SULTENG, GarudaPost.id – Yayasan Ekologi Nusantara Lestari (EKONESIA) berkolaborasi dengan Komunitas Pegiat Psikososial, serta atas dukungan dari WALHI Sulawesi Tengah, melakukan kegiatan Mini Workshop.
Kegiatan yang bertajuk Pengetahuan dan Bertukar Pengalaman Pegiat dan Relawan Kemanusiaan Untuk Aksi Psikososial Di Daerah Terdampak Bencana di Kabupaten Sigi ini dilaksanakan pada Minggu, 5 Juli 2026
di Dedaunan Café, Jln Badak, Kota Palu.
Sesuai hasil rapat koordinasi lintas sektor tanggap darurat bencana Kabupaten Sigi dengan pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, telah ditetapkan daerah paling terdampak ialah Kabupaten Sigi, meliputi beberapa Kecamatan Nokilalaki, Palolo, Sigi Kota, Tanambulava, Lindu, Sigi Biromaru, Dolo, Dolo Selatan, Dolo Barat, Marawola, Kirnovaro dan Gumbasa.
Namun, Menurut Direktur EKONESIA Azmi Sirajuddin bahwa tiga wilayah kecamatan, yaitu Nokilalaki, Palolo dan Sigi Kota, dikategorikan sebagai yang paling terdampak besar, mencakup kerugian material dan nonmaterial.
Untuk mendukung aksi tanggap darurat, Pemprov Sulteng telah mengeluarkan Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah Nomor: 300 2.1/195/BPBD-G.ST/2026 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah.
“Juga oleh Pemkab Sigi, melalui Keputusan Bupati Sigi Nomor: 300 2 – 158 Tahun 2026 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Sigi,” ujar Azmi.
Selain itu, kata dia, juga telah ditetapkan beberapa desa yang dikategorikan sebagai lokasi-lokasi prioritas untuk memperoleh dukungan tanggap darurat.
Meliputi Desa Kamarora B dan Kamarora A di Kecamatan Nokillaki; Desa Uwenuni dan Tongoa di Kecamatan Palolo; serta Desa Sigimpu di Kecamatan Sigi Kota. Selain kelima desa tersebut yang masuk skala priotitas oleh Pemkab Sigi.
“Bukan berarti desa-desa lainnya tidak memerlukan penanganan. Misalnya, Desa Sarumana di Kecamatan Palolo yang kerap dilanda hujan. Juga ada Desa Lembantongoa di Kecamatan Palolo yang terpencil, karena berada di perbatasan Sigi dan Parigi Moutong,” tuturnya.
Mengingat desa itu terpencil, aksesibilitas minim, serta kerap masih ada gangguan kamtibmas oleh eks-kombatan. Atau seperti Desa DongiDongi yang secara administratif masuk wilayah Poso, namun jauh dari jangkauan Pemkab Poso. Sehingga lebih mungkin dilayani melalui aksi kemanusiaan para relawan yang menjangkau Desa Kamarora A dan Kamarora B, karena berbatasan dengan Dongi-Dongi.
Berdasarkan data yang terhimpun dalam Laporan Situasi (LAPSIS) yang dikeluarkan PUSDALOPS BPBD Sigi per tanggal 27 Juni 2026, total terdampak sebanyak 9.633 jiwa dan 3.610 KK. Meninggal dunia 3 orang, luka ringan 78 orang, serta luka berat 14 orang. Dengan jumlah rumah rusak 3.040 unit
serta gedung/bangunan rusak sekitar 200 unit, yang meliputi Fasum, Fasos, dan rumah ibadah.
Sejauh ini, menurutnya respon dalam bentuk aksi psikososial telah dilakukan di wilayah Desa Rejeki dan Desa Uwenuni, Kecamatan Palolo, Sigi. Melalui kunjungan lapangan dan berjumpa dengan para penyintas, khususnya yang dikategorikan sebagai kelompok rentan dan berisiko, misalnya anak-anak usia
sekolah SD – SMP di wilayah tersebut.
“Psikososial bencana adalah dukungan untuk memulihkan kesejahteraan psikologis dan fungsi sosial penyintas setelah mengalami bencana. Ini mencakup penanganan stres, kecemasan, dan trauma melalui pendampingan emosional serta penguatan relasi sosial di masyarakat, agar korban dapat kembali beradaptasi dan berfungsi secara optimal,” ungkapnya.
Dukungan ini diberikan untuk mencapai beberapa target esensial dalam pemulihan pasca bencana. Yaitu, pertama, mencegah gangguan mental, dengan menekan risiko munculnya Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), depresi, dan kecemasan berlebih pasca bencana.
“Kedua, mengembalikan kestabilan emosi, dengan membantu penyintas mengatasi syok, ketakutan, dan rasa tidak aman. Ketiga, memperkuat ikatan sosial, dengan cara memulihkan kembali rasa kebersamaan dan
dukungan antar warga atau keluarga yang terdampak,” tutupnya.

















