WAMENA, Garudapost.id – Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas balim (UniBa) Papua, Aleanus Yogomaid, menyampaikan pernyataan sikap terkait pemanfaatan wilayah adat dan budaya Papua Pegunungan untuk kepentingan komersial.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis (23/7/2026), sebagai bentuk dukungan terhadap sikap sejumlah organisasi kepemudaan (OKP) Cipayung bersama elemen masyarakat Papua Pegunungan yang sebelumnya menyampaikan keberatan terhadap aktivitas pembuatan konten memasak oleh kreator konten Bobon Santoso di wilayah Papua Pegunungan.
Dalam pernyataannya, Aleanus menegaskan pentingnya penghormatan terhadap wilayah adat, budaya, serta nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Papua Pegunungan.
Ia menyampaikan sejumlah poin sikap sebagai berikut:
1. menolak eksploitasi wilayah adat untuk kepentingan komersial.Aleanus menilai pemanfaatan wilayah adat, tradisi, dan kehidupan masyarakat sebagai latar pembuatan konten untuk kepentingan pribadi maupun komersial harus memperhatikan nilai, norma, serta persetujuan masyarakat setempat.
“Kami menolak segala bentuk pemanfaatan wilayah, adat istiadat, dan kehidupan masyarakat Papua Pegunungan yang hanya dijadikan sarana memperoleh keuntungan pribadi. Papua memiliki martabat, sejarah, dan kearifan lokal yang harus dihormati,” tegas Aleanus.
2. Papua bukan sekadar objek tontonan atau komoditas konten. Menurutnya, Tanah Papua memiliki sejarah, budaya, dan hak-hak masyarakat adat yang perlu dihormati. Ia berharap aktivitas pembuatan konten di wilayah Papua tetap memperhatikan konteks sosial dan budaya masyarakat setempat.
3. kebebasan berkarya harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap etika dan hukum adat. Aleanus mengatakan setiap orang memiliki kebebasan untuk berkarya, tetapi kebebasan tersebut harus tetap menghormati norma sosial, etika, serta aturan adat yang berlaku di wilayah setempat.
“Menghargai kebebasan berkarya tidak boleh melanggar batas etika dan kehormatan. Setiap orang yang datang ke wilayah kami wajib menghormati tata krama, hukum adat, dan kepentingan warga setempat,” ujarnya.
4. mahasiswa dan pemuda Papua memiliki tanggung jawab menjaga warisan leluhur.** Aleanus menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga tanah, budaya, serta identitas masyarakat Papua dari berbagai bentuk eksploitasi yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat adat.
“Mahasiswa dan pemuda Papua berdiri tegak menjaga warisan leluhur. Kami tidak akan diam jika tanah dan budaya kami diinjak-injak demi kepentingan sepihak. Papua Pegunungan bukan tempat komersialisasi,” katanya.
5. mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga identitas Papua.Aleanus mengajak mahasiswa, pemuda, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh masyarakat Papua untuk bersama-sama menjaga jati diri, martabat, serta identitas budaya Papua.
“Saya mengajak seluruh mahasiswa, pemuda, dan masyarakat Papua untuk tetap bersatu menjaga jati diri bangsa. Jangan biarkan identitas kita luntur dan dieksploitasi oleh pihak luar,” tutupnya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari aspirasi yang disampaikan Aleanus mengenai pentingnya penghormatan terhadap masyarakat adat, budaya lokal, serta nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap aktivitas yang dilakukan di Tanah Papua.
Ia berharap setiap pihak yang melakukan kegiatan di wilayah Papua Pegunungan dapat membangun komunikasi dengan masyarakat setempat serta menghormati aturan dan nilai budaya yang berlaku(*).















