GARUDAPOST.ID
TOBA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toba membahas rencana kerja sama pengelolaan sampah berkelanjutan dengan Pemerintah Korea Selatan melalui Korea Environmental Industry & Technology Institute (KEITI). Kerja sama ini diharapkan tidak sekadar menghasilkan kajian dan rekomendasi, tetapi mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi tantangan serius di Kabupaten Toba.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah, khususnya di kawasan Danau Toba yang memiliki nilai strategis dari sisi ekologis, budaya, ekonomi, dan pariwisata.
Bupati Toba Effendi Sintong P. Napitupulu mengungkapkan bahwa Kabupaten Toba saat ini menghasilkan sekitar 100–120 ton sampah setiap hari. Namun, di tengah besarnya volume sampah tersebut, sistem penanganan masih menggunakan pola pembuangan terbuka atau open dumping.
“Di Kabupaten Toba, tumpukan sampah mencapai 100–120 ton per hari, di mana penanganannya masih dilakukan dengan model open dumping,” ujar Effendi saat menerima tim KEITI di Balai Data Lantai IV Kantor Bupati Toba, Kamis (3/9/2026).
Kondisi tersebut menjadi tantangan yang tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan kebersihan semata. Pengelolaan sampah yang belum optimal berpotensi memberikan dampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, perubahan iklim, perekonomian, serta citra kawasan Danau Toba sebagai salah satu daerah tujuan pariwisata.
Karena itu, Pemkab Toba mendorong kerja sama dengan KEITI melalui penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), serta pengembangan pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
Namun, rencana tersebut juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Pemkab Toba mengakui masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari sarana dan prasarana, kapasitas pengelolaan, sumber daya manusia, pembiayaan, hingga masih rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan melalui pembangunan fasilitas atau penggunaan teknologi semata. Diperlukan sistem yang terintegrasi, kesiapan sumber daya manusia, dukungan anggaran, serta keterlibatan masyarakat agar kebijakan yang direncanakan benar-benar dapat berjalan secara berkelanjutan.
Untuk itu, Pemkab Toba membuka peluang transfer pengetahuan dan teknologi dari Korea Selatan dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang modern, efisien, dan berkelanjutan.
“Kami berharap kunjungan konsultan dari Korea tidak hanya menghasilkan kajian atau rekomendasi, tetapi dapat menjadi awal kerja sama yang konkret dan implementatif bagi Kabupaten Toba,” kata Effendi.
Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada tahap perencanaan, tetapi dapat berkembang dalam bentuk pengembangan proyek, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan teknologi, hingga membuka peluang investasi di bidang pengelolaan persampahan.
Usai pertemuan, delegasi Korea Selatan bersama jajaran Pemkab Toba meninjau langsung kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Pintu Bosi, Kecamatan Laguboti. Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi dan proses pengelolaan sampah di lapangan sebagai bahan dalam penyusunan konsep kerja sama yang sesuai dengan kebutuhan Kabupaten Toba.
Delegasi juga meninjau lokasi pemilahan sampah di depan Puskesmas Tandang Buhit, Balige. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat praktik pemilahan sampah di tingkat masyarakat sekaligus mengidentifikasi potensi pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan dan daur ulang.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Toba Audi Murphy O. Sitorus, Konsul Kehormatan Republik Korea Selatan untuk Sumatera Parlindungan Purba, Kepala Perwakilan KEITI Indonesia Kang Minsoo, Staf KEITI Indonesia Winall Satriawan, Direktur Utama KECC Kim Young-Kyu, Manajer KECC Hong Jeong-Wan, serta Direktur YOOSHIN Indonesia Ahn Key.
Melalui kerja sama tersebut, Pemkab Toba berharap pengelolaan sampah di Kabupaten Toba dapat bertransformasi menjadi lebih efektif, modern, dan berkelanjutan.
Namun, harapan tersebut pada akhirnya perlu dibuktikan melalui langkah konkret dan implementasi yang terukur, agar persoalan sampah tidak kembali berhenti sebatas rencana, kajian, dan kerja sama di atas kertas.
Pengelolaan sampah yang benar-benar berjalan dan berkelanjutan diharapkan mampu menjaga kelestarian lingkungan kawasan Danau Toba, mendukung pengembangan pariwisata, serta memberikan dampak nyata terhadap kualitas hidup masyarakat Kabupaten Toba.
Penulis : Tomuan.S
Editor : S Tarigan
Sumber Berita: MC TOBA




























