
GARUDAPOST | BATAM, 18 Agustus — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mulai berlaku hari ini memicu keluhan dari berbagai lapisan masyarakat. Kebijakan tersebut dinilai semakin menekan kondisi ekonomi warga, khususnya di tengah harga kebutuhan pokok yang sudah lebih dulu merangkak naik.
Sejak pagi, sejumlah pengendara terlihat mengantre di SPBU di kawasan Batam. Mereka mencoba menyesuaikan diri dengan harga baru yang dinilai cukup memberatkan, terutama bagi pekerja harian dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada mobilitas.
“Jujur saja, kami ini makin terjepit. Harga BBM naik, otomatis ongkos kerja juga ikut naik. Sementara penghasilan tetap segitu-segitu saja,” keluh Rudi (42), seorang pengemudi ojek di Batam, saat ditemui di salah satu SPBU.
Kenaikan BBM ini diperkirakan akan berdampak berantai, mulai dari tarif transportasi hingga harga bahan pokok di pasar. Para pedagang pun mulai mengantisipasi lonjakan biaya distribusi yang berpotensi menggerus keuntungan mereka.
Sejumlah warga berharap pemerintah tidak hanya menaikkan harga, tetapi juga menghadirkan solusi nyata untuk menjaga daya beli masyarakat. Bantuan sosial dan pengendalian harga kebutuhan pokok dinilai menjadi langkah penting agar dampak kenaikan BBM tidak semakin meluas.
Di sisi lain, pemerintah menyatakan kebijakan ini diambil sebagai langkah penyesuaian terhadap kondisi ekonomi global dan beban subsidi energi yang terus meningkat. Meski demikian, masyarakat berharap ada kebijakan lanjutan yang benar-benar berpihak pada mereka yang terdampak langsung.
Kenaikan harga BBM kembali menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi rumah tangga masih sangat rentan terhadap kebijakan energi, terutama bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah.








