WAMENA, Garudapost.id—Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Santo Fransiskus Asisi Jayawijaya menggelar misa penutupan kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) dan Masa Bimbingan (MABIM) di pimpin oleh pastor moderator Edi doga (OFM), di Silimo Siloam, Kawasan Sinapuk, Wamena, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan kaderisasi yang berlangsung sejak 21 hingga 27 September 2026 tersebut ditutup setelah seluruh rangkaian materi dan proses pembinaan peserta diselesaikan. Dari ratusan calon peserta yang mendaftar pada tahap awal, sebanyak 53 peserta tercatat mengikuti proses kegiatan hingga selesai.
Ketua Panitia Pelaksana MPAB dan MABIM, Marius Asso, mengatakan panitia telah melakukan persiapan selama kurang lebih dua bulan hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai dilaksanakan.
“Kerja-kerja panitia sudah kami lakukan secara maksimal sejak dua bulan lalu hingga kegiatan ini selesai,” ujar Marius.
Ia menyampaikan apresiasi kepada para senior, alumni, serta berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, baik secara moril maupun materil.
Menurutnya, dukungan tersebut diberikan dalam berbagai bentuk, termasuk bantuan barang, uang, maupun sumbangan sukarela yang membantu menunjang kebutuhan kegiatan.
“Atas nama panitia dan DPC, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam bentuk barang maupun uang untuk menunjang kegiatan kami,” katanya.
Marius mengakui pelaksanaan kegiatan masih memiliki berbagai keterbatasan. Namun, panitia berupaya menjaga konsistensi dan menyesuaikan pelaksanaan dengan situasi yang dihadapi selama kegiatan berlangsung.
Ia bersyukur seluruh rangkaian kegiatan dapat diselesaikan sesuai jadwal. Sebanyak 26 materi telah diberikan kepada peserta MPAB dan MABIM sebagai bagian dari proses kaderisasi.
“Kami bersyukur kegiatan ini telah selesai sesuai jadwal. Sebanyak 26 materi telah diberikan kepada peserta MPAB dan MABIM,” ujarnya.
Marius berharap materi yang diterima peserta dapat menjadi bekal untuk mengembangkan potensi diri serta melanjutkan proses kaderisasi dan pembinaan di PMKRI.
“Kami berharap peserta yang telah mengikuti kegiatan ini dapat menerapkan materi yang diperoleh dan mengikuti jejak para senior untuk terus mengembangkan potensi diri,” katanya.
Salah satu peserta, Onis Lengka, mengatakan pengalaman mengikuti MPAB dan MABIM memberikan pemahaman baru mengenai organisasi serta persoalan yang dihadapi generasi muda di Papua Pegunungan, khususnya Kabupaten Jayawijaya.
Menurut Onis, proses kaderisasi tersebut menjadi ruang bagi dirinya dan peserta lainnya untuk belajar memahami persoalan sosial sekaligus mempersiapkan diri agar mampu menyampaikan aspirasi generasi muda.
“Dalam dinamika yang sedang terjadi di Papua Pegunungan, terlebih khusus di Kabupaten Jayawijaya, banyak persoalan yang perlu disuarakan oleh generasi muda. Salah satunya saya dapatkan melalui kegiatan ini,” ujar Onis.
Ia mengatakan dirinya bersama peserta lainnya berkomitmen untuk terus belajar dan mengikuti proses pembinaan di PMKRI.
“Saya dan teman-teman berkomitmen untuk terus mengikuti jejak para senior agar ke depan kami bisa ikut menyuarakan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat,” katanya.
Onis juga menilai pola pembinaan yang diterapkan senior selama kegiatan menjadi bagian dari proses pembentukan mental dan kepribadian peserta.
“Ketika senior mengarahkan kami dengan nada yang keras, itu bukan untuk membuat kami takut, tetapi untuk membentuk mental dan kepribadian agar kami mampu bersaing dan menghadapi tantangan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Presidium PMKRI Cabang Jayawijaya, Konius Doga, mengatakan materi yang diberikan selama kegiatan disusun berdasarkan silabus kaderisasi PMKRI serta disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan peserta
Menurut Konius, proses MPAB dan MABIM memberikan dasar pemahaman kepada peserta mengenai nilai-nilai organisasi serta arah perjuangan PMKRI.
“Dalam proses kegiatan, berbagai materi telah disampaikan sesuai dengan silabus PMKRI. Materi tersebut memberikan dasar bagi para peserta yang mengikuti proses kaderisasi,” jelas Konius.
Ia menambahkan, materi yang diberikan oleh senior dan alumni juga menjadi bagian penting karena disampaikan berdasarkan pengalaman serta kebutuhan organisasi.
Menurutnya, tujuan akhir dari proses kaderisasi bukan hanya menyelesaikan kegiatan, tetapi mengasah potensi peserta agar memiliki karakter kepemimpinan dan kemampuan berpikir kritis.
“Tujuan kegiatan ini adalah bagaimana mengasah potensi dan kepribadian mereka sebagai pemimpin yang handal serta kader yang memiliki orientasi kritis dalam memperjuangkan kaum tertindas,” katanya.
Konius berharap seluruh peserta dapat memahami nilai-nilai PMKRI dan mengembangkan kemampuan berpikir inovatif serta kreatif dalam menghadapi berbagai persoalan di Papua Pegunungan, khususnya Kabupaten Jayawijaya.
Ia juga menegaskan bahwa proses kaderisasi tidak berhenti setelah kegiatan MPAB dan MABIM berakhir.
“Setelah kegiatan ini, DPC akan terus membangun penguatan kader dan mengorganisir kader-kader yang baru bergabung melalui agenda internal, termasuk LKK, agar mereka terus aktif dan eksis dalam organisasi,” pungkasnya.(*)
Penulis : Julianus surabut
Editor : Admin
Sumber Berita: https//:Garudapost.id

























