TANAH DATAR,garudapos.id— Tebalnya kabut asap yang masih menyelimuti Kabupaten Tanah Datar belakangan ini menjadi latar yang kontras. Pada Rabu (14/10/2026), Bupati Tanah Datar, Eka Putra, terlihat hadir langsung ke Lapangan Dang Tuanku, Bukit Gombong, lokasi Pacuan Kuda Bupati Cup. Dalam video yang beredar di media sosial, beliau menghimbau masyarakat untuk turut meramaikan, memeriahkan, dan melancarkan acara tersebut. Namun di tengah himbauan itu, dugaan nya tak ada pesan resmi yang disampaikan terkait perlindungan kesehatan warga di tengah kualitas udara yang belum baik.
Warga menyampaikan keresahannya kepada awak media. “Masyarakat tidak menuntut acara apa atau keramaian apa yang akan dibuat. Kami hanya mohon Bupati juga memperhatikan kesehatan kami di tengah cuaca yang tidak baik ini,” ujar seorang warga. Warga tidak menolak kemeriahan, namun berharap keselamatan dan kesehatan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perhatian pemerintah daerah.
Tercatat pada Kamis, 8 Oktober 2026, BPJS Kesehatan Cabang Payakumbuh secara resmi menyerahkan bantuan sebanyak 38.750 buah masker medis kepada Pemerintah Kabupaten Tanah Datar. Penyerahan dilakukan langsung oleh Kepala BPJS Kesehatan Cabang Payakumbuh, Haery Yasdi, dan diterima oleh Bupati Tanah Datar, Eka Putra, di Kantor BPBD Kabupaten Tanah Datar. Bantuan ini secara resmi ditujukan untuk melindungi masyarakat dari dampak kabut asap yang melanda wilayah tersebut.
Namun dugaan di lapangan, realitas yang dirasakan warga berbeda. Banyak warga mengaku belum menerima bantuan masker tersebut. “Kita hanya melihat berita penyerahannya saja. Foto-fotonya sudah ada, postingannya sudah terlihat di mana-mana. Tapi sampai hari ini, maskernya belum sampai ke tangan kami,” ungkap warga lainnya. Penyaluran yang digadang-gadang sebagai langkah antisipasi kesehatan masyarakat, ternyata belum dirasakan secara merata oleh warga yang paling membutuhkannya di tengah kabut asap yang masih nyata.
Situasi ini memunculkan pertanyaan sederhana namun mendesak di ruang publik: Mengapa semangat memeriahkan keramaian tampak lebih didorong dibandingkan urgensi melindungi warga dari kabut asap? Di saat masker medis sudah ada di tangan pemerintah daerah sejak pertengahan Oktober, mengapa warga masih harus berjuang menghirup udara tidak sehat tanpa perlindungan yang memadai?
Kemeriahan acara dan kesehatan masyarakat bukanlah dua hal yang harus saling mengorbankan. Yang diharapkan warga sederhana saja: saat Bupati hadir di tengah keramaian, pesan tentang pentingnya melindungi diri dari kabut asap ikut disampaikan dengan lantang. Dan yang tak kalah penting — 38.750 masker medis itu segera sampai ke tangan warga yang membutuhkannya, bukan hanya terhenti pada momen penyerahan di kantor BPBD..
Pertanyaan yang kini menggantung di ruang publik: Apakah dukungan terhadap kemeriahan acara harus mengesampingkan kewajiban menjaga kesehatan warga? Saat keramaian dipacu untuk berjalan sukses, kesejahteraan rakyat di tengah kabut asap yang masih nyata pun seharusnya ikut menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap berita.
Semoga pesan sederhana ini didengar: kemeriahan dan kesehatan bukanlah pilihan antara satu sama lain. Keduanya layak berjalan beriringan, tanpa harus tertutup kabut ,baik kabut di udara, maupun kabut dalam perhatian kita terhadap rakyat.


















