Garudapost.id-Bandanaira/ Keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti produktif. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Bandanaira membuktikannya melalui pemanfaatan lahan dan ruang terbatas untuk budidaya pangan. Sebanyak 13 ikat selada hidroponik serta 15 ikat sawi hijau yang dibudidayakan secara konvensional berhasil dipanen, Senin (31/8).
Hasil panen tersebut bukan sekadar menghasilkan sayuran untuk dimanfaatkan, tetapi menjadi gambaran nyata arah pembinaan kemandirian yang dikembangkan Lapas Bandanaira. Di tengah kondisi geografis kepulauan dan keterbatasan ruang, Warga Binaan tetap diberikan kesempatan untuk belajar, bekerja, dan menghasilkan produk pertanian.
Panen dipimpin langsung oleh Kepala Lapas Bandanaira, Abdul Samad Rumuar, dan turut dihadiri Penyuluh Pertanian Kecamatan Banda, Alwi Arif; Danramil 1502-01/Banda, Kapten Cba. Zulkifli Ten; Kapolsek Banda, Iptu Muslim Renuf, dan Kacabjari Ambon di Banda Neira, Henry Siahaan.
Samad menegaskan bahwa pembinaan kemandirian harus menghasilkan keterampilan yang dapat dibawa Warga Binaan ketika kembali ke masyarakat. Ia menjelaskan, metode hidroponik dipilih sebagai salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan di lingkungan Lapas. Sementara itu, budidaya sawi secara konvensional tetap dilakukan sebagai bentuk pemanfaatan ruang yang tersedia secara optimal.
”Bagi kami, panen ini bukan hanya tentang berapa banyak sayuran yang berhasil dihasilkan. Yang lebih penting adalah bagaimana Warga Binaan mendapatkan pengalaman dan keterampilan nyata. Mereka belajar menanam, merawat, bertanggung jawab, sampai menghasilkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan,” tegas Samad.
Upaya Lapas Bandanaira tersebut mendapat apresiasi dari Penyuluh Pertanian Kecamatan Banda, Alwi Arif. Menurutnya, pemanfaatan hidroponik dan metode konvensional merupakan langkah tepat untuk mengoptimalkan potensi lahan yang terbatas.
”Kami mengapresiasi Lapas Bandanaira yang sudah memanfaatkan ruang yang tersedia untuk kegiatan pertanian. Hidroponik sangat cocok dikembangkan pada kondisi lahan terbatas, sedangkan metode konvensional dapat diterapkan pada ruang yang memungkinkan. Ini merupakan kegiatan positif yang perlu dijaga keberlanjutannya,” katanya.
Dukungan serupa disampaikan Kacabajri Ambon di Banda Neira, Henry Siahaan. Ia menilai komitmen Lapas Bandanaira dalam mengembangkan pembinaan kemandirian melalui kegiatan produktif merupakan langkah konkret dalam mendukung ketahanan pangan.
”Kami sangat mengapresiasi upaya Lapas Bandanaira dalam mendukung program ketahanan pangan. Meskipun berada di wilayah dengan keterbatasan lahan dan akses, Lapas mampu mengembangkan kegiatan produktif yang manfaatnya dapat dirasakan oleh Warga Binaan maupun masyarakat,” ujar Henry.
Salah seorang Warga Binaan yang terlibat dalam proses budidaya, Adi, mengaku mendapatkan pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan pertanian.
”Awalnya kami melihat menanam itu sederhana, tetapi ternyata harus teliti dan sabar. Kami harus memperhatikan tanaman setiap hari sampai akhirnya bisa dipanen. Kami senang karena hasil kerja kami bisa menghasilkan sesuatu,” tuturnya.
Panen selada hidroponik dan sawi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan di Lapas tidak harus selalu identik dengan keterbatasan. Dengan kreativitas, pendampingan, dan pemanfaatan ruang secara tepat, lingkungan Lapas dapat menjadi tempat tumbuhnya keterampilan dan produktivitas.

























