GARUDAPOST.ID | JAKARTA – Kamis, 30 Rajab 1448 H / 30 April 2026 M “Seandainya iman itu berada di bintang Tsurayya, niscaya akan digapai oleh orang-orang dari Persia.” (HR. Muslim)
Kalimat Nabi Muhammad ﷺ itu kembali menggema. Bukan dari mimbar masjid, tapi dari studio podcast. Si Raja Dangdut, Rhoma Irama, duduk berhadapan dengan Guru Besar UI Bidang Sejarah dan Geopolitik Timur Tengah, Prof. Yon Machmudi.
Topiknya berat: peta umat Islam hari ini. Kesimpulannya menohok: Iran disebut “benteng terakhir umat Islam”.
TAJAMNYA ANALISIS: KETIKA RAJA DANGDUT BICARA GEOPOLITIK
Rhoma Irama bukan sekadar bicara nada dan dakwah. Dalam podcast itu, beliau membedah realitas umat: Palestina dijajah, negeri-negeri Arab bungkam, penguasa Muslim tunduk pada tekanan Barat.
Lalu matanya tertuju ke Teheran. “Di tengah badai normalisasi, di tengah diamnya dunia Islam, hanya Iran yang berdiri tegak melawan Zionis. Maka pantas jika disebut benteng terakhir,” ujar Rhoma.
Prof. Yon Machmudi mengamini dengan kacamata akademisi. Ia urai sejarah Persia, perlawanan Iran sejak Revolusi 1979, hingga konsistensinya membela Palestina saat yang lain memilih jalan damai semu.
LEMBUTNYA NURANI: HADIS NABI TENTANG BANGSA PERSIA
Rhoma tak bicara hawa nafsu. Ia sandarkan pada sabda Rasulullah ﷺ. Hadis riwayat Muslim itu jadi dalil: keunggulan iman akan diraih bangsa Persia, meski iman itu setinggi bintang Tsurayya.
“Bukan soal mazhab. Ini soal keberanian membela yang benar. Soal keteguhan di jalan Allah saat yang lain takut,” tegas Rhoma.
Prof. Yon tambahkan: “Sejarah mencatat, Persia selalu jadi kekuatan peradaban. Ketika dunia Islam lemah, dari sanalah muncul pembelaan.”
MUHASABAH UNTUK UMAT: DI MANA POSISI KITA?
Podcast itu bukan sekadar obrolan. Ia tamparan. Jika Iran disebut benteng terakhir, lalu di mana kita? Bangsa dengan Muslim terbesar di dunia. Negeri yang merdeka dengan pekik Allahu Akbar
Apakah kita sudah jadi batu bata di benteng itu? Atau justru jadi duri di jalan para pembelanya?
Wahai saudaraku, perbedaan fiqih jangan jadikan kita buta pada kezaliman. Perbedaan mazhab jangan halangi kita bela Al-Quds. Karena musuh tak pernah tanya kita Sunni atau Syiah saat peluru mereka menembus dada anak-anak Gaza.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Semoga Allah satukan hati umat ini. Jadikan kita bagian dari pembela, bukan pencela. Jadikan kita batu di benteng kebenaran, bukan pengkhianat yang buka pintu untuk musuh.
(Tim Redaksi)



















