EcoNusa dan Komunitas Nyaiwerek Asesmen Potensi Kopi Arabika di Lanny Jaya, Petani Soroti Harga dan Akses Pasar

Minggu, 31 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LANNY JAYA, Garudapost.id— Tim EcoNusa bersama Komunitas Nyaiwerek Kembangkan Potensi Jayawijaya melakukan asesmen potensi kopi Arabika di Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan, pada 29–30 Mei 2026. Kegiatan ini bertujuan memetakan potensi, tantangan, serta kebutuhan petani kopi guna mendorong pengembangan ekonomi masyarakat berbasis komoditas lokal.

Asesmen dilakukan selama dua hari dengan mengunjungi sejumlah sentra kopi di empat distrik, yakni Distrik Makki, Distrik Tiomneri, Distrik Yiluk, dan Distrik Balingga. Tim bertemu langsung dengan kelompok-kelompok petani kopi untuk mendengar aspirasi, kebutuhan, dan kendala yang mereka hadapi dalam proses budidaya hingga pemasaran.

Salah satu petani kopi dari Distrik Tiomneri, Odi Yoman, mengatakan budidaya kopi di wilayah tersebut telah berkembang sejak tahun 1994–1995. Menurutnya, potensi kopi Arabika di Lanny Jaya sangat besar, namun belum didukung sistem pemasaran yang baik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harga kopi kering yang pernah kami terima sekitar Rp60 ribu per kilogram. Produksi cukup banyak, tetapi pemasaran masih dilakukan secara mandiri oleh petani,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa saat ini hanya beberapa pembeli yang datang langsung ke sentra produksi kopi. Akibatnya, sebagian besar petani menjual hasil panen di pasar lokal dengan harga yang tidak menentu.

Selain persoalan pemasaran, petani juga menghadapi keterbatasan alat produksi. Mesin pengupas kopi yang sebelumnya digunakan telah rusak sehingga seluruh proses pengolahan kembali dilakukan secara manual.

Kelompok petani kopi di Distrik Makki mengungkapkan bahwa kopi dapat dipanen hingga tiga kali dalam setahun. Mereka mengelola lahan kopi seluas sekitar 13 hektare yang tersebar di beberapa kelompok tani.

Namun, seluruh tahapan produksi mulai dari panen, pengupasan hingga pengeringan masih dilakukan secara manual. Kondisi jalan yang rusak juga menyulitkan petani dalam mengangkut hasil panen ke pasar.

Petani mengaku membutuhkan berbagai sarana pendukung seperti mesin pengupas ceri kopi, rumah pengering, terpal, mesin babat rumput, serta peralatan kerja lainnya guna meningkatkan kualitas dan produktivitas kopi.

Tingginya biaya transportasi turut menjadi beban petani. Untuk perjalanan dari Makki menuju kota, petani harus mengeluarkan biaya sekitar Rp150 ribu sekali jalan atau Rp300 ribu pulang-pergi. Sementara biaya mengangkut hasil panen dari kebun ke jalan utama mencapai sekitar Rp100 ribu.

Para petani berharap pemerintah dapat menetapkan standar harga kopi yang lebih stabil dan merata di seluruh Kabupaten Lanny Jaya sehingga memberikan kepastian usaha bagi masyarakat.

Koordinator Asesmen Kopi Arabika Wilayah Papua Pegunungan dari EcoNusa, Jaminan Rumbewas, mengatakan tim telah mencatat seluruh kebutuhan dan persoalan yang disampaikan petani selama kunjungan lapangan.

Kami telah mencatat berbagai kebutuhan dan kendala yang dihadapi petani kopi. Memang kami tidak bisa langsung menjawab semua persoalan yang ada, tetapi informasi ini menjadi dasar untuk mencari solusi dan dukungan yang tepat bagi pengembangan kopi rakyat di Lanny Jaya,” katanya.

Menurut Jaminan, potensi kopi Arabika di Lanny Jaya sangat menjanjikan. Pengalaman masyarakat dalam membudidayakan kopi bahkan telah berlangsung sejak akhir tahun 1980-an.

Ia menilai kebutuhan utama petani saat ini adalah kepastian harga, akses pasar, pendampingan budidaya, serta dukungan sarana dan prasarana produksi.

