Paruh Waktu sertifikasi tidak diperbolehkan mendapat gaji lewat dana BOS.

 

Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 63 Tahun 2022 tentang Penggunaan Dana BOS. Dalam peraturan tersebut, disebutkan bahwa dana BOS hanya dapat digunakan untuk membiayai kegiatan operasional sekolah, termasuk gaji guru yang belum menerima tunjangan profesi.

 

Sementara sampai bulan Maret, guru agama penerima tunjangan sertifikasi belum juga menerima atau cair tunjangan profesi dari Pemerintah Pusat. Permasalahan ini juga menjadi perbincangan dikalangan guru, sehingga Kepala Dinas Pendidikan Deliserdang Suparno, S.Sos., M.S.P mengeluarkan surat nomor: 400.3.5.5/1544/SKR/2026 yang ditujukan Kepala Sekolah, SD, SMP Negeri dan Swasta.

 

Dalam surat itu menghimbau Kepala Sekolah, diantaranya untuk membayarkan terlebih dahulu menggunakan dana bos, guru yang sudah status sertifikasi tetapi belum menerima Tunjangan Profesi Guru. Apabila tunjangan profesi telah diterima maka guru tersebut wajib mengembalikan sesuai besaran gaji yang dibayarkan terlebih dahulu.

 

Sedangkan guru PPPK Paruh Waktu statusnya belum sertifikasi dan guru honorer yang terdaftar di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) masih diperkenankan untuk mendapat gaji dari dana BOS, namun dikembalikan ke masing-masing sekolah sehingga tidak jarang para guru tersebut hanya mendapatkan gaji Rp 450 Ribu yang biasanya dihitung per jam pelajaran.

 

Jumlah itu diakumulasikan, misalnya salah seorang guru mata pelajaran bahasa Indonesia 15 jam/minggu dengan honor per jam pelajaran 30.000 maka gajinya 15 x Rp 30.000 = Rp 450.000/bulan. Rincinya berarti Rp 30.000 dibagi 4 minggu, sehingga per tatap muka Rp 7.500.

 

Perbedaan masa kepemimpinan Bupati Asri Ludin Tambunan dengan Bupati Deliserdang H. Ashari Tambunan yang melantik ribuan guru P3K penuh waktu, para guru tersebut mendapatkan gaji yang diperkirakan mencapai 3 juta sampai 4 juta yang bersumber dari APBD Deliserdang.

 

Anggota DPRD Deliserdang Indra Silaban SH ketika diwawancarai menanggapi informasi dilapangan berkaitan gaji guru P3K Paruh Waktu yang tidak ada atau nol rupiah dari APBD Deliserdang merasa prihatin.

 

“Kiranya Pemkab Deliserdang melalui Dinas Pendidikan memberikan solusi secepatnya supaya kedepannya guru-guru ini yang sudah bekerja mendidik anak-anak di Deliserdang mendapatkan gaji. Ini sudah tiga bulan tidak mendapatkan gaji, kasihan guru-guru ini,” kata Indra,Senin(6/4/2026).

 

Indra Silaban menyebut, kondisi ini akan disampaikan kepada Pimpinan DPRD Deli Serdang untuk segera ditindaklanjuti. “Mereka banyak menyampaikan keluhan kepada kami di DPRD ini. Dan kita harapkan nanti Pimpinan DPRD Deliserdang untuk melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP),” katanya.

 

Seharusnya sebelum pengangkatan PPPK Paruh Waktu, pihak Dinas Pendidikan sudah memasukkan anggaran gajinya, tidak seperti kejadian ini sudah beralih status tapi anggaran tidak ada,” tandasnya.

 

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Deli Serdang Suparno, S.Sos., M.S.P ketika dikonfirmasi berkaitan guru PPPK Paruh Waktu di Kabupaten Deliserdang tidak mendapat gaji lewat APBD Deliserdang menyebut nanti akan mengklarifikasi. “Ok Bang, nanti kita klarifikasi,” katanya.

