Garudapost.id-Malteng/Di balik aktivitas peternakan masyarakat, ada satu hal yang tak boleh luput dari perhatian: kesehatan hewan. Sebab, penyakit pada hewan bukan hanya berdampak pada produktivitas dan ketahanan pangan, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan manusia.
Untuk itu, dalam kegiatan Pemantauan Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) Tahun 2026, dilakukan pemantauan terhadap Mycobacterium Tuberculosis Complex (MTBC), kelompok bakteri yang salah satunya dapat menyebabkan Bovine Tuberculosis (TBC pada sapi).
Kegiatan dilaksanakan di Kecamatan Kobisadar, Kabupaten Maluku Tengah, dengan target pemeriksaan sebanyak 25 ekor sapi. Pemantauan dilakukan melalui uji tuberkulin (Skin Test). Setelah penyuntikan, kondisi sapi diamati kembali dalam kurun waktu 72 jam untuk melihat respons terhadap uji tersebut.
Bukan sekadar pemeriksaan rutin, kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memperoleh data yang akurat mengenai status, situasi, tingkat kejadian, serta sebaran penyakit di berbagai wilayah Indonesia.
Lebih jauh, pemantauan MTBC merupakan bagian dari penerapan prinsip One Health, yaitu pendekatan yang melihat keterkaitan erat antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan. Pasalnya, MTBC memiliki sifat zoonosis, sehingga pengendalian penyakit pada hewan juga menjadi bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat.
Dari satu ekor sapi yang diperiksa, ada data yang dikumpulkan. Dari data tersebut, ada risiko yang dapat dipetakan. Dan dari pemetaan itu, langkah perlindungan dapat dilakukan lebih tepat. Karena menjaga kesehatan hewan hari ini, berarti turut menjaga kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan Indonesia.

















