WAMENA, Garudapost.id — Satu honai laki-laki atau honai adat di Kampung Dukhigin, Desa Wenabuwaga, Distrik Libarek, Kabupaten Jayawijaya, terbakar pada Sabtu, 5 September 2026.
Kebakaran tersebut menghanguskan honai adat milik warga. Peristiwa itu terjadi pada malam hari dan diduga bermula ketika salah seorang warga menyalakan api di dalam honai untuk keperluan aktivitas sehari-hari.
Ivensius Alua, yang memberikan keterangan terkait kejadian tersebut pada Minggu (6/9/2026), menjelaskan bahwa setelah menyalakan api, orang tua tersebut sempat meninggalkan honai menuju dapur. Tidak lama kemudian, api diduga membesar dan merambat ke bagian lain bangunan.
“Api sudah meluap dan menyebar. Orang tua itu kemudian berteriak meminta pertolongan, sehingga warga kampung sekitar datang membantu memadamkan api,” jelas Ivensius.
Namun, upaya warga tidak berhasil menyelamatkan honai tersebut karena kebakaran api telah membesar dan meluap bangunan.
Menurut Ivensius, kondisi kemarau panjang yang sedang terjadi turut meningkatkan risiko kebakaran. Cuaca kering menyebabkan api lebih mudah membesar dan menyebar apabila tidak segera ditangani.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Jayawijaya melalui dinas terkait untuk turun langsung ke lokasi guna melihat kondisi masyarakat sekaligus mengambil langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
“Kami berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat turun langsung ke lokasi kebakaran dan melihat kondisi masyarakat. Pencegahan perlu dilakukan agar kejadian seperti ini tidak berulang di wilayah Jayawijaya,” ujarnya.
Ivensius juga mengingatkan pemerintah dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau panjang.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran rumah atau honai, tetapi juga dapat memicu kebakaran lahan dan hutan.
Ia menilai diperlukan penanganan yang lebih serius, terutama terhadap dampak kemarau panjang terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
“Situasi kemarau panjang perlu mendapat perhatian serius karena dapat berdampak terhadap lingkungan, ekosistem, sumber-sumber air, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan permukiman,” katanya.
Ia berharap pemerintah bersama masyarakat dapat memperkuat upaya pencegahan, edukasi dan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran selama musim kemarau, sehingga keselamatan warga, lingkungan dan sumber kehidupan masyarakat dapat tetap terjaga.(*)
Penulis : Julianus surabut
Editor : Admin
Sumber Berita: https//:Garudapost.id




























