KOTA GORONTALO,garudapost.id – Pasca-perayaan Hari Raya Iduladha 1447 H, warga Kota Gorontalo kembali dikejutkan oleh lonjakan harga komoditas pangan pokok. Pada Sabtu (30/5/2026), harga cabai rawit atau yang dikenal masyarakat lokal sebagai rica, melonjak drastis hingga mencapai Rp120.000 per kilogram. Kenaikan signifikan ini tentu memberatkan warga, mengingat rica merupakan bumbu dapur wajib yang tidak bisa dipisahkan dari kuliner khas Gorontalo.
Berdasarkan pantauan di Pasar Sabtu Kota Gorontalo sejak pagi hari, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada rica, tetapi juga merembet pada komoditas “barito” lainnya seperti bawang dan tomat. Padahal, menjelang Iduladha, harga rica masih stabil di kisaran Rp70.000 hingga Rp80.000 per kilogram. Lonjakan harga sebesar Rp40.000–Rp50.000 dalam waktu singkat itu memicu suasana transaksi yang ramai, ditandai dengan tawar-menawar alot antara pedagang dan pembeli di los sayur-mayur.
Para pedagang di lokasi mengungkapkan bahwa meroketnya harga rica dipicu oleh kombinasi dua faktor utama. Pertama, tingginya permintaan rumah tangga pasca-Iduladha. Tradisi mengolah daging kurban (sapi dan kambing) menjadi berbagai hidangan khas Gorontalo yang pedas membuat kebutuhan akan rica meningkat tajam.
Kedua, minimnya pasokan dari jalur distribusi. Aktivitas panen petani lokal serta pengiriman dari daerah pemasok utama seperti Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah sempat tersendat akibat libur panjang Lebaran. Hal ini menyebabkan stok di tingkat pasar tradisional belum pulih sepenuhnya.
“Stok yang masuk ke tangan kami sejak kemarin sangat terbatas. Sementara itu, sejak subuh pembeli membludak karena butuh rica untuk olahan daging kurban. Karena barang langka namun permintaan tinggi, harga modal dari agen pun naik. Mau tidak mau, kami menjual di harga Rp120.000 per kilo hari ini,” ujar seorang pedagang rica di Pasar Sabtu.
Kenaikan harga yang hampir dua kali lipat ini paling dirasakan dampaknya oleh ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, seperti pemilik warung makan, penjual ayam geprek, dan rumah makan khas Gorontalo. Bagi pelaku usaha kuliner, kondisi ini menciptakan dilema: menaikkan harga menu berisiko kehilangan pelanggan, namun mengurangi porsi atau tingkat kepedasan dapat menurunkan kualitas cita rasa masakan.
Salah satu warga yang sedang berbelanja mengaku terpaksa mengubah strategi belanjanya. “Bagi orang Gorontalo, makan tanpa rica rasanya kurang lengkap. Dengan harga Rp120.000 per kilo, anggaran belanja membengkak. Biasanya saya beli satu kilo, sekarang cukup beli satu ons saja, yang penting ada rasa pedasnya,” keluhnya.
Menyikapi situasi ini, masyarakat dan pedagang mendesak Pemerintah Kota Gorontalo maupun Provinsi Gorontalo untuk segera mengambil langkah intervensi. Mereka berharap Dinas Perdagangan dan Koperasi (Disperindag) serta Satgas Pangan dapat melakukan pengawasan ketat terhadap jalur distribusi untuk mencegah praktik penimbunan oleh oknum spekulan.
Selain itu, gagasan menggelar Operasi Pasar Murah (OPM) juga diharapkan dapat segera direalisasikan. Dengan intervensi yang cepat dan tepat, stabilitas pasokan dan harga rica diharapkan dapat kembali normal dalam beberapa hari ke depan, sehingga daya beli masyarakat tidak semakin tergerus.
Penulis: Zulkipli Uno
Editor: Redaksi

















