Garudapost.id |MURUNG RAYA, KALIMANTAN TENGAH, 22 Mei 2026 – Menjadi tenaga medis dan bertugas di daerah terpencil adalah sebuah panggilan jiwa sekaligus tantangan besar. Hal inilah yang dijalani oleh dr. Lolita Devaprilia, dokter penugasan khusus di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Sejak November 2025, ia menjadi satu-satunya dokter yang bertugas di UPT Puskesmas Betang Barigas, wilayah yang aksesnya sangat sulit dijangkau dan jauh dari fasilitas memadai.
Lokasi puskesmas ini terletak di pelosok wilayah. Untuk mencapai tempat bertugasnya, dr. Lolita harus menempuh perjalanan berat: menyusuri aliran sungai menggunakan perahu, atau berjalan Darat, Kedesa desa jalan berlumpur karna takut naik motor, berjalan kaki pelan pelan menembus ketika debit air sedang Naik di Tumbang bauh, sulit menjangkau pasien di Tumbang Bauh, menggunakan perahu Dayung, Di sinilah ia mengabdikan ilmunya, memikul tanggung jawab kesehatan bagi tujuh desa, enam pos kesehatan, dan melayani hampir 3.000 jiwa warga setempat.
Tantangan yang dihadapi sangatlah besar. Masalah mendasar seperti ketersediaan air bersih masih menjadi kendala utama. Sebagian besar warga masih mengandalkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, dan saat musim kemarau tiba, mereka harus menunggu turun hujan guna menampung persediaan air. Kondisi ini berdampak langsung pada pola kesehatan masyarakat. Beragam penyakit muncul, banyak anak belum mendapatkan imunisasi lengkap, dan tingkat pemahaman kesehatan masyarakat masih tergolong rendah, sehingga penyuluhan atau edukasi kesehatan sulit diterima sepenuhnya.
“Sering kali saya sudah menjelaskan panjang lebar mengenai pencegahan dan cara menjaga kesehatan, namun pemahaman yang sampai kadang hanya satu kalimat sederhana dari warga: ‘Yang penting sembuh saja, Dok’,” ungkap dr. Lolita saat diwawancarai awak media, menceritakan kenyataan yang sering ia temui.
Namun, kondisi sulit dan keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Setiap pagi, dr. Lolita dan timnya berkeliling ke pelosok kampung, menembus panas, hujan, maupun jalanan berlumpur. Ia terus berupaya memberikan pengobatan sekaligus menanamkan pemahaman kesehatan secara perlahan namun pasti.
Ada satu momen berharga yang selalu ia ingat dan menjadi kekuatan baginya. Suatu hari, seorang ibu datang membawa anaknya yang menderita demam tinggi akibat infeksi yang disebabkan oleh konsumsi air sungai yang tidak diolah. Dengan sabar, dr. Lolita duduk berjam-jam menjelaskan secara perlahan betapa pentingnya memasak air bersih sebelum dikonsumsi. Saat itu, sang ibu hanya diam dan mengangguk pelan.
Sebulan kemudian, ibu yang sama kembali datang ke puskesmas. Kali ini bukan membawa anak yang sakit, melainkan membawa sebuah ember berisi air. “Dok, ini airnya sudah saya masak dulu. Anak saya sudah tidak demam lagi,” ujar ibu itu dengan wajah gembira.
Keberhasilan kecil itulah yang membuat dr. Lolita tersenyum bahagia seharian. Ia sadar, bekerja di daerah terpencil bukanlah soal pekerjaan yang cepat selesai, melainkan tentang kesabaran menanam pemahaman satu per satu hingga nilai kesehatan itu tumbuh dan menjadi kebiasaan masyarakat.
Hingga kini, dr. Lolita tetap teguh berdiri di tempat bertugasnya. Ia menegaskan tekadnya untuk terus mengabdi. “Saya senang berada dan mengabdi di sini. Capek itu pasti ada, namun manfaat yang saya rasakan langsung terasa nyata. Selama saya masih mampu membantu, saya akan tetap ada di sini bersama masyarakat,” pungkasnya.
Dedikasi dr. Lolita menjadi bukti nyata kehadiran tenaga kesehatan yang tak hanya mengobati penyakit, tetapi juga berjuang meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah paling terpencil Kabupaten Murung Raya.
Dari Murung Raya Priadi Garudapost.id

















