LIMBOTO, GARUDAPOST.ID- Kabupaten Gorontalo bersiap memotret wajah perekonomian daerah secara lebih utuh melalui pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026. Sebanyak 439 petugas sensus telah disiapkan untuk menyisir seluruh desa dan kelurahan guna mendata setiap aktivitas usaha yang berlangsung di tengah masyarakat, mulai dari usaha mikro hingga perusahaan besar.
Kepala BPS Kabupaten Gorontalo, Dr. Suparno, S.ST., S.E., M.Si., menegaskan bahwa Sensus Ekonomi 2026 merupakan agenda statistik nasional yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi dan struktur perekonomian nasional maupun daerah.
Menurutnya, sensus kali ini memiliki tantangan yang lebih kompleks dibandingkan periode sebelumnya karena harus mampu menangkap perkembangan ekonomi yang semakin dinamis, termasuk pertumbuhan ekonomi digital yang terus berkembang di tengah masyarakat.
“Tujuan utama Sensus Ekonomi adalah mencatat seluruh aktivitas ekonomi yang ada. Namun pada tahun 2026 ini ada penekanan yang lebih kuat terhadap ekonomi digital. Kita ingin mengetahui sejauh mana penetrasi ekonomi digital di Kabupaten Gorontalo dan bagaimana perkembangannya di tengah masyarakat,” kata Suparno
saat diwawancarai usai kegiatan Pencanangan dan Pelepasan Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Hotel Amaris Gorontalo, Rabu (10/6/2026).
Menurut Suparno, perkembangan teknologi telah mengubah pola usaha masyarakat. Banyak aktivitas ekonomi yang kini tidak lagi terlihat secara fisik karena berlangsung melalui media sosial maupun platform digital.
Ia mencontohkan, banyak pelaku usaha yang menjalankan bisnis dari rumah tanpa memiliki toko atau tempat usaha konvensional. Dari luar terlihat seperti rumah biasa, namun di dalamnya berlangsung aktivitas ekonomi yang cukup besar.
“Kalau dulu usaha mudah dikenali karena ada toko atau tempat usaha. Sekarang banyak pelaku usaha yang berjualan melalui media sosial, marketplace, atau platform digital lainnya. Aktivitas ekonominya besar, tetapi sulit terlihat secara kasat mata. Karena itu, sensus ini menjadi penting untuk menangkap fenomena tersebut,” ujarnya.
Suparno menambahkan, data ekonomi digital selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pendataan statistik karena sebagian besar transaksi berlangsung secara virtual dan tidak mudah teridentifikasi.
“Potensi ekonomi digital sangat besar, tetapi datanya sulit diperoleh. Melalui sensus ini kami ingin mengetahui seberapa besar aktivitas ekonomi digital yang telah berkembang di Gorontalo sehingga nantinya dapat menjadi dasar perumusan kebijakan pembangunan ekonomi yang lebih tepat,” jelasnya.
Untuk menyukseskan pendataan tersebut, BPS Kabupaten Gorontalo telah melatih 439 petugas sensus dalam tiga gelombang. Gelombang pertama diikuti 125 petugas, gelombang kedua sekitar 150 petugas, dan gelombang ketiga sebanyak 166 petugas.
Seluruh petugas akan disebar ke setiap desa dan kelurahan di Kabupaten Gorontalo dengan wilayah kerja yang telah dipetakan secara rinci guna menghindari tumpang tindih pendataan.
“Setiap petugas sudah memiliki wilayah tugas masing-masing yang ditetapkan sejak awal. Mereka memiliki beban kerja yang relatif sama, yakni mendata sekitar 400 hingga 600 kepala keluarga atau unit usaha selama masa pendataan,” ungkapnya.
Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 akan berlangsung selama dua setengah bulan, mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Dalam periode tersebut, petugas akan melakukan pendataan secara langsung dari rumah ke rumah maupun ke lokasi usaha untuk memastikan seluruh aktivitas ekonomi dapat terdata dengan baik.
Yang menarik, BPS menerapkan prinsip ‘No One Left Behind’ dalam pelaksanaan sensus kali ini. Artinya, tidak boleh ada satu pun unit usaha yang terlewat dari proses pendataan.
“Semua usaha ekonomi akan didata. Mulai dari usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, hingga perusahaan besar. Tidak boleh ada satu usaha pun yang terlewat karena setiap aktivitas ekonomi memiliki kontribusi terhadap pembangunan daerah,” tegas Suparno.
Sementara itu, Bupati Gorontalo Sofyan Puhi menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Gorontalo memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 karena data yang dihasilkan akan menjadi fondasi utama dalam merumuskan arah pembangunan daerah.
Menurut Sofyan, keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada kualitas data yang dimiliki pemerintah. Karena itu, data statistik yang akurat, mutakhir, dan terpercaya menjadi kebutuhan mendasar dalam menyusun berbagai kebijakan strategis daerah.
“Sensus Ekonomi 2026 menjadi sangat penting bagi Pemerintah Kabupaten Gorontalo. Data yang dihasilkan akan memberikan gambaran nyata tentang kondisi dan struktur perekonomian daerah, mulai dari jumlah usaha, karakteristik pelaku usaha, hingga potensi ekonomi yang berkembang di setiap wilayah,” ujar Sofyan.
Ia menambahkan, data hasil sensus nantinya akan menjadi bahan evaluasi terhadap berbagai program pembangunan yang telah berjalan sekaligus menjadi pijakan dalam menyusun kebijakan yang lebih efektif dan tepat sasaran sesuai visi dan misi pembangunan daerah.
Melalui Sensus Ekonomi 2026, Pemerintah Kabupaten Gorontalo dan BPS berharap dapat menghadirkan potret ekonomi daerah yang lebih lengkap, termasuk perkembangan ekonomi digital yang selama ini belum sepenuhnya terpetakan. Data tersebut diharapkan menjadi landasan kuat dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi, memperluas kesempatan usaha, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan melibatkan ratusan petugas dan menjangkau seluruh wilayah desa dan kelurahan, Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar kegiatan pendataan, melainkan investasi strategis untuk menghadirkan kebijakan pembangunan yang lebih presisi dan berbasis fakta di Kabupaten Gorontalo.