 

Sementara itu juga Sekretaris Dinas Pendidikan Deliserdang Samsuar Sinaga, S.Pd., M.Si ketika dikonfirmasi mengakui saat ini jumlah guru PPPK Paruh Waktu di Kabupaten Deliserdang sebanyak 2.341 orang. “SD 1.981, TK 20, SMP 340, total 2.341,” katanya.

 

Samsuar juga mengakui, bahwa saat ini memang gaji guru PPPK Paruh Waktu yang bersumber dari APBD belum ada, namun katanya menerima gaji dari dana BOS dan sertifikasi.

 

“Guru PPPK Paruh waktu menerima gaji sesuai dengan yang diterima sebelumnya. Gaji guru PPPK PW bersumber dari dana BOS bagi yang belum sertifikasi. Bagi yang sudah sertifikasi menerima dari Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah),” Pungkasnya. (S.Tarigan)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Polsek Patumbak Cek Lokasi Dugaan Judi Dadu Putar di Warung Pak Kulit, Hasil Nihil
Tanah Galian Menggunung di Depan Rumah Warga, Akses dan Kenyamanan Terganggu
Drainase Rp2,5 Miliar di STM Hilir Diduga Tak Sesuai Spesifikasi
Wujud Peduli Pendidikan, Bupati Asri Ludin Salurkan Bantuan ke SDN 101864 Gunung Rintih
Dugaan Judi Tembak Ikan Kembali Beroperasi di Namorambe, Kapolsek Bungkam Saat Dikonfirmasi
Diduga Dicuri, Honda Vario BK 4763 AMR Milik Warga STM Hilir Dibawa Kabur, Warga Diminta Bantu Kenali Pelaku
PEMKAB DELI SERDANG KONSULTASI DENGAN KEMENDAGRI TERKAIT MEKANISME PERUBAHAN KUA-PPAS TA 2026
Dua Pengedar Sabu Pantai Labu Diamankan, Dijerat Pasal 114 UU Narkotika
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terbaru

Kabupaten Gorontalo

Apdesi Kabupaten Gorontalo Dukung Penganugerahan Pulanga kepada Bupati Sofyan Puhi GORONTALO, Garudapost.id– Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Gorontalo, Efendi Nento, menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap rencana penganugerahan gelar adat Pulanga kepada Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi. Menurut Efendi, penganugerahan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga dan melestarikan nilai-nilai adat yang telah menjadi jati diri masyarakat Gorontalo. Tradisi adat perlu terus dirawat agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. Ia menilai, di tengah perubahan zaman, keberadaan adat dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya perlu terus diperkuat. Salah satunya melalui penghormatan adat kepada tokoh yang dinilai memiliki perjalanan pengabdian dan kontribusi bagi daerah. “Bagi kami, adat merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Gorontalo. Karena itu, setiap upaya untuk menjaga, merawat, dan melestarikan nilai-nilai adat patut mendapatkan apresiasi,” ujar Efendi. Ia juga berpandangan bahwa penghormatan melalui gelar adat tidak semata-mata berkaitan dengan kedudukan seseorang, tetapi dapat menjadi bentuk penghargaan atas pengabdian dan tanggung jawab yang telah dijalankan. Menurutnya, penghormatan adat kepada seorang pemimpin yang masih menjalankan pengabdian merupakan hal yang dapat dipahami dalam kerangka pelestarian tradisi, sepanjang prosesnya dilakukan sesuai mekanisme dan pertimbangan lembaga adat yang berwenang. Efendi menilai, perjalanan pengabdian Bupati Sofyan Puhi menjadi salah satu aspek yang patut diperhatikan dalam proses tersebut. Namun, ia menegaskan pentingnya menghormati musyawarah dan kearifan para pemangku adat sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat Gorontalo memiliki falsafah yang kuat, yakni “Adat bersendikan Syara, Syara bersendikan Kitabullah.” Falsafah ini mencerminkan eratnya hubungan antara adat, nilai keagamaan, dan kehidupan masyarakat. Atas dasar itu, Apdesi Kabupaten Gorontalo mengajak masyarakat untuk menyikapi proses penganugerahan Pulanga dengan bijaksana, tetap menjaga suasana kebersamaan, serta memberikan ruang bagi lembaga adat untuk menjalankan perannya. “Kami berharap upaya ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam melestarikan adat Gorontalo. Yang terpenting, seluruh proses tetap mengedepankan kebijaksanaan, penghormatan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur,” tutup Efendi. Dukungan Apdesi tersebut diharapkan turut memperkuat kesadaran bersama bahwa pelestarian adat merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, sekaligus bagian dari upaya menjaga identitas dan warisan budaya Gorontalo.