Lanny Jaya memiliki kontur tanah yang sangat baik untuk kopi. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kapasitas petani, menyediakan fasilitas pascapanen, dan membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan,” jelasnya.

Jaminan menambahkan bahwa dari sisi pemasaran, kopi merupakan komoditas yang memiliki permintaan tinggi. Namun diperlukan peningkatan dalam aspek branding, akses harga yang adil, dan perluasan jaringan pasar hingga tingkat nasional maupun internasional.

EcoNusa merekomendasikan pemerintah daerah untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada petani, termasuk kepastian harga beli yang stabil dan kompetitif serta regulasi yang mendukung pengembangan kopi rakyat.

Selain itu, masyarakat dan kelompok tani diharapkan terus menjaga kualitas dan konsistensi produksi serta meningkatkan kemampuan pengelolaan usaha agar tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan pihak luar.

Harapan kami, masyarakat adat dapat menjaga hutan melalui pengembangan komoditas yang sudah ada tanpa merusak lingkungan. Kami juga berharap terjalin kolaborasi yang kuat dengan pemerintah untuk mewujudkan petani kopi Lanny Jaya yang lebih sejahtera,” ujarnya.

Sekretaris Komunitas Nyaiwerek Kembangkan Potensi Jayawijaya, Kedizon Kogoya, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan asesmen yang dilakukan EcoNusa.

Menurutnya, kehadiran tim di lapangan menjadi langkah penting karena mampu mendengar langsung keluhan dan kebutuhan masyarakat petani kopi.

Kami sangat mendukung teman-teman EcoNusa yang telah turun langsung ke kampung-kampung dan bertemu dengan petani. Banyak potensi yang selama ini belum terangkat secara maksimal,” katanya.

Ia berharap hasil asesmen tersebut dapat ditindaklanjuti secara konkret, terutama terkait kebutuhan mesin pengupas kopi, fasilitas pascapanen, dan sarana produksi lainnya yang selama ini menjadi keluhan utama petani.

Kami berharap pemerintah juga hadir dan memberi perhatian kepada petani kopi, baik yang tergabung dalam kelompok maupun yang mengelola kebun secara mandiri. Potensi kopi Papua Pegunungan sangat besar dan perlu didorong bersama agar menjadi komoditas unggulan daerah,” tutupnya. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Jalan Santai May Day 2026, Bupati Eman Pastikan Kesempatan Kerja Tanpa Diskriminasi
Pasca-Iduladha, Harga Rica di Pasar Sabtu Kota Gorontalo Melonjak Drastis Tembus Rp120 Ribu per Kilogram
Polres Labuhanbatu Selatan Sembelih 8 Ekor Hewan Kurban, Kapolres: Wujud Kepedulian dan Kebersamaan
EcoNusa dan Komunitas Nyaiwerek Petakan Potensi Kopi Jayawijaya Menuju Pasar Nasional dan Internasional
Bupati Tharig Buka Motabi Kambungu Di Kecamatan Ponelo Kepulauan
Perumdam Tirta Tarum Karawang Rayakan HUT ke-39 dan Resmikan Gedung Pelayanan Baru
Simpang Lima Kota Gorontalo Lumpuh Total: Ratusan Massa Blokade Jalan, Tuntut Solusi Konkret Kelangkaan Solar
Pemilihan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kabupaten Bekasi Digelar Serentak
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 08:55

EcoNusa dan Komunitas Nyaiwerek Asesmen Potensi Kopi Arabika di Lanny Jaya, Petani Soroti Harga dan Akses Pasar

Minggu, 31 Mei 2026 - 01:28

Jalan Santai May Day 2026, Bupati Eman Pastikan Kesempatan Kerja Tanpa Diskriminasi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:45

Pasca-Iduladha, Harga Rica di Pasar Sabtu Kota Gorontalo Melonjak Drastis Tembus Rp120 Ribu per Kilogram

Jumat, 29 Mei 2026 - 20:20

Polres Labuhanbatu Selatan Sembelih 8 Ekor Hewan Kurban, Kapolres: Wujud Kepedulian dan Kebersamaan

Kamis, 28 Mei 2026 - 22:12

EcoNusa dan Komunitas Nyaiwerek Petakan Potensi Kopi Jayawijaya Menuju Pasar Nasional dan Internasional

Berita Terbaru