SULTENG, GarudaPost.id – MOROWALI — Peringatan hari jadi Kecamatan Bahodopi yang jatuh setiap 30 April tidak lagi sekadar menjadi selebrasi euforia. Di balik kemilau pertumbuhan ekonomi yang meroket, suara kritis pemuda lokal justru menyeruak, mendesak pemerintah dan perusahaan melakukan refleksi total atas arah pembangunan daerah yang telah mekar sejak 2003 silam.
Kritik tajam ini datang dari Asrar, pemuda asli Bahodopi yang kini menempuh studi S1 Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tadulako (UNTAD). Mantan Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Kabupaten Morowali (IPPMKM) periode 2024 ini mengajak seluruh elemen untuk tidak terjebak pada hingar-bingar perayaan, melainkan melihat realitas pahit yang membayangi kehidupan masyarakat lokal.
Laju Investasi vs Realitas Jalan Rusak
Asrar mengawali pernyataannya dengan mengakui kebanggaan sebagai anak daerah melihat nama Bahodopi kini diperhitungkan di kancah nasional berkat geliat investasi bernilai triliunan rupiah. Namun, kebanggaan itu tidak lantas menutup matanya dari paradoks yang terjadi.
“Sebagai anak daerah, kita semua tentu sangat bangga melihat nama Bahodopi kini dikenal di mana-mana karena pertumbuhan ekonominya yang meroket tajam. Investasi triliunan rupiah mengalir deras ke tanah kita,” ujar Asrar, Rabu (30/4/2025).
Meski demikian, mahasiswa yang akrab dengan kajian sosial budaya ini menegaskan bahwa besarnya angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) belum berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Kita harus berani jujur. Di tengah perputaran uang yang masif, persoalan infrastruktur dasar dan kesejahteraan masyarakat lokal justru masih sering terabaikan,” tegasnya.
Ia menyoroti kontradiksi nyata di lapangan: kawasan industri yang memproduksi nikel dalam jumlah fantastis, namun masyarakatnya masih harus berhadapan dengan jalan rusak, polusi udara dan laut, hingga minimnya fasilitas publik di tengah ledakan populasi yang tidak terkendali.
Antropolog Muda: Jangan Sampai Kami Jadi Tamu di Tanah Sendiri
Dengan latar belakang keilmuan yang ditekuninya, Asrar memberikan catatan kritis pada dimensi sosial budaya. Kehadiran industri raksasa telah mengubah wajah demografis Bahodopi secara drastis, menarik gelombang pendatang dari berbagai penjuru Nusantara.
“Kita harus luruskan, kami sama sekali tidak menolak hadirnya saudara-saudara yang membawa begitu banyak suku dan budaya baru ke Bahodopi. Kami menyambut baik keberagaman itu,” ungkapnya.
Namun, ia menitipkan pesan tegas kepada pemerintah daerah dan korporasi. “Identitas kami sebagai anak lokal, adat istiadat, dan akar budaya Bahodopi harus tetap diperhatikan dan dilindungi. Kami tidak mau di masa depan anak cucu kami mengalami krisis identitas atau merasa menjadi tamu di tanah leluhurnya sendiri,” pungkasnya.
Alarm di Hari Jadi: Sejahtera dan Berdaulat Secara Kultural
Pernyataan Asrar menjadi alarm keras di tengah perayaan hari jadi Bahodopi ke-22 ini. Pesannya lugas: pembangunan sejati bukanlah semata tentang berapa ton nikel yang diekstraksi atau seberapa tinggi gedung pencakar langit berdiri.
Tolok ukur keberhasilan pembangunan seharusnya kembali pada manusia dan akar budayanya. Seberapa sejahtera masyarakat lokal? Seberapa kuat mereka mempertahankan jati diri di tengah derasnya arus modernisasi dan migrasi? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut jawaban konkret, bukan sekadar seremoni perayaan tahunan.



















