MANOKWARI, Garudapost.id – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Papua (BEM UNIPA) menggelar diskusi publik dan pemutaran film dokumenter berjudul“Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”di Aula Universitas Papua, pada Rabu (15/4/2026).
Kegiatan ini menyoroti dampak proyek strategis nasional (PSN) serta praktik militerisme terhadap ruang hidup masyarakat adat di Papua Selatan.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Universitas Papua (UNIPA) tersebut dihadiri ratusan mahasiswa dan masyarakat umum yang tampak antusias mengikuti jalannya pemutaran film hingga diskusi. Dokumenter yang ditayangkan mengangkat realitas kehidupan masyarakat adat, seperti suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, yang menghadapi tekanan akibat ekspansi industri besar, mulai dari perkebunan sawit, tebu, hingga proyek energi berskala nasional.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Seli Aurora dari Mahardika, akademisi UNIPA Markus Bajari, S.E., M.M., Arnol Halitapo dari Pana Papua, Ketua BEM UNIPA Yenuson Rumaikeuw, Direktur LP3BH Manokwari Yan Christian Warinussy, S.H., serta Pdt. Melkianus Warfandu, S.Th.
Ketua BEM UNIPA, Yenuson Rumaikeuw, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang refleksi kritis bagi mahasiswa dalam memahami realitas sosial di Papua.
“Ini bukan sekadar nonton film, tetapi ruang belajar bersama untuk memahami apa yang sedang terjadi di tanah Papua,” ujarnya dalam forum diskusi.
Sementara itu, Direktur LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy, menyoroti lemahnya perlindungan hukum terhadap tanah adat di tengah arus kebijakan pembangunan nasional yang masif. Ia menilai, keberpihakan terhadap masyarakat adat masih menjadi tantangan serius dalam implementasi kebijakan negara.
Di sisi lain, akademisi UNIPA, Markus Bajari, memaparkan analisis ilmiah terkait dampak sosial dan lingkungan dari proyek-proyek berskala besar di Papua Selatan. Ia menekankan pentingnya kajian komprehensif sebelum pelaksanaan proyek agar tidak merugikan masyarakat lokal.
Pandangan kemanusiaan dan spiritual turut disampaikan oleh Pdt. Melkianus Warfandu yang mengajak peserta melihat persoalan tersebut sebagai isu moral dan keadilan. Menurutnya, pembangunan harus tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan martabat masyarakat adat.
Diskusi semakin hidup dalam sesi tanya jawab. Para peserta aktif menyampaikan pertanyaan serta pandangan kritis, mencerminkan tingginya kepedulian generasi muda terhadap isu lingkungan, hak asasi manusia, dan masa depan masyarakat adat di Papua.
Melalui kegiatan ini, BEM UNIPA berharap mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu berperan sebagai agen perubahan yang kritis serta berpihak pada keadilansosial di tanah Papua.
Penulis : Dominikus Lokobal
Editor : Julianus Sorabut
Sumber Berita: https//:Garudapost.id















