MANOKWARI, Garudapost.id – Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) menggelar diskusi bersama para senior yang terdiri dari akademisi, anggota DPR Papua Barat, aparat kepolisian, serta perwakilan Kerukunan Pegunungan Tengah, pada Sabtu (6/6/2026) asrama mahasiswa Jayawijaya di amban Manokwari.
Kegiatan yang merupakan bagian dari pertemuan ke-16 Koordinator Wilayah (Korwil) IMPT ini difokuskan pada penguatan organisasi, kaderisasi, serta sinergi dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Tanah Papua.
Diskusi dipimpin langsung oleh Alosius Siep, yang juga menjabat sebagai Ketua DPR Provinsi Papua Barat. Dalam arahannya, ia mengapresiasi kehadiran dan partisipasi aktif 15 Korwil yang tergabung dalam IMPT.
Menurut Alosius, kepemimpinan dalam organisasi harus dihormati tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik seseorang.
“Jangan pernah memandang fisik pengurus IMPT. Biarpun badannya kecil, hargai dia sebagai pemimpin,” tegas Alosius Siep di hadapan peserta diskusi.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Stepanus Pakage, pendiri IMPT sekaligus dosen Universitas Papua, memaparkan sejarah berdirinya organisasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa IMPT lahir dari semangat dan perjuangan para senior Pegunungan Tengah di tengah keterbatasan sarana komunikasi dan kondisi ekonomi pada masa itu.
Ia berharap generasi penerus dapat menjaga nilai-nilai perjuangan yang menjadi dasar terbentuknya organisasi mahasiswa tersebut.
Sementara itu, Ketua Koordinator Wilayah Kabupaten Lanny Jaya, Pendei Wanimbo, menegaskan pentingnya membangun organisasi yang solid melalui sistem koordinasi yang jelas.
“Garis koordinasi dan garis komando harus jelas agar arah berjalannya organisasi tetap baik dan terukur,” ujarnya.
Sorotan lain datang dari salah satu senior IMPT, Nebot Wedigipa, yang akrab disapa “Orang Kaya Widigipa”. Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi kaderisasi organisasi saat ini yang dinilai belum berkembang secara maksimal.
“Entah faktor apa yang menyebabkan, namun kader itu sangat penting. Keadaan sekarang sungguh menyedihkan,” tuturnya.
Dari aspek keamanan, Matius Oagai, anggota Kepolisian Republik Indonesia, mengungkapkan bahwa kasus kriminal yang paling banyak ditemukan di wilayah Pegunungan Tengah masih didominasi oleh persoalan minuman keras (miras). Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, untuk bersama-sama menjaga stabilitas keamanan.
Selain itu, Matius juga menekankan pentingnya proses pembinaan dan pendekatan yang baik antara aparat keamanan dan masyarakat guna menghindari kesalahpahaman yang dapat memicu konflik sosial.
Di akhir sesi diskusi, Ketua Umum IMPT periode saat ini, Nando Kayame, menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi harus dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi antarwilayah.
“Tingkat koordinasi antara IMPT dan 15 Korwil harus semakin kuat agar program organisasi dapat berjalan efektif,” katanya.
Terkait substansi pembahasan dalam forum tersebut, Nando menegaskan bahwa IMPT tetap menjaga independensi organisasi.
“Jika diskusi ini hanya untuk kepentingan elit, saya menolak. Namun karena yang memimpin diskusi adalah para senior yang memiliki kepedulian terhadap organisasi, maka kami menghormati dan menerima masukan tersebut,” tegasnya.
Diskusi berlangsung dalam suasana kondusif dan penuh kekeluargaan. Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat kaderisasi, meningkatkan soliditas organisasi, serta menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di Papua, khususnya di wilayah Manokwari dan Pegunungan Tengah.(*)

















