Garudapost.id-Ambon/Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon terus mendorong peningkatan keterampilan dan kreativitas warga binaan melalui program pembinaan kemandirian. Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui pembuatan sofa berkualitas yang dikerjakan oleh warga binaan dengan mengedepankan ketelitian, keterampilan, dan kreativitas dalam proses pengerjaannya, Jumat (09/10).
Pembuatan sofa ini menjadi bagian dari upaya Rutan Ambon dalam membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang dapat dikembangkan selama menjalani masa pidana. Melalui kegiatan tersebut, warga binaan diberikan kesempatan untuk mengasah kemampuan, mempelajari teknik pengerjaan, serta menghasilkan produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Proses pembuatan sofa tersebut diselesaikan dalam waktu tiga hari. Dalam pengerjaannya, warga binaan terlibat secara langsung melalui tahapan yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan, mulai dari persiapan bahan, pengukuran, perakitan, hingga proses penyelesaian akhir. Setiap tahapan dilakukan dengan memperhatikan kerapian dan kualitas agar sofa yang dihasilkan dapat digunakan sesuai dengan fungsinya.
Dalam proses pembuatannya, warga binaan terlibat secara langsung mulai dari tahap persiapan bahan, pengukuran, perakitan rangka, hingga proses penyelesaian sofa. Setiap tahapan dilakukan dengan memperhatikan kerapian, ketelitian, dan kualitas hasil akhir agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik.
Kepala Subseksi Bimbingan Kerja Rutan Kelas IIA Ambon, Ode Ena, menyampaikan bahwa kegiatan pembuatan sofa merupakan salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan praktis dan pengalaman kerja. Melalui kegiatan ini, warga binaan didorong untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan, serta menghasilkan karya yang memiliki nilai manfaat.
“Pembinaan keterampilan ini menjadi wadah bagi warga binaan untuk mengembangkan potensi dan kreativitas mereka. Kami terus mendorong agar setiap proses pembinaan dapat memberikan pengalaman dan keterampilan yang bermanfaat sebagai bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujar Ode Ena.
Ia menambahkan bahwa pembinaan kerja tidak hanya berfokus pada hasil produk, tetapi juga pada pembentukan sikap disiplin, tanggung jawab, ketekunan, dan kemampuan bekerja sama. Dengan demikian, warga binaan diharapkan mampu memanfaatkan waktu selama menjalani masa pidana untuk mempelajari hal-hal positif dan produktif.
Sementara itu, warga binaan Anto yang terlibat dalam kegiatan pembuatan sofa mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan kesempatan baginya untuk mempelajari keterampilan baru sekaligus mengembangkan kemampuan dalam menghasilkan sebuah karya.
“Melalui kegiatan ini, kami bisa belajar dan mengasah keterampilan dalam membuat sofa. Kami juga belajar untuk lebih teliti, sabar, dan bertanggung jawab dalam setiap proses pengerjaan. Harapannya, keterampilan yang kami dapatkan bisa menjadi bekal yang berguna setelah kembali ke masyarakat,” ungkap Anto.
Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Meta Putra, menegaskan bahwa pembinaan kemandirian merupakan bagian penting dalam mendukung proses pemasyarakatan. Pihaknya terus berupaya memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas melalui berbagai kegiatan pembinaan yang produktif dan bernilai positif.
Menurutnya, hasil karya berupa sofa tersebut menjadi salah satu bentuk nyata dari proses pembinaan yang mendorong warga binaan untuk terus belajar, berinovasi, dan menghasilkan produk berkualitas. Selain meningkatkan keterampilan teknis, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
.
Melalui pembinaan keterampilan dan kreativitas yang berkelanjutan, Rutan Kelas IIA Ambon berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan potensi warga binaan agar mampu menghasilkan karya berkualitas, meningkatkan kemandirian, serta mempersiapkan diri untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat.

















