garudapost.id Pemalang, Jawa Tengah — Garudapost. id, 24 Oktober 2026 – Proyek revitalisasi TK Pertiwi yang berlokasi di Desa Siremeng, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, dengan nilai anggaran sebesar Rp532.631.000, menjadi sorotan terkait dugaan penggunaan material yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis dan petunjuk teknis (juknis) pekerjaan.
Sejumlah material yang digunakan dalam proyek pembangunan tersebut menjadi perhatian, terutama semen dan pasir pasang. Selain persoalan material, progres pembangunan yang dinilai lambat juga menimbulkan pertanyaan mengenai pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Semen Merek Bima Jadi Sorotan
Berdasarkan informasi yang diperoleh, proyek revitalisasi TK Pertiwi Siremeng diduga menggunakan semen merek Bima. Sementara itu, menurut informasi mengenai spesifikasi yang menjadi acuan proyek, semen yang digunakan seharusnya memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI), dengan contoh produk seperti Semen Gresik dan Semen Tiga Roda.
Penggunaan semen merek Bima tersebut menjadi perhatian dan perlu diklarifikasi lebih lanjut, terutama mengenai kesesuaian mutu produk dengan spesifikasi teknis yang tercantum dalam dokumen kontrak dan petunjuk pelaksanaan proyek.
Perlu dipastikan bahwa penilaian kesesuaian material tidak hanya didasarkan pada merek dagang, tetapi juga pada pemenuhan standar mutu serta persyaratan teknis yang ditetapkan dalam dokumen pekerjaan.
Pasir Pasang Berwarna Cokelat Diduga Mengandung Lumpur
Selain semen, material pasir pasang yang digunakan dalam pembangunan tersebut juga menjadi sorotan. Pasir yang terlihat berwarna cokelat diduga mengandung lumpur sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakannya untuk digunakan dalam pekerjaan konstruksi.
Pasir yang mengandung lumpur secara berlebihan dapat memengaruhi kualitas campuran mortar maupun pekerjaan pasangan, bergantung pada jenis dan tingkat kontaminasinya. Oleh karena itu, pengujian mutu material diperlukan untuk memastikan kesesuaiannya dengan persyaratan teknis proyek.
Saat dimintai konfirmasi mengenai penggunaan material tersebut, Kepala Sekolah TK Pertiwi Siremeng, Indianti, S.Pd., menjelaskan bahwa toko material di wilayah Siremeng tidak memiliki stok semen merek Tiga Roda dan Semen Gresik.
Terkait pasir pasang berwarna cokelat yang diduga mengandung lumpur, Indianti menyampaikan bahwa kondisi tersebut terjadi karena kesalahan dalam pembelian material. Menurut keterangannya, pasir tersebut harus dicampur kembali dengan pasir abu.
Keterangan tersebut menjadi salah satu informasi yang perlu ditindaklanjuti untuk memastikan apakah material yang digunakan telah memenuhi persyaratan mutu dan spesifikasi teknis yang berlaku.
Progres Pembangunan Dinilai Lambat
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah perkembangan pekerjaan proyek revitalisasi TK Pertiwi Siremeng yang dinilai berjalan lambat.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, setelah kurang lebih 40 hari kerja, progres pembangunan diperkirakan baru mencapai sekitar 30 persen.
Capaian tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pelaksanaan pekerjaan, terutama apabila dikaitkan dengan jadwal penyelesaian yang telah ditetapkan dalam kontrak.
Namun, untuk menilai apakah progres tersebut mengalami keterlambatan secara resmi, diperlukan informasi mengenai jadwal pelaksanaan, target progres setiap tahapan, masa kontrak, serta laporan kemajuan pekerjaan yang telah diverifikasi.
Perlu Pemeriksaan dan Klarifikasi Pihak Terkait
Dengan nilai anggaran mencapai Rp532.631.000, pelaksanaan proyek revitalisasi TK Pertiwi Siremeng perlu mendapatkan perhatian agar pembangunan berjalan sesuai dengan ketentuan, spesifikasi teknis, dan prinsip akuntabilitas penggunaan anggaran.
Pihak pelaksana proyek, konsultan pengawas, serta instansi terkait perlu memberikan penjelasan mengenai jenis material yang digunakan, kesesuaiannya dengan dokumen kontrak, dan penyebab lambatnya progres pekerjaan.
Pemeriksaan terhadap mutu semen dan pasir juga penting dilakukan oleh pihak yang berwenang agar persoalan tersebut dapat dinilai berdasarkan hasil pengujian dan dokumen teknis, bukan semata-mata berdasarkan pengamatan visual.
Hingga persoalan tersebut mendapatkan penjelasan menyeluruh, dugaan ketidaksesuaian material dan lambatnya progres pembangunan perlu ditempatkan sebagai persoalan yang masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Dengan demikian, kualitas bangunan yang nantinya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dapat dipastikan memenuhi persyaratan keselamatan dan kelayakan konstruksi.
Masyarakat berharap proyek revitalisasi TK Pertiwi Siremeng dapat diselesaikan sesuai jadwal, menggunakan material yang memenuhi spesifikasi, serta menghasilkan bangunan yang berkualitas demi menunjang kenyamanan dan keselamatan peserta didik.
Penulis : Eddy &
Editor : Red Jateng


















