Manado.Garudarpost.id-Suasana politik di Kabupaten Kepulauan Sitaro kembali menjadi sorotan publik setelah beredarnya sebuah surat terbuka yang diduga ditulis oleh seorang ibu bupati dari balik Rumah Tahanan Manado.
Surat tersebut viral di media sosial dan menuai berbagai reaksi dari masyarakat, mulai dari rasa simpati hingga tuntutan agar proses hukum berjalan secara transparan. Jumat (8/5/2026)
Dalam surat yang tersebar luas itu, sang kepala daerah menyampaikan isi hati dan keresahannya terkait proses hukum yang sedang ia hadapi. Ia mengaku masih mempertanyakan apakah keadilan benar-benar ditegakkan secara jujur dan tanpa intervensi kepentingan tertentu.
Penetapan tersangka pada dirinya yang menghancurkan martabat, nama baik, serta karirnya hanya berdasarkan audit internal yang tidak melibatkan lembaga resmi lainnya seperti BPK.
Tulisan tersebut juga ditujukan kepada Presiden RI, Jaksa Agung, hingga pimpinan lembaga penegak hukum.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memiliki niat untuk merugikan negara ataupun menghancurkan kepercayaan masyarakat yang selama ini telah mendukung kepemimpinannya. Dalam narasi yang penuh emosi, ia mengaku merasa terpukul karena harus menghadapi situasi yang menurutnya belum sepenuhnya memberikan ruang pembelaan yang adil.
Curahan hati itu sontak menyentuh perhatian warga Sitaro. Banyak masyarakat mengaku sedih melihat kondisi pemimpin daerah mereka yang kini berada di balik jeruji besi. Sebagian warga bahkan membanjiri media sosial dengan doa dan dukungan moral agar proses hukum yang berlangsung dapat mengungkap fakta secara objektif.
Namun di sisi lain,masyarakat tetap menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Mereka menilai bahwa semua pihak memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan segala keputusan nantinya harus berdasarkan bukti serta fakta persidangan yang sah.
kemunculan surat tersebut bisa menjadi bentuk komunikasi emosional kepada masyarakat dan para pendukungnya. Menurut mereka, pesan seperti ini sering muncul ketika seorang pejabat publik tengah menghadapi tekanan besar dan ingin menyampaikan sisi kemanusiaannya kepada publik.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak kuasa hukum maupun aparat penegak hukum terkait isi surat yang viral tersebut. Meski demikian, perbincangan mengenai kasus ini terus menjadi topik hangat di berbagai platform media sosial dan grup masyarakat Sulawesi Utara.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik jabatan dan kekuasaan, seorang pemimpin tetaplah manusia yang memiliki rasa takut, sedih, dan harapan. Publik kini menunggu bagaimana akhir dari proses hukum tersebut, sembari berharap keadilan benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu. (R)









