Karawang, GarudaPost.id – Suasana khidmat sekaligus penuh kebersamaan terasa di kawasan Tugu Proklamasi Rengasdengklok, Senin (4/5/2026). Ratusan warga tumpah ruah di pendopo alun-alun Lapangan Bojong Tugu untuk mengikuti tradisi Hajat Bumi (Babarit) yang mengusung tema “Ngamumule Tradisi, Ngaruat Bumi, Jagat Saamparan”.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan. Babarit menjadi wujud syukur kepada Yang Maha Agung, sekaligus pengingat bahwa manusia punya utang panjang pada alam yang selama ini memberi kehidupan. Caranya sederhana tapi dalam: menjaga, merawat, dan menghormati bumi beserta segala isinya.
Hadir dalam kegiatan tersebut Lurah Rengasdengklok Selatan ibu Asih Mintarsih, Camat Rengasdengklok bapak Panji Santoso, Kepala Bidang Kebudayaan (Kabid) bapak Waya Karmila, serta ibu Tien Pramudiyani yang mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karawang. Kegiatan juga mendapat pengamanan dari jajaran Polsek Rengasdengklok.

Di balik layar, Ketua Panitia bapak Ronal bersama timnya bekerja memastikan acara berjalan lancar. Dukungan juga datang dari para juru pelihara (Jupel) Tugu Proklamasi, bapak Cece dan bapak Agak Asmara. Prosesi inti berlangsung sakral saat pengikraran dan doa bersama dipimpin oleh Bah Dede Supardi, diiringi kehadiran para tokoh kasepuhan serta Paguyuban Bale Hideung yang menambah nuansa adat semakin kental.
Antusiasme masyarakat terlihat jelas. Warga dari berbagai daerah datang berbondong-bondong, bukan hanya untuk menyaksikan, tetapi juga berharap mendapatkan keberkahan dan kelancaran dalam kehidupan mereka. Di tengah hiruk-pikuk zaman modern, momen seperti ini justru jadi ruang “istirahat” bagi nilai-nilai lama yang nyaris terpinggirkan.
Rangkaian acara diisi dengan doa bersama yang menekankan nilai kebersamaan, gotong royong, dan cinta tanah air. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Rengasdengklok bukan sekadar wilayah administratif, tetapi tanah yang menyimpan jejak penting sejarah perjuangan bangsa.
Dalam sambutannya, bapak Waya Karmila menekankan pentingnya menjaga sauyunan atau kebersamaan. Ia juga menggambarkan kekayaan alam Karawang yang lengkap dan jarang disadari banyak orang.

“Karawang bagian Utara memiliki laut dan hamparan sawah yang luas. Di Selatan terdapat gunung dan perbukitan yang indah. Sementara di Barat, Sungai Citarum menjadi batas alami antara Karawang dan Bekasi, serta jalur Pantura di Timur yang menjadi urat nadi ekonomi. Ini menunjukkan Karawang kaya akan segalanya,” ujarnya.
Melalui Hajat Bumi ini, masyarakat tidak hanya merawat tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat hubungan antara manusia, alam, dan sejarah. Sebuah pengingat sederhana, bahwa kemajuan tidak selalu harus menghapus akar, justru sebaliknya, harus tumbuh dari sana.
Penulis : (Runda_Permana)
Editor : Redaksi









