Garudapost.id/Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon terus mendorong warga binaan untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan melalui berbagai program pembinaan kemandirian. Salah satu bentuk kreativitas tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan batok kelapa yang diolah menjadi berbagai cendera mata bernilai seni dan memiliki nilai guna, Kamis (17/09).
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Rutan Ambon dalam memberikan ruang kepada warga binaan untuk menyalurkan kreativitas, mengasah keterampilan, serta menghasilkan karya yang dapat memberikan manfaat. Bahan sederhana seperti batok kelapa yang selama ini sering dianggap sebagai limbah, melalui tangan-tangan kreatif warga binaan dapat diolah menjadi produk kerajinan yang menarik dan memiliki nilai tambah.
Dalam proses pembuatannya, warga binaan terlibat secara langsung mulai dari mempersiapkan bahan, membersihkan batok kelapa, melakukan pemotongan dan pembentukan, hingga proses penghalusan serta penyelesaian akhir. Setiap tahapan dikerjakan dengan penuh ketelitian agar menghasilkan cendera mata yang rapi dan memiliki nilai estetika.
Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Meta Putra, menyampaikan bahwa pembinaan keterampilan merupakan bagian penting dalam proses pembinaan warga binaan. Menurutnya, kegiatan produktif seperti pembuatan kerajinan dari batok kelapa dapat menjadi sarana untuk menggali potensi serta membangun kepercayaan diri warga binaan.
“Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk terus berkarya dan mengembangkan keterampilan yang mereka miliki. Batok kelapa yang sederhana dapat diolah menjadi cendera mata yang memiliki nilai seni dan manfaat. Harapannya, keterampilan ini dapat terus dikembangkan dan menjadi bekal positif bagi warga binaan ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat,” ujar Meta.
Ia menambahkan bahwa pembinaan kemandirian tidak hanya berorientasi pada kemampuan menghasilkan suatu produk, tetapi juga membentuk karakter dan sikap positif warga binaan. Disiplin, ketekunan, kreativitas, serta kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting dalam proses pembinaan agar warga binaan memiliki bekal yang dapat dimanfaatkan setelah selesai menjalani masa pidana.
Sementara itu, Kasubsi Bimbingan Kerja Rutan Ambon, Ode Ena, menjelaskan bahwa pembuatan cendera mata dari batok kelapa merupakan salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang terus didorong di Rutan Ambon. Menurutnya, pemanfaatan bahan sederhana menjadi produk kerajinan menunjukkan bahwa warga binaan memiliki potensi dan kreativitas yang dapat terus dikembangkan.
“Kami terus memberikan ruang kepada warga binaan untuk mengembangkan keterampilan melalui kegiatan kerja yang produktif. Batok kelapa yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi berbagai kerajinan yang memiliki nilai seni dan nilai guna. Proses ini juga mengajarkan warga binaan untuk bekerja dengan teliti, sabar, dan bertanggung jawab. Kami berharap keterampilan ini dapat terus dikembangkan dan menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujar Ode Ena.
Salah satu warga binaan yang terlibat dalam pembuatan cendera mata, Onco, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan keterampilan baru baginya. Ia mengatakan bahwa proses mengolah batok kelapa menjadi sebuah karya membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
“Saya senang bisa mengikuti kegiatan ini karena mendapatkan keterampilan baru. Dari batok kelapa yang sederhana ternyata bisa dibuat menjadi cendera mata yang menarik. Dalam proses pembuatannya kami harus teliti dan sabar agar hasilnya bagus. Semoga keterampilan yang kami dapatkan di sini bisa menjadi bekal dan dapat kami manfaatkan ketika sudah kembali ke masyarakat,” ungkap Onco.
Rutan Kelas IIA Ambon berkomitmen untuk terus mengembangkan berbagai program pembinaan yang kreatif, produktif, dan bermanfaat bagi warga binaan.
Melalui semangat “PRIMA”, Rutan Kelas IIA Ambon terus menghadirkan pembinaan yang produktif dan berkelanjutan, sebagai bagian dari upaya mewujudkan warga binaan yang memiliki keterampilan, kreativitas, serta kesiapan untuk kembali dan diterima di tengah masyarakat.


























