WAMENA, Garudapost.id– Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat Papua Pegunungan, Ketua Kelompok Tani Opalima, Frengky Alua, S.Kom, mengajak generasi muda di Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, untuk kembali menghidupkan budaya menanam ubi dan mengembangkan pangan lokal sebagai fondasi ketahanan pangan dan ekonomi keluarga.
Ajakan tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembersihan lahan seluas dua hektare di kawasan Samagima, Kampung Abusa, Distrik Kurulu, yang dilakukan bersama masyarakat pada Sabtu (6/6/2026).
Menurut Frengky, kondisi perputaran ekonomi yang belum stabil mendorong generasi muda untuk mengambil langkah nyata dengan kembali mengelola lahan pertanian dan memanfaatkan potensi pangan lokal yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat Pegunungan Tengah.
“Kami sebagai generasi muda mengajak bapa, mama, dan seluruh masyarakat untuk kembali membuka kebun dan memberdayakan pangan lokal. Dengan begitu, kita bisa memperkuat ekonomi keluarga dari hasil kebun sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lahan yang sedang dibersihkan tersebut akan ditanami ubi serta sekitar 300 bibit pisang varietas tumpangsari. Program ini digagas secara swadaya oleh para petani milenial tanpa dukungan anggaran pemerintah maupun dana desa.
Frengky menilai budaya menanam ubi yang dahulu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat kini mulai ditinggalkan. Padahal, pangan lokal merupakan sumber pangan sehat sekaligus penopang ekonomi masyarakat di kampung-kampung.
“Kami tidak ingin kehilangan budaya pangan lokal. Kebun adalah supermarket masyarakat Papua. Dari kebun, masyarakat bisa menanam, memanen, dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” katanya.
Melalui gerakan ini, para pemuda berharap budaya bertani dapat kembali tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus menjadi solusi menghadapi tantangan ekonomi dan menjaga ketahanan pangan lokal di Kabupaten Jayawijaya.
Kegiatan pembersihan lahan masih terus berlangsung. Hasil panen yang akan diperoleh nantinya diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperkuat nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur.(*)

















