MANOKWARI, GARUDAPOST.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah wilayah Papua Barat dinilai semakin mengkhawatirkan dan berpotensi mengancam kehidupan serta sumber penghidupan Orang Asli Papua (OAP).
Juru Kampanye Perkumpulan Panah Papua, Arnol Halitopo, mengatakan berdasarkan analisis data Nusantara Atlas, tercatat 1.473 titik panas atau hotspot di Papua Barat dalam 14 hari terakhir. Jumlah tersebut disebut meningkat signifikan pada 20 hingga 22 Agustus 2026.
“Kondisi ini sangat serius karena sejumlah titik panas berada di kawasan yang berdekatan dengan ruang hidup masyarakat adat,” ujar Arnol pada Selasa (25/08/2026).
Menurutnya, tiga klaster utama hotspot berada di kawasan dataran Bomberay, Kabupaten Manokwari Selatan, serta Kabupaten Pegunungan Arfak.
Kabupaten Fakfak tercatat memiliki jumlah hotspot tertinggi dengan 428 titik, disusul Manokwari Selatan 320 titik, dan Teluk Bintuni 175 titik.
Panah Papua menyebut kebakaran telah berdampak terhadap sumber pangan masyarakat, termasuk dusun sagu dan kebun umbi-umbian.
Selain itu, pihaknya menemukan 173 hotspot berada di dalam wilayah izin perkebunan kelapa sawit
. Arnol meminta pemerintah dan aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan apabila ditemukan dugaan pelanggaran dalam pengelolaan kawasan dan penanganan kebakaran.
Panah Papua mendesak Pemerintah Provinsi Papua Barat dan pemerintah kabupaten segera memperkuat penanganan karhutla, membentuk koordinasi penanganan yang efektif, melindungi masyarakat terdampak, serta memastikan pemulihan lingkungan dan sumber penghidupan masyarakat.
“Pemerintah harus sigap menangani kebakaran dan melakukan pemulihan pascabencana. Jangan sampai karhutla terus mengancam ruang hidup masyarakat adat,” tegas Arnol.
























