Garudapost.id√√ GORONTALO — senin 25/5/2026 Mei Kawasan strategis Simpang Lima Kota Gorontalo, yang menjadi urat nadi transportasi dan aktivitas ekonomi daerah, mengalami kelumpuhan total pada Senin (25/5) siang. Kemacetan parah tidak dapat dihindarkan setelah gelombang massa yang terdiri dari koalisi mahasiswa, elemen masyarakat, serta puluhan sopir truk kontainer menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di tengah jalan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, massa aksi sengaja memarkirkan belasan kendaraan roda enam dan truk kontainer berukuran besar secara melintang tepat di tengah persimpangan. Blokade ini membuat arus lalu lintas dari dan menuju pusat Kota Gorontalo, Kabupaten
Gorontalo, serta jalur lintas provinsi terhenti sama sekali. Antrean kendaraan roda dua maupun roda empat mengular hingga beberapa kilometer dari berbagai arah.
Menuntut Keadilan Atas Kelangkaan Solar yang Berlarut-larut
Aksi unjuk rasa ini merupakan puncak dari kulminasi kekecewaan masyarakat terhadap krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar yang terjadi selama beberapa pekan terakhir. Kelangkaan yang berlarut-larut ini dinilai telah mencekik urat nadi perekonomian para pekerja sektor transportasi logistik.
Para sopir kontainer mengaku berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka terpaksa menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk mengantre di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), tanpa adanya kepastian apakah akan mendapatkan solar atau tidak.
”Kami sudah tidak bisa bekerja dengan normal lagi. Waktu kami yang seharusnya digunakan untuk mencari nafkah dan mengantar barang, justru habis sia-sia di jalanan hanya untuk mengantre solar yang sering kali dinyatakan kosong oleh pihak SPBU. Pendapatan kami merosot tajam, sementara kebutuhan keluarga tidak bisa ditunda. Kami menuntut pemerintah daerah dan pihak Pertamina segera turun tangan menyelesaikan masalah ini,” teriak salah satu perwakilan sopir truk dalam orasinya yang berapi-api di atas mobil komando.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada dapur para sopir, tetapi juga mulai mengganggu stabilitas distribusi logistik ke berbagai wilayah di Provinsi Gorontalo. Keterlambatan pengiriman pasokan barang pokok dikhawatirkan akan memicu efek domino yang merugikan masyarakat luas.
Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Turut Mengawal: “Ada Indikasi Permainan”
Bergerak atas dasar empati dan dampak ekonomi yang mulai meluas, Aliansi Mahasiswa dan elemen masyarakat Gorontalo turut turun ke jalan untuk mengawal aspirasi para sopir. Kehadiran kaum intelektual ini memberikan dorongan moral sekaligus mempertegas bahwa isu kelangkaan solar bukan sekadar masalah teknis di SPBU, melainkan masalah sistemik yang krusial.
Dalam pernyataan sikapnya,
perwakilan mahasiswa menegaskan bahwa krisis solar yang terjadi berulang kali ini mengindikasikan adanya kelemahan fatal pada sistem pengawasan dan regulasi distribusi di tingkat daerah.
Massa menduga adanya praktik mafia migas atau penimbunan solar bersubsidi oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang dialihkan ke sektor industri besar. Jika pengawasan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta aparat penegak hukum terus melempem, mahasiswa mengancam akan membawa massa yang lebih besar.
”Kelangkaan ini tidak masuk akal jika kuota dari pusat dianggap aman. Kami melihat ada masalah besar pada rantai distribusi. Jika pemerintah membiarkan hal ini berlarut-larut, harga-harga barang pokok di pasar pasti akan melonjak tajam karena biaya logistik yang membengkak. Yang paling menderita nanti adalah rakyat kecil,” ujar koordinator lapangan aliansi mahasiswa dalam orasinya.
Situasi Terkini dan Penjagaan Ketat Aparat kepolisian
Hingga sore hari, ratusan massa aksi dilaporkan masih bertahan di kawasan Simpang Lima Kota Gorontalo. Mereka menegaskan tidak akan membuka blokade jalan sebelum ada perwakilan dari Pemerintah Provinsi Gorontalo, DPRD, maupun pihak Pertamina yang datang langsung ke lokasi untuk memberikan solusi konkret dan menandatangani pakta integritas.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, aparat kepolisian dari Polresta Gorontalo Kota dibantu oleh personel TNI dikerahkan secara ketat di sekitar lokasi unjuk rasa. Polisi terus berupaya melakukan negosiasi humanis dengan massa aksi agar bersedia membuka sebagian akses jalan demi ambulans dan kendaraan darurat.
Selain itu, Satlantas Polresta Gorontalo Kota juga telah dikerahkan ke sejumlah titik persimpangan sebelum Simpang Lima untuk mengalihkan arus lalu lintas ke beberapa jalur alternatif guna mengurai penumpukan kendaraan yang kian parah. Masyarakat diimbau untuk menghindari kawasan Simpang Lima hingga situasi benar-benar kondusif.
Penulis: Zulkipli Uno
Editor: Redaksi












