Garudapost.id-Wahai/Suasana khusyuk dan penuh kekeluargaan menyelimuti Musala At-Taubah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, Kamis (11/6) malam. Puluhan Warga Binaan berkumpul bersama jajaran petugas untuk melantunkan Surah Yasin dan berzikir bersama, memohon ketenangan jiwa serta keberkahan. Kegiatan malam Jumat ini terasa makin Istimewa sebagai persiapan menuju khatam Al-Qur’an pekan depan pada momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, mengatakan pembinaan spiritual merupakan fondasi utama dalam mengubah karakter Warga Binaan. Kegiatan keagamaan bukan sekadar rutinitas di balik jeruji besi, melainkan proses penyadaran mental dan moral.
“Yasinan dan rencana khatam Al-Qur’an nanti adalah ikhtiar kami agar Warga Binaan memetik hikmah Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah menjadi titik tolak hijrah mereka untuk membersihkan diri, merenungi kesalahan, dan menyiapkan bekal positif untuk kembali ke tengah masyarakat,” harap Tersih.
Hal senada disampaikan Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty S. Mouw. Ia menjelaskan antusiasme Warga Binaan dalam mengikuti Tadarus dan Yasinan terus meningkat dari pekan ke pekan.
“Persiapan khatam Al-Qur’an sudah mencapai tahap akhir. Kami melihat ada perubahan sikap yang signifikan. Mereka lebih disiplin, tenang, dan memiliki semangat tinggi untuk memperbaiki diri. Zikir bersama ini memberikan dampak psikologis yang luar biasa bagi stabilitas emosi Warga Binaan,” ungkap Merpaty.
Program kerohanian ini disambut baik oleh Warga Binaan. Salah seorang Warga Binaan berinisial AG mengungkapkan lantunan ayat suci memberikan kedamaian di hatinya.
“Membaca Surah Yasin bersama teman-teman dan petugas membuat hati kami jauh lebih tenang. Doa-doa yang kami panjatkan di malam Jumat menjadi pegangan hidup agar kami bisa lewati masa pidana ini dan menjadi orang yang lebih bermanfaat nantinya,” ujar AG.
Melalui program pembinaan yang konsisten ini, Lapas Wahai terus membuktikan komitmennya sebagai institusi Pemasyarakatan yang humanis dan transformatif. Tidak hanya membatasi ruang gerak, melainkan membina rohani agar Warga Binaan kembali ke masyarakat sebagai insan yang lebih bertakwa dan produktif.

