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:48

Polsek Patumbak Cek Lokasi Dugaan Judi Dadu Putar di Warung Pak Kulit, Hasil Nihil

Rabu, 14 Oktober 2026 - 23:55

Tanah Galian Menggunung di Depan Rumah Warga, Akses dan Kenyamanan Terganggu

Selasa, 13 Oktober 2026 - 23:15

Drainase Rp2,5 Miliar di STM Hilir Diduga Tak Sesuai Spesifikasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:58

Wujud Peduli Pendidikan, Bupati Asri Ludin Salurkan Bantuan ke SDN 101864 Gunung Rintih

Senin, 5 Oktober 2026 - 02:04

Dugaan Judi Tembak Ikan Kembali Beroperasi di Namorambe, Kapolsek Bungkam Saat Dikonfirmasi

Berita Terbaru

Kabupaten Gorontalo

Apdesi Kabupaten Gorontalo Dukung Penganugerahan Pulanga kepada Bupati Sofyan Puhi GORONTALO, Garudapost.id– Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Gorontalo, Efendi Nento, menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap rencana penganugerahan gelar adat Pulanga kepada Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi. Menurut Efendi, penganugerahan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga dan melestarikan nilai-nilai adat yang telah menjadi jati diri masyarakat Gorontalo. Tradisi adat perlu terus dirawat agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. Ia menilai, di tengah perubahan zaman, keberadaan adat dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya perlu terus diperkuat. Salah satunya melalui penghormatan adat kepada tokoh yang dinilai memiliki perjalanan pengabdian dan kontribusi bagi daerah. “Bagi kami, adat merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Gorontalo. Karena itu, setiap upaya untuk menjaga, merawat, dan melestarikan nilai-nilai adat patut mendapatkan apresiasi,” ujar Efendi. Ia juga berpandangan bahwa penghormatan melalui gelar adat tidak semata-mata berkaitan dengan kedudukan seseorang, tetapi dapat menjadi bentuk penghargaan atas pengabdian dan tanggung jawab yang telah dijalankan. Menurutnya, penghormatan adat kepada seorang pemimpin yang masih menjalankan pengabdian merupakan hal yang dapat dipahami dalam kerangka pelestarian tradisi, sepanjang prosesnya dilakukan sesuai mekanisme dan pertimbangan lembaga adat yang berwenang. Efendi menilai, perjalanan pengabdian Bupati Sofyan Puhi menjadi salah satu aspek yang patut diperhatikan dalam proses tersebut. Namun, ia menegaskan pentingnya menghormati musyawarah dan kearifan para pemangku adat sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat Gorontalo memiliki falsafah yang kuat, yakni “Adat bersendikan Syara, Syara bersendikan Kitabullah.” Falsafah ini mencerminkan eratnya hubungan antara adat, nilai keagamaan, dan kehidupan masyarakat. Atas dasar itu, Apdesi Kabupaten Gorontalo mengajak masyarakat untuk menyikapi proses penganugerahan Pulanga dengan bijaksana, tetap menjaga suasana kebersamaan, serta memberikan ruang bagi lembaga adat untuk menjalankan perannya. “Kami berharap upaya ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam melestarikan adat Gorontalo. Yang terpenting, seluruh proses tetap mengedepankan kebijaksanaan, penghormatan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur,” tutup Efendi. Dukungan Apdesi tersebut diharapkan turut memperkuat kesadaran bersama bahwa pelestarian adat merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, sekaligus bagian dari upaya menjaga identitas dan warisan budaya Gorontalo.

Kamis, 15 Okt 2026 - 21:59