SULTENG,GarudaPost.id – Morowali, 26 April 2026 – Persoalan distribusi dan ketersediaan gas elpiji 3 kilogram di Kecamatan Menui Kepulauan kembali menjadi sorotan publik. Wilayah yang secara geografis berada di kawasan terluar Provinsi Sulawesi Tengah dan berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Tenggara itu dinilai masih menghadapi kesulitan dalam memperoleh kebutuhan dasar masyarakat.
Meski secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Morowali, akses ekonomi masyarakat Menui Kepulauan selama ini lebih dominan terhubung ke Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Kondisi tersebut menyebabkan warga kerap bergantung pada distribusi barang dari wilayah tetangga, termasuk kebutuhan gas elpiji 3 kilogram.
Aktivis sosial dan pemerhati pembangunan wilayah kepulauan, Sumanto Ilyas Garusu, menilai persoalan yang ramai diberitakan di media online bukan semata terkait dugaan tindak pidana penyelundupan gas elpiji 3 kilogram oleh oknum tertentu. Menurutnya, substansi utama persoalan adalah kepastian masyarakat dalam mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar berupa gas subsidi.
“Masalah ini sering kali dilupakan dan terus berulang. Yang harus dilihat adalah bagaimana masyarakat bisa mendapatkan gas elpiji 3 kilogram dengan layak dan terjangkau,” ujarnya.
Ia mengungkapkan sejumlah persoalan yang selama ini dialami masyarakat Menui Kepulauan. Pertama, harga gas elpiji di wilayah tersebut disebut menembus Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per tabung, jauh di atas harga normal. Kedua, distribusi gas masih menggunakan kapal penumpang yang dinilai rawan terhadap keselamatan. Ketiga, warga yang membeli gas ke Kendari untuk kebutuhan sendiri kerap berbenturan dengan persoalan hukum dan dianggap melakukan penyelundupan.
Atas kondisi itu, Sumanto meminta Pemerintah Kabupaten Morowali bersama pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk menjamin kebutuhan masyarakat.
Ia merekomendasikan agar pemerintah memastikan ketersediaan gas elpiji 3 kilogram dengan harga standar, memberikan pendampingan hukum apabila masyarakat benar-benar mengalami kriminalisasi saat berupaya memperoleh gas subsidi, serta melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara apabila distribusi dari Morowali belum mampu menjawab kebutuhan warga Menui Kepulauan.
“Jangan bermimpi soal pembangunan infrastruktur besar, jika hak dasar kebutuhan masyarakat Menui Kepulauan saja belum bisa direalisasikan,” tegasnya.
Sebagai informasi, Sumanto Ilyas Garusu juga merupakan mantan Ketua Umum Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Morowali Sulawesi Tenggara (Hipperwali-Sultra) yang selama ini aktif menyuarakan isu sosial, pembangunan daerah, dan kepentingan masyarakat pesisir serta kepulauan.


















