WAMENA, GARUDAPOST.ID – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jayawijaya Santo Fransiskus Asisi meminta polemik Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Distrik Wosilimo dan sejumlah wilayah lainnya diselesaikan melalui musyawarah adat.
Sekretaris Jenderal PMKRI Cabang Jayawijaya, Agustinus Silimo Mabel, menyampaikan sikap tersebut pada Kamis (27/8/2026).
PMKRI menilai pelaksanaan program cetak sawah yang tidak melibatkan tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh pemuda sejak awal berpotensi menimbulkan kesalahpahaman hingga konflik horizontal di tengah masyarakat.
“Kami melihat kehadiran program Cetak Sawah Rakyat perlu dibicarakan bersama dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat, terutama tokoh adat, agama, dan pemuda,” ujar Agustinus.
PMKRI mendorong para pihak yang berkepentingan untuk duduk bersama dan menyelesaikan persoalan berdasarkan mekanisme musyawarah adat serta mengedepankan kepentingan masyarakat.
PMKRI juga meminta tokoh intelektual, tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh pemuda di wilayah setempat menjadi bagian dari proses penyelesaian secara damai dan terbuka.
Selain itu, PMKRI mengimbau masyarakat Kabupaten Jayawijaya, khususnya Distrik Wosilimo, agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memperkeruh situasi.
“Persoalan ini harus diselesaikan secara baik melalui dialog dan musyawarah, bukan dengan tindakan yang dapat memecah persaudaraan masyarakat,” tegasnya.
PMKRI Jayawijaya berharap seluruh pihak mengutamakan kedamaian, persaudaraan, serta penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat dalam setiap pelaksanaan program pembangunan.(*)
“Pro Ecclesia et Patria.”

























