LIMBOTO, Garudapost.id – Gelaran Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan Andalan XVII Tahun 2026 di Kabupaten Gorontalo mencatatkan momen istimewa bagi wilayah timur Indonesia. Anjungan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya sukses memukau ribuan pengunjung melalui perpaduan estetika budaya dan visi pembangunan modern yang ditampilkan secara apik pada panggung nasional tanggal 23/05/2026.
Berbeda dari stan pameran konvensional, anjungan Papua Barat Daya menghadirkan pengalaman imersif yang langsung menyapa indra pengunjung. Dominasi warna biru dan hijau pada dekorasi bukan sekadar hiasan, melainkan representasi visual dari kekayaan bahari dan hutan tropis yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Di tengah hiruk-pikuk arena, rombongan perwakilan provinsi tampil percaya diri memadukan seragam dinas resmi dengan mahkota bulu kasuari asli, menciptakan kontras harmonis antara birokrasi profesional dan kearifan lokal yang tak lekang oleh waktu.
Sentuhan humanis turut mewarnai penampilan mereka. Kehadiran seorang anak kecil di antara barisan orang dewasa menjadi simbolisasi kuat bahwa pembangunan di Papua Barat Daya tidak hanya berorientasi pada capaian ekonomi hari ini, tetapi juga pada warisan untuk generasi mendatang. Spanduk “Visi & Misi” yang terpampang jelas di latar belakang, dipadukan dengan tayangan video promosi wisata di layar digital, berhasil mengomunikasikan narasi kemajuan daerah secara efektif tanpa meninggalkan akar tradisi.
Partisipasi dalam PENAS XVII dimanfaatkan secara strategis oleh provinsi termuda di ujung barat Pulau Papua ini. Bukan sekadar menampilkan produk seperti rumput kebar atau ulat sagu, anjungan ini berfungsi sebagai etalase investasi dan diplomasi budaya. Para pengunjung yang memadati stan tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga terlibat dalam diskusi substantif mengenai peluang kolaborasi bisnis, transfer teknologi pertanian, dan pengembangan destinasi wisata berkelanjutan.
Kehadiran Papua Barat Daya di Limboto membuktikan bahwa wilayah timur Indonesia memiliki daya tawar yang kuat di kancah nasional. Melalui pendekatan yang menyeimbangkan promosi ekonomi dan pelestarian identitas kultural, anjungan ini tidak hanya menjadi titik favorit dalam Gelar Agribisnis PENAS XVII, tetapi juga menegaskan bahwa modernisasi dan tradisi dapat berjalan beriringan menuju Indonesia yang maju dan berdaulat.
RK

















