Garudapost.id-Geser/ Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Geser terus meningkatkan kualitas program pembinaan kepribadian bagi Warga Binaan. Komitmen nyata tersebut diwujudkan melalui langkah kolaboratif dengan menggandeng Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Seram Timur untuk menggelar kegiatan siraman rohani secara berkala serta difokuskan pada penguatan aspek mental, spiritual, dan moral para warga binaan, yang berlangsung di mushola At-Taqw Lapas Geser, Jumat (16/10).
Kegiatan yang dilaksanakan seusai ibadah Sholat Jum’at berjamaah ini menghadirkan Penyuluh Agama Islam dari KUA Seram Timur, Yajid Rumatiga, sebagai pemateri. Berjalan dalam suasana penuh khidmat dan kekeluargaan, siraman rohani ini menjadi momentum krusial bagi para warga binaan untuk merefleksikan diri, menyadari kekeliruan masa lalu, sekaligus mempertegas komitmen untuk meninggalkan segala bentuk perilaku yang dilarang oleh agama maupun hukum negara.
Staf Pembinaan Lapas Geser, Raul Fiqram Attamimi, menjelaskan bahwa program pembinaan yang menyentuh aspek spiritual ini dirancang untuk memantapkan keimanan warga binaan. Hal ini penting agar mereka mampu menjalani masa pidana dengan ikhlas, sabar, dan memiliki motivasi kuat untuk berbenah diri.
“Kegiatan siraman rohani yang terprogram dan berkelanjutan seperti ini sangat mendukung efektivitas tugas kami di bidang pembinaan kepribadian. Harapan besar kami, program ini mampu membentuk karakter warga binaan yang religius, tangguh, dan bermartabat. Dengan begitu, kelak ketika masa pidananya selesai dan kembali ke tengah masyarakat, mereka telah siap menjadi insan yang membawa manfaat luas bagi sesama,” ujar Raul.
Dalam tausiahnya, Penyuluh Agama Islam KUA Seram Timur, Yajid Rumatiga, mengajak para warga binaan untuk menjadikan momentum di dalam Lapas sebagai fase berhijrah dan memperbaiki kualitas diri.
“Pertemuan spiritual ini merupakan ruang muhasabah untuk mengajak saudara-saudara sekalian menjalani kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai Islam dan hukum positif yang berlaku. Mengulangi kesalahan yang sama berarti merugikan diri sendiri dan keluarga. Saya mengajak seluruh warga binaan untuk bangkit, menegakkan kebaikan, dan mulai menata hidup agar menjadi insan bermartabat yang mampu menebarkan dampak positif,” pesan Yajid.
Respons positif juga datang dari perwakilan warga binaan, AR, yang turut mengikuti kajian tersebut mengaku sangat bersyukur atas perhatian dan fasilitas pembinaan rohani yang diberikan oleh pihak Lapas dan KUA Seram Timur.
“Siraman rohani ini memberikan kedamaian hati yang luar biasa sekaligus menumbuhkan kesadaran baru di dalam diri kami. Kami bertekad bulat untuk meninggalkan lembaran hitam masa lalu dan belajar menjadi pribadi yang lebih taat kepada agama serta patuh pada hukum,” ungkap AR.
Nuansa transformatif di Lapas Geser ini juga dirasakan oleh elemen akademisi yang sedang bertugas. Peserta program Maganghub, Jainudin Rumarubun, yang turut hadir dalam kajian tersebut memberikan pandangannya dari sudut pandang eksternal.
“Melalui keterlibatan langsung dalam program Maganghub di Lapas ini, saya menyaksikan sendiri betapa besarnya dampak positif dari kolaborasi lintas instansi dalam upaya memanusiakan manusia. Program kerohanian ini terbukti sangat efektif dan menyentuh hati para warga binaan melalui pendekatan yang humanis,” tutur Jainudin.
Sementara itu, secara terpisah, Kepala Lapas Geser, Nober Hasanda, menegaskan bahwa sinergi dengan KUA Seram Timur merupakan salah satu pilar strategis dalam mewujudkan sistem pembinaan kerohanian yang terstruktur dan terukur.
“Kami ingin memastikan bahwa hak spiritual setiap warga binaan terpenuhi secara maksimal selama menjalani masa pidana. Fokus utama kami bukan sekadar menghukum, melainkan membimbing dan membekali mereka secara mental spiritual agar siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang baru, produktif, dan benar-benar bermanfaat,” tegas Nober.
Melalui sinergi yang kokoh antara jajaran Lapas Geser, KUA Seram Timur, staf pembinaan, serta dukungan dari peserta Maganghub, Mushola At-Taqwa kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual semata. Lebih dari itu, rumah ibadah ini telah menjelma menjadi pusat transformasi spiritual dan moral bagi para pelanggar hukum. Langkah bersama ini diharapkan dapat terus berjalan secara konsisten demi mencetak mantan warga binaan yang mandiri, berakhlak mulia, dan siap diterima kembali dengan tangan terbuka oleh masyarakat luas.



















