GarudaPost.id—-PALEMBANG—–Rezeki, balak, jodoh, dan maut Allah SWT yang menentukan. Seperti dirasakan salah satu Desa Lebak Budi, Merapi Barat, pada 2 Mei 1968, lahirlah anak bungsu dari delapan bersaudara. Umurnya kini 57 tahun, namun semangatnya masih semuda langkah pertamanya.
Namanya Cik Ujang, disematkan dari nama sang ibu, Hj. Ciknap, seakan doa yang ditanam di ladang takdir. Putra H. Menawi ini tumbuh di tanah Lahat yang bersahaja, diantara riak sungai Lematang dan wangi kebun kopi menyimpan cita sebesar Bukit Serelo: mandiri, dan membuat orang tua tersenyum bangga.
Bangku SDN 12 Ulak Pandan, SMPN Lahat, hingga SMAN 2 Lahat menjadi saksi dirinya menimba ilmu. Lulus sekolah, Ia menaruh rindu di kampung dan memilih merantau ke Jakarta. Ibukota tidak menyambutnya dengan karpet merah.
Ia justru bersahabat dengan debu gudang di sebuah mall, diruang pengap tetap belajar bahwa keringat tidak pernah berbohong. Belum puas, tangannya berpindah ke-Bengkel, diantara Oli dan Besi menempa tekad sambil menabung mimpi dan recehan.
Tiga musim taklukkan Jakarta, tahun 1993 pulang membawa lebih dari sekadar uang tabungan. Ia membawa keyakinan ‘Sang Ayah’ menawarkan kebun kopi dan karet, warisan yang cukup untuk hidup tenang.
Namun Cik Ujang menolak hidup yang terlalu tenang lebih memilih jalan yang belum tertebas. Jatuh hati pada kayu tahun 1997, satu truk kayunya membelah jalan menuju Jakarta.
Merangka dari Roda truk itulah rezeki besar pertama mengetuk pintu, mengubah Pemuda Desa menjadi Pengusaha yang diperhitungkan.
Usahanya tumbuh bersama nama Ayik Batu Gung. Sejak 2009 hingga 2018, ia dipercaya sebagai Komisaris PT Ayik Batu Gung dan Komisaris CV Ayik Batu Gung. Di kursi itu ia belajar membaca angka, mengelola manusia, dan merawat kepercayaan. Dunia bisnis menjadi sekolah kepemimpinannya yang pertama.
Panggilan pengabdian lalu datang, tahun 2009 rakyat Lahat memberinya amanah sebagai anggota DPRD Kabupaten Lahat, dan titipan tersebut kembali di percayakan untuk Periode kedua 2014 hingga 2018, duduk di Gedung Dewan suaranya bukan sekadar setuju atau tidak, ia membawa suara gudang, suara bengkel, suara petani yang pernah ditinggalkannya merantau.
Langkahnya terus menanjak, di tahun 2018, menapak takdir ikut pencalonan Cabup dan menjadi Bupati Lahat hingga 2023. Saat memimpin seperti ia berdagang dulu menghitung dengan cermat, bergerak dengan cepat, dan tidak lupa asal. Baginya, jalan berlubang bukan sekadar data di kertas. Kakinya pernah lecet di jalan yang sama.
Jalan politiknya pun berlapis, tapi Anak Desa ini tetap setia menapaki tangga Partai Demokrat, hingga ditahun 2001 dipercayakan sebagai Ketua PAC Partai Demokrat Kabupaten Lahat. Lalu, tahun 2006 kembali diberikan kepercayaan menjadi Bendahara DPC.
Hari demi hari terus berjalan, ditahun 2011 naik menjadi Sekretaris MPC, memasuki tahun 2017 memimpin sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Lahat. Berlanjut, ditahun 2021 hingga 2026, dirinya ditunjuk untuk memegang Partai Berlambang MERCI ke-level Provinsi selaku Ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Selatan (Sumsel), mulai ranting hingga dahan selalu dirawat dengan loyalitas dan kerja nyata.
Dari cara serta niat baik H.Cik Ujang SH, takdir kembali memanggil lebih tinggi untuk mengemban tugas menjadi Wakil Gubernur Sumatera Selatan periode 2025 sampai 2030. Anak Bungsu dari Desa Lebak Budi ini, dari kuli Gudang di Jakarta, Sopir Truk Kayu, kini ikut memikirkan “Satu Provinsi”.
H. Cik Ujang SH, bukan sekedar nama dalam daftar riwayat hidup, Ia adalah Syair yang ditulis dengan jatuh bangun. Putra Asli Desa Lebak Budi kecamatan Merapi ini membuktikan, bahwa akar yang menghujam di desa bisa menjulang menembus langit Provinsi, asal disiram kerja keras, keberanian memilih jalan sendiri, dan kesetiaan untuk pulang membangun.
Anak Asli dari desa Lebak Budi ini berangkat ke-Sumatera Selatan, demi mengabdi untuk 17 Kabupaten/Kota di Satu Provinsi, kisahnya belum selesai. Semoga kisah perjalanan H.Cik Ujang SH ini menjadi Inspirasi anak-anak Daerah yang sedang menatap Mimpi.








