Garudapost.ID|| BONE BOLANGO – jumat 24 April 2026 Kabut kusam menyelimuti harapan industrialisasi di pesisir Kabupaten Bone Bolango. Fasilitas kilang minyak kelapa yang berdiri gagah di Desa Bintalahe, Kecamatan Kabila Bone, kini tak lebih dari sekadar saksi bisu kemunduran tata kelola aset daerah.
Bangunan yang
diproyeksikan menjadi pilar ekonomi kerakyatan tersebut terpantau dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Sejak berhenti beroperasi pada tahun 2007, gedung yang masih berdiri kokoh ini seolah dibiarkan menua dalam kesunyian, dikepung semak belukar dan karat yang menggerogoti setiap sudutnya.
Investigasi Lapangan: Dari Aroma Kopra ke Bau Apek
Berdasarkan investigasi langsung di lapangan pada Jumat (24/4), aroma produktivitas yang seharusnya tercium dari olahan kopra kini telah berganti dengan bau apek dari bangunan yang lembap dan tak terurus. Fasilitas yang semestinya menjadi motor
penggerak ekonomi bagi petani kelapa lokal ini justru berubah menjadi “gedung tua” yang nyaris terlupakan.
Kondisi teknis di dalam kilang menunjukkan tingkat kerusakan yang mengkhawatirkan. Mesin-mesin produksi yang dibeli dengan investasi besar kini menyerah pada alam. Beberapa temuan krusial di lokasi meliputi:
Oksidasi Massal: Sebagian besar struktur logam, mulai dari tangki penampung hingga mesin pemroses, telah mengalami korosi berat. Lapisan karat tebal menutupi komponen vital akibat paparan udara laut tanpa adanya perawatan rutin.
Degradasi Bangunan: Plafon yang mulai jebol dan lantai yang tertutup kotoran hewan menandakan bangunan ini telah bertahun-tahun tidak tersentuh tangan manusia.
Risiko Penyusutan Aset: Tanpa penjagaan ketat, aset berharga di dalamnya berisiko mengalami kerugian total (total loss).
Seorang warga setempat yang sering melintas di jalur tersebut
mengungkapkan kekecewaannya. “Dulu kami berharap kilang ini bisa menampung hasil panen kami. Sekarang, dari luar saja sudah merah karena karat. Seperti bangunan mati,” keluhnya.
Ironi di Tengah Melimpahnya Bahan Baku
Terbengkalainya kilang ini menjadi ironi besar bagi Bone Bolango. Sebagai daerah dengan potensi perkebunan kelapa yang luas, hilirisasi melalui pabrik pengolahan seharusnya menjadi solusi atas fluktuasi harga kopra di tingkat petani.
Revitalisasi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan sebelum mesin-mesin tersebut benar-benar menjadi besi tua yang tidak bisa diperbaiki lagi (irreparable).
Menanti Transparansi Pemerintah
Hingga laporan ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari dinas terkait mengenai alasan di balik mandeknya operasional kilang Bintalahe. Ketidakjelasan status pengelolaan—apakah terkendala masalah teknis, manajerial, atau anggaran—memicu spekulasi di tengah masyarakat.
Jika pemerintah daerah terus membiarkan aset ini membusuk, kerugian yang diderita bukan hanya soal nilai materiil bangunan, melainkan juga hilangnya peluang lapangan kerja dan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir Bone Bolango.
Penulis: Zulkipli Uno
Narsum: Candra Hulopi












