Nobar dan Diskusi Film Dokumenter “Pesta Babi” di Manokwari: Mahasiswa Pegunungan Tengah Gaungkan Kesadaran atas Realita Pahit di Tanah Papua

Selasa, 23 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garudapost.id |Manokwari, 22 Juni 2026 – Di tengah euforia Piala Dunia, puluhan mahasiswa asal Pegunungan Tengah yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) memilih jalan berbeda. Mereka justru menyaksikan bersama dan mendiskusikan film dokumenter Pesta Babi di Asrama Mahasiswa Puncak, Manokwari, pada Senin (22/6/2026), mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIT

Film dokumenter Pesta Babi yang telah tayang di kanal YouTube resmi Redaksi Jubi ini sengaja dihadirkan dalam format nonton bareng (nobar) karena dianggap bukan sekadar tontonan biasa. Bagi para mahasiswa, film ini merupakan catatan penting atas realita pahit yang sedang dialami masyarakat Papua, khususnya di wilayah Pegunungan Tengah.

Meskipun telah dipublikasikan secara luas, masih ada sejumlah mahasiswa dan calon mahasiswa baru yang baru pertama kali menyaksikan film tersebut. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk membangun kesadaran kolektif di kalangan generasi muda Papua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Acara dibuka dengan doa oleh Darius, yang bertindak sebagai moderator. Darius memberikan pandangan umum mengenai isi film dan pentingnya pemahaman kritis terhadap realitas sosial-politik di Tanah Papua. Ia memperkenalkan dua pemateri utama, yakni Yenuson Rumakew dan Paskalis Haluk, yang akan memaparkan sudut pandang dari perspektif mahasiswa dan hak asasi manusia.

Setelah menonton lanjut dengan diskusi tanya jawab hingga diskusi bebas.

Yenuson Rumakew menyampaikan pandangan mahasiswa terhadap isi film dokumenter tersebut. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa perlawanan mahasiswa harus tetap menyala bagaikan api di tengah tekanan kolonialisme yang masih terasa di Tanah Papua. Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak tinggal diam dan terus menyuarakan kebenaran.

Paskalis Haluk memaparkan perspektif hak asasi manusia (HAM) di Tanah Papua. Ia mengungkapkan adanya intimidasi yang dialami oleh pihak-pihak yang mencoba memutar film ini, baik dari aparat keamanan maupun kalangan akademisi di sejumlah daerah. Meskipun demikian, Paskalis menegaskan bahwa film ini justru membangkitkan kesadaran masyarakat luas dan menjadi penggerak donasi bagi para pengungsi.

Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif. Para peserta antusias mengajukan pertanyaan dan berbagi tanggapan terkait isu-isu yang diangkat dalam film. Suasana haru menyelimuti ruangan ketika Deprianus Tagi, salah satu calon mahasiswa baru yang baru pertama kali menonton film ini, mengaku terharu hingga menangis.

“Realita ini menjadi jarum yang menusuk tubuh saya. Mereka datang dan mencuri hak serta kekayaan alam orang Papua tanpa perlindungan hukum. Saya melihat dalam film itu bukan sekadar cerita, tapi ini benar-benar nyata,” ujarnya dengan nada terisak.

Nando Kayame, Ketua Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah, menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting dan strategis. Menurutnya, melalui film tersebut terbentuk kesadaran nyata atas realita pahit yang sedang dihadapi masyarakat adat di Tanah Papua, terutama mengenai ketidakberpihakan hukum.

“Momen ini sangat tepat bersamaan dengan penerimaan calon mahasiswa baru, sehingga manfaatnya semakin terasa. Kami mengapresiasi biro terkait dan menegaskan bahwa program semacam ini harus menjadi bagian dari agenda kepengurusan ke depan,” tegas Nando.

Sela, selaku perwakilan biro terkait, menjelaskan bahwa panitia sebenarnya mengundang empat pemateri, namun dua di antaranya berhalangan hadir karena kesibukan pribadi. Ia mengapresiasi seluruh anggota dan pemateri yang hadir serta menegaskan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan membutuhkan dukungan penuh dari seluruh anggota.

Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama dan jel jel PSN cabut! Tolak Militerisme! Papua bukan tanah kosong!..

sebagai bentuk dokumentasi dan simbol solidaritas. Acara yang sarat makna ini menjadi pengingat bahwa kesadaran akan realita di Tanah Papua harus terus digaungkan, terutama oleh generasi muda yang menjadi harapan perubahan.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

SDN Kertamukti II Gelar Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kelas VI, Meriah dengan Pentas Seni dan Budaya
GMKI Manokwari Desak Penegakan Perda Miras, Temukan Pelanggaran Zonasi dan Penjualan saat Pesparawi
Korwil IMPT Sampaikan Hut Ke-18 Kabupaten Yalimo
IMYAL Manokwari Desak Pemkab Yalimo Segera Salurkan Bantuan Studi Mahasiswa
Impt resmi melatik badan pengurus baru koordinator wilayah Kabupaten Paniai di Manokwari 
Solidaritas Rakyat Papua Barat Bergerak mengklarifikasi Terkait Isu Aksi dan Situasi Manokwari
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda: Terima Kasih Manokwari, Papua Barat Atas Sambutan Penuh Kasih
KENAIKAN KELAS DAN KELULUSAN KELAS VI SDN JAYAMAKMUR III
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 13:47

Nobar dan Diskusi Film Dokumenter “Pesta Babi” di Manokwari: Mahasiswa Pegunungan Tengah Gaungkan Kesadaran atas Realita Pahit di Tanah Papua

Selasa, 23 Juni 2026 - 13:01

SDN Kertamukti II Gelar Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kelas VI, Meriah dengan Pentas Seni dan Budaya

Selasa, 23 Juni 2026 - 06:12

GMKI Manokwari Desak Penegakan Perda Miras, Temukan Pelanggaran Zonasi dan Penjualan saat Pesparawi

Senin, 22 Juni 2026 - 21:03

Korwil IMPT Sampaikan Hut Ke-18 Kabupaten Yalimo

Senin, 22 Juni 2026 - 20:57

IMYAL Manokwari Desak Pemkab Yalimo Segera Salurkan Bantuan Studi Mahasiswa

Berita Terbaru