MANOKWARI, Garudapost.id– Persekutuan Mahasiswa Visi Agape berkolaborasi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Komisariat GMKI STT Erikson Stritt menggelar seminar sehari bertajuk “Membentuk Mentalitas Pemimpin yang Berkarakter dan Takut Akan Tuhan”berdasarkan 1 Timotius 4:12, di Aula STT Erikson Stritt, Manokwari, Rabu (27/5/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua STT Erikson Stritt Dr. Syor Rumbekwan, D.Th, Wakil Ketua III Dr. Yehuda Mandacan, Ketua BEM STIH, pengurus Komunitas Anggi dan Demaisi, serta puluhan mahasiswa peserta seminar.
Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber yang dinilai berpengalaman di bidang kepemimpinan, pengembangan karakter, spiritualitas, dan motivasi generasi muda.
Evendi Binanti membawakan materi tentang motivasi dan pengembangan diri, Riko Rikson Iba menyampaikan dasar-dasar kepemimpinan, sementara Yenuson Rumaikeu membahas networking leadership atau kepemimpinan berbasis jejaring.
Selain itu, Pdt. Charles Thetol memaparkan materi mengenai ketahanan mental pemuda menghadapi tantangan globalisasi berdasarkan Roma 12:1. Jonison Derebi menyampaikan materi tentang tanggung jawab moral terhadap bumi berdasarkan Kejadian 2:15, sedangkan Jon Damanik membahas konsep *servant leadership* atau kepemimpinan yang melayani berdasarkan Markus 10:45.
Ketua BEM STT Erikson Stritt, Wilzon Mandacan mengatakan seminar tersebut merupakan bentuk kolaborasi mahasiswa dalam membangun kualitas kepemimpinan generasi muda yang berkarakter dan takut akan Tuhan.
Menurutnya, banyak mahasiswa memiliki potensi menjadi pemimpin, namun potensi tersebut perlu diarahkan melalui kegiatan edukatif dan positif.
“Kami melihat banyak mahasiswa memiliki potensi menjadi pemimpin. Karena itu penting untuk terus mengembangkan diri melalui kegiatan positif seperti seminar sehari ini,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa seminar menghadirkan pemateri yang memiliki pengalaman di bidang kepemimpinan dan spiritualitas sehingga mampu memberikan motivasi dan wawasan baru bagi peserta.
“Untuk mencapai tujuan tersebut kita harus selalu meng-update diri melalui kegiatan-kegiatan positif,” katanya.
Wilzon menjelaskan bahwa pendidikan terdiri atas tiga bagian, yakni formal, informal, dan nonformal. Pendidikan formal diperoleh melalui dunia akademik, informal berasal dari keluarga, sedangkan pendidikan nonformal diperoleh melalui berbagai kegiatan pengembangan diri.
“Pendidikan formal sudah kita dapatkan di dunia akademik, informal dari keluarga, sedangkan nonformal adalah pendidikan yang tidak dibatasi ruang dan waktu,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa aktif mengikuti berbagai organisasi kampus dan wadah pengembangan diri, mulai dari BEM, komunitas hingga persekutuan mahasiswa.
Menurutnya, tujuan utama seminar tersebut adalah membentuk mahasiswa menjadi pemimpin yang tangguh, bertanggung jawab, dan memiliki karakter Kristiani dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia kerja.
“Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai di masa depan kalau kita sungguh-sungguh belajar,” katanya.
Wilzon berharap seluruh peserta seminar dapat mengikuti kegiatan dengan baik sehingga memperoleh manfaat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua STT Erikson Stritt, Dr. Syor Rumbekwan, D.Th mengapresiasi inisiatif mahasiswa dalam menyelenggarakan seminar kepemimpinan tersebut.
Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi bagian penting dalam membentuk mentalitas, visi, dan karakter mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan.
“Membentuk berarti sebuah proses mempersiapkan mental, visi dan misi yang berkarakter Kristus untuk menjadi pemimpin, baik di dunia kampus maupun nanti di dunia kerja,” ujarnya.
Ia menegaskan pihak kampus akan terus mendukung berbagai kegiatan positif mahasiswa yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta membangun karakter kepemimpinan yang takut akan Tuhan.
“Oleh karena itu, sebagai orang tua di kampus kami siap mendukung dan berkontribusi bagi anak-anak mahasiswa,” tutupnya.(*)

















