WAMENA, Garudapost.id – Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Amal Ilmiah (UNAIM) YAPIS Wamena,Ahmad Rizali Pawane, S.Sos., M.IP., menegaskan bahwa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum penting dalam membentuk karakter, etika, dan budaya akademik mahasiswa baru.
Pernyataan tersebut disampaikan Ahmad Rizali Pawane saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kampus UNAIM YAPIS Wamena, Kamis (6/8/2026). Menurutnya, melalui PKKMB, mahasiswa baru dipersiapkan untuk mengenal kehidupan kampus sekaligus membangun sikap disiplin, integritas, dan tanggung jawab sebagai insan akademik.
“Kami ingin PKKMB menjadi ruang pembentukan karakter mahasiswa. Bukan hanya memperkenalkan lingkungan kampus, tetapi juga menanamkan etika, disiplin, dan budaya akademik yang baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan pra-PKKMB dijadwalkan berlangsung pada Senin, 10 Agustus 2026, sedangkan pelaksanaan PKKMB akan digelar mulai Selasa, 11 Agustus hingga Jumat, 14 Agustus 2026.
Menurut Ahmad Rizali, bidang kemahasiswaan terus berupaya membangun karakter mahasiswa melalui berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik agar mampu melahirkan lulusan yang berintegritas dan menjunjung tinggi nilai-nilai akademik.
“Kami ingin membentuk generasi yang memiliki karakter akademik yang kuat sehingga mampu menghindari berbagai perilaku yang tidak sesuai dengan etika sebagai mahasiswa,” katanya.
Selain mempersiapkan pelaksanaan PKKMB, UNAIM YAPIS Wamena saat ini juga membuka registrasi dan pembayaran bagi mahasiswa baru maupun mahasiswa lama Tahun Akademik 2026/2027. Registrasi telah dimulai sejak 27 Juli dan akan berlangsung hingga 30 Agustus 2026.
Perkuliahan aktif dijadwalkan dimulai pada 24 Agustus 2026, sementara pelaksanaan wisuda direncanakan pada 1 Oktober 2026.
Di sisi lain, pihak universitas memberikan perhatian khusus terhadap mahasiswa tingkat akhir. Ahmad Rizali mengatakan dirinya telah mengumpulkan para dekan dan ketua program studi untuk menyusun strategi percepatan penyelesaian studi, mulai dari seminar proposal, Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga ujian skripsi.
“Saat ini seluruh fakultas dan program studi sedang menyusun jadwal ujian proposal, ujian skripsi, serta agenda wisuda bagi mahasiswa yang telah memenuhi syarat,” ujarnya.
Ia menambahkan, masa studi maksimal mahasiswa sesuai ketentuan adalah delapan tahun. Meski demikian, universitas menargetkan mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Untuk mendukung target tersebut, setiap program studi aktif menyampaikan berbagai informasi akademik melalui grup WhatsApp dan media sosial agar mahasiswa angkatan 2019 dan 2020 segera menuntaskan kewajiban akademiknya.
Menurutnya, tingkat kelulusan tepat waktu di sejumlah fakultas, khususnya Fakultas Ilmu Sosial serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis, menunjukkan hasil yang cukup baik. Para mahasiswa tersebut dijadwalkan mengikuti yudisium pada akhir Agustus mendatang.
Terkait program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Ahmad Rizali mengingatkan bahwa pemerintah melalui Kementerian Pendidikan telah memperketat persyaratan penerima bantuan, terutama berkaitan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan keaktifan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan.
“Mahasiswa penerima KIP Kuliah yang tidak memenuhi ketentuan akademik atau tidak serius mengikuti perkuliahan dapat dihentikan bantuannya,” tegasnya.
UNAIM YAPIS Wamena juga terus memperkuat kerja sama dengan pemerintah kabupaten serta Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan guna memperluas akses bantuan pendidikan bagi mahasiswa yang mengalami keterbatasan ekonomi.
Menurut Ahmad Rizali, kampus menerapkan kebijakan keringanan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), sehingga mahasiswa dapat mencicil biaya kuliah sesuai kemampuan melalui mekanisme yang telah ditetapkan oleh bagian keuangan.
“Kami memahami kondisi ekonomi masyarakat saat ini. Karena itu mahasiswa diberikan kesempatan membayar biaya kuliah secara bertahap sesuai ketentuan kampus,” jelasnya.
Selain itu, pihak universitas telah mengajukan berbagai proposal kepada pemerintah daerah dan pemerintah provinsi untuk meningkatkan dukungan pembiayaan pendidikan bagi mahasiswa asal Papua Pegunungan. Data mahasiswa dari Kabupaten Jayawijaya, Lanny Jaya, Yalimo, Mamberamo Tengah, Yahukimo, dan Nduga juga telah dipetakan sebagai dasar penguatan kerja sama tersebut.
Ahmad Rizali berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembiayaan pendidikan mahasiswa asli Papua, khususnya melalui pemanfaatan dana Otonomi Khusus.
“Masih banyak mahasiswa kami yang belum menerima bantuan pendidikan dari dana Otonomi Khusus. Padahal mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh beasiswa sebagaimana mahasiswa asli Papua di daerah lain,” pungkasnya.(JS/Redaksi)

















