Garudapost.id√√ KOTA GORONTALO, Rabu (20/5/2026) – Gorontalo kini memiliki ruang baru untuk merawat memorinya. Bertepatan dengan HUT ke-100 RSUD Aloei Saboe, Pemerintah Kota Gorontalo meresmikan Museum Aloei Saboe, sebuah landmark sejarah yang didedikasikan untuk mengenang jasa Prof. dr. H. Aloei Saboe, sosok dokter pejuang kemerdekaan dan pahlawan kemanusiaan asal daerah ini.
Peresmian yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri oleh Susanto Liputo, Anggota DPRD Kota Gorontalo yang juga menjabat sebagai Ketua Barisan Pemuda Nusantara (Bapera) Provinsi Gorontalo. Kehadirannya mewakili Ketua DPRD sekaligus membawa perspektif khusus mengenai peran museum dalam membentuk karakter generasi muda.
Bagi Susanto, museum ini bukan sekadar bangunan penyimpan artefak, melainkan “ruang hidup” yang harus aktif menginspirasi. Sebagai tokoh pemuda dan legislator, ia melihat potensi besar museum ini sebagai laboratorium kepemimpinan bagi pelajar dan mahasiswa.
“Prof. Aloei Saboe adalah bukti nyata bahwa intelektualisme dan nasionalisme bisa berjalan beriringan. Beliau tidak hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga mengobati jiwa bangsa saat masa penjajahan. Melalui museum ini, kita ingin menunjukkan kepada pemuda Gorontalo bahwa menjadi pemimpin itu tentang pengabdian, bukan sekadar jabatan,” ujar Susanto.
Sebagai Ketua Komunitas Pencinta Arsip (Kopia) dan pendiri Kampung Buku Tinelo Lipuu, Susanto menekankan pentingnya literasi sejarah. Ia khawatir jika generasi muda hanya mengenal nama “Aloei Saboe” sebatas nama jalan atau gedung rumah sakit, tanpa memahami substansi perjuangan di baliknya.
“Selama ini, narasi tentang beliau sering terfragmentasi. Museum ini hadir untuk menyatukan kembali potongan-potongan sejarah tersebut—mulai dari dokumen medis, foto perjuangan, hingga kisah-kisah inspiratif yang tersimpan rapi. Ini adalah bahan bakar semangat bagi pemuda untuk terus berkarya,” jelasnya.
“Saya menghimbau dan mengajak masyarakat utamanya anak2 muda untuk aktif di sini. Kita butuh kurator muda, pemandu wisata milenial, dan kreator konten yang bisa ‘menerjemahkan’ sejarah lama ke dalam bahasa kekinian. Museum tidak boleh sunyi; ia harus ramai dengan ide-ide baru,” tegasnya.
Susanto juga menyoroti dampak ekonomi dan pariwisata. Ia optimis Museum Aloei Saboe dapat menjadi destinasi edutourism (wisata edukasi) andalan Gorontalo, yang secara otomatis menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar, mulai dari pedagang kaki lima hingga penyedia jasa transportasi lokal.
Namun, ia mengingatkan bahwa peresmian hanyalah awal. Keberlanjutan museum membutuhkan sinergi kuat antar-instansi pemerintah. Oleh karena itu, melalui lembaga legislatif di DPRD, Susanto akan mendorong adanya kolaborasi strategis yang tidak hanya terbatas pada manajemen RSU, Dinas Kesehatan tetapi juga meluas ke Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Parpora), serta berbagai lembaga terkait lainnya untuk keberlangsungan meseum ini agar tetap hidup dan ramai.
Menutup sambutannya, Susanto mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan Museum Aloei Saboe sebagai rumah kedua dalam belajar nilai-nilai luhur.
“Mari kita ramakan museum ini dengan kegiatan positif. Biarkan nilai perjuangan Prof. Aloei Saboe terus bernapas di tengah arus modernisasi. Torang Bekeng Bae!” seru Susanto.
Langkah Pemkot Gorontalo dan manajemen RSUD Aloei Saboe dalam meresmikan museum ini dinilai sebagai bentuk serius dalam menjaga identitas daerah di tengah derasnya arus globalisasi, sekaligus memberikan hadiah terbaik bagi generasi penerus bangsa.
Jurnalis/Penulis: RK
Narasumber: Susanto Liputo

















