WAMENA, Garudapost.id – Seorang pemuda asal kurulu, Yalimo Mabel, S.Tr.P., berhasil mengembangkan budidaya cabai rawit di Kampung Wikiloma, Desa Waga-Waga, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Usaha yang dirintis sejak 2023 itu menjadi bukti bahwa generasi muda dapat memanfaatkan ilmu pertanian untuk mengembangkan potensi lokal sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
Yalimo Mabel merupakan lulusan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia memilih kembali ke kampung halaman untuk mengembangkan sektor pertanian, khususnya budidaya cabai rawit.
Saat ditemui media di kawasan Kampung wikiloma pada Selasa (11/7/2026), Yalimo mengatakan usaha tersebut diawali dengan modal sekitar Rp500 ribu untuk membeli benih cabai rawit, melakukan penyemaian, hingga penanaman.
“Modal awal saya sekitar Rp500 ribu untuk membeli bibit, kemudian saya semai dan tanam sendiri,” ujarnya.
Dalam proses budidaya, Yalimo mengaku menghadapi berbagai tantangan, terutama serangan hama dan penyakit tanaman. Untuk mengatasinya, ia memilih menggunakan bahan-bahan alami sebagai upaya pengendalian yang lebih ramah lingkungan.
“Pengendalian hama dan penyakit menjadi tantangan terbesar. Karena itu saya menggunakan pola pengendalian dengan bahan-bahan alami,” jelasnya.
Menurut Yalimo, tanaman cabai yang saat ini dibudidayakan berasal dari hasil seleksi benih tanaman sebelumnya. Tanaman tersebut ditanam sejak September 2025, kemudian mulai memasuki masa panen perdana pada Januari 2026.
Dalam satu bulan, ia dapat melakukan panen hingga empat kali, dengan hasil setiap panen berkisar 4 hingga 6 kilogram cabai rawit.
Harga jual cabai di tingkat petani berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Namun, pada momen hari-hari besar keagamaan maupun perayaan tertentu, harga cabai biasanya mengalami kenaikan sehingga memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani.
Ke depan, Yalimo berencana memperluas lahan budidaya cabai rawit sekaligus mendorong masyarakat di Kampung Waga-Waga untuk ikut mengembangkan komoditas tersebut.
Ia bahkan berkomitmen membantu warga yang berminat dengan menyediakan bibit hasil semaiannya secara bertahap.
“Saya ingin memperluas kebun cabai. Kalau ada masyarakat di kampung yang ingin membudidayakan cabai rawit, saya siap membantu menyediakan bibit semai agar mereka juga bisa mengembangkan potensi pertanian lokal di wilayah ini,” katanya.
Melalui pengembangan budidaya cabai rawit, Yalimo berharap semakin banyak generasi muda dan petani di Jayawijaya yang memanfaatkan potensi pertanian sebagai sumber pendapatan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.(*)

















