Garudapost.id|| TOLITOLI – Geliat aktivitas kembali menyelimuti lereng-lereng perbukitan Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, pada Selasa (21/4/2026). Sebagai salah satu lumbung cengkeh terbesar di region ini, para petani kini mulai sibuk memanen buah cengkeh yang telah matang.
Meski panen raya belum berlangsung serentak, suasana musim panen sudah terasa di berbagai titik perkebunan warga. Berdasarkan pantauan di lapangan, para petani tampak teliti memilih pohon yang siap dipetik. Mereka memprioritaskan pohon dengan buah yang telah matang sempurna atau berwarna kemerahan khas.
Langkah strategis ini diambil untuk dua alasan utama: menjaga kualitas aroma dan kadar minyak atsiri cengkeh, serta memanfaatkan kondisi cuaca cerah saat ini untuk proses penjemuran alami. Cuaca yang mendukung memungkinkan petani mengeringkan hasil panen dengan lebih optimal tanpa risiko jamur atau kerusakan akibat hujan.
Harga Menggiurkan, “Emas Cokelat” Kembali Bersinar
Kabar paling dinanti warga adalah stabilitas harga komoditas andalan yang dijuluki “emas cokelat” ini. Tahun ini, harga cengkeh menunjukkan tren positif yang menjadi suntikan semangat bagi petani setelah setahun penuh merawat tanaman mereka.
Berikut rincian harga berlaku di tingkat petani saat ini:
* Cengkeh Mentah (Basah): Dijual sekitar Rp7.000 per kaleng. Opsi ini biasanya dipilih petani yang membutuhkan perputaran modal cepat tanpa menunggu proses pengeringan.
* Cengkeh Kering: Setelah melalui proses penjemuran hingga kadar air minimal, harganya melonjak signifikan hingga menyentuh angka Rp115.000 per kilogram.
Kenaikan harga hingga level enam digit ini dinilai sangat stabil dan memberikan napas baru bagi ekonomi keluarga petani, terutama untuk menutupi biaya operasional dan tenaga kerja selama musim panen.
Harapan di Puncak Musim Panen
Kualitas cengkeh Tolitoli memang telah dikenal luas di pasar domestik berkat aromanya yang tajam dan butirannya yang berisi. Karakteristik ini menjadi nilai tambah dan daya tawar tinggi di mata pengepul maupun industri rokok kretek di luar daerah.
Yanto Maele, seorang petani setempat, mengungkapkan harapannya agar tren positif ini terus berlanjut hingga puncak panen.
“Kami berharap harga ini bisa bertahan, bahkan naik saat puncak panen nanti. Dengan harga di atas Rp100.000 per kilogram, kami bisa menutup biaya upah pemetik dan masih menyisihkan keuntungan untuk tabungan keluarga,” ujarnya penuh harap.
Di sisi lain, petani juga mengharapkan pemerintah daerah dan pihak terkait dapat terus memantau stabilitas harga di tingkat pengepul. Hal ini penting untuk mencegah adanya permainan harga yang merugikan petani di saat musim panen tiba. Dengan dimulainya aktivitas panen ini, perputaran roda ekonomi di Kabupaten Tolitoli diprediksi akan semakin bergeliat dalam beberapa bulan ke depan.
Penulis: Zulkipli Uno
Narasumber: Yanto Maele








